Rindu
Rindu rumahmu yaa Allah .. Rasanya pengen pergi haji tahun 2020 pakai visa dari negri teluk ... Bismillah semoga di ijabah Aamiin
Agar Cahaya Ilmu tidak padam
Imam Waqi' rahimahullah berkata : Ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah bukan untuk pendosa
Selayaknya cahaya yang bersifat dinamis adakalanya cahaya menjadi terang menyinari, sebentar berpendar temaram, kadang redup, bahkan sangat mungkin untuk padam. Begitu juga dengan ilmu ia haruslah senantiasa dijaga agar tidak padam
dan kata Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc (ustadz yang berwajah teduh, bertutur kata lembut dan santun dengan ilmu yang luas dan penjelasan yang detail serta mudah dipahami ini, idolaque dah ustadz Nuzul Dzikri :D ... Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu merahmati, dan memberikan kebekahan kepada beliau)
Ada beberapa ciri pudarnya cahaya ilmu :
1. Malas untuk datang ke majelis ilmu
2. Kurangnya keinginan untuk mengamalkan
3. Ilmu yang kurang bermanfaat
4. Ilmu yang tidak disampaikan lagi
Jadi bagaimana cara agar menjaga dan mempertahankan cahaya ilmu tersebut?
Caranya adalah dengan menata hati dan menjaga adab... jawabannya di bahas lengkap di video diatas :)
Semoga kita semua selalu dimudahkan oleh Allah Ta'ala untuk dapat hadir dan betah berada di taman-taman surgaNya (Majelis Ilmu)
#sedih sekali 2 bulan sudah kajian kami tidak mendapat tempat lagi di kota ini :( semoga Allah mudahkan,
Tentang Bayang-Bayang
Kita hidup diselimuti dengan bayang-bayang, bayang-bayang atas setiap perbuatan yg tak pernah luput dari catatan. Dan bayang-bayang kehidupan setelah kematian. [yAn]
3 syawwal 1438 hijriah
Tentang Lisan
Tidaklah keluar dari lisan seorang mukmin kecuali kebaikan demi kebaikan. Kata-kata ini kiranya yang dalam 2 tahun terakhir ini selalu saya pegang erat.
Moment idul fitri yg seharusnya menjadi pengikat erat tali silaturrahim, sering kali dibumbui dengan pertanyaan basa basi yg ternyata menikam hati. Apalagi jika sampai menuju kepada ghibah dan naudzubillah lagi fitnah.. benarlah kiranya jika diam itu adalah emas.. Mending nyemilin kue kue aja sambil bilang hmm ini enak :D
3 syawwal 1438 Hijriah..
Peringatan untuk diri sendiri
Ighfirly yaa Rabb
Siapa kita?
Kita adalah pemburu Surga dan buruannya Neraka.. jadi, bagaimana bisa tidur nyenyak jika terus menerus dihimpit oleh bayang-bayang keduanya... Sungguh, hanyalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala satu-satunya tempat bergantung dan meminta pertolongan. Hanya saja diri ini sering ingkar terhadapNya .. Ighfirly Yaa Rabb :(
Senja menjelang ifthar, 27 Ramadhan 1438
Senja menjelang ifthar, 27 Ramadhan 1438
I want paint again
Hei, kemarilah kuas
Hanya kau lah yang dapat
Mengerti apa yang kurasakan saat ini
Mari kita menari bersama dengan warna
Ya, benar sekali
Warna warna kehidupan yang akan selalu menjadi misteri
*Main sama cat air lagi, walaupun sedikit failed setelah sekian lama gak dilatih :D
Tentang Firasat
Surah Al-Qashash kembali lagi "menyapa" saya. Kali ini melalui tayangan di televisi acara Khalifah Trans 7 yang dibawakan oleh ustadz Budi Ashari yang bertema tentang firasat dan lagi-lagi bahasannya adalah tentang Shofura, putri Nabi Syu'aib as perempuan malu nan mulia itu.
Firasat adalah suara hati yang hadir dan ternyata benar terjadi dikemudian hari, hal tersebut dikarenakan seseorang yang memiliki firasat tersebut memandang sesuatu dengan cahaya Allah Subhanahu Wa Ta'ala (Ust. Budi Ashari)
Dari Sahabat mulia Abdullah bin Mas'ud ra menyebutkan bahwa terdapat tiga orang dalam sejarah islam yang paling kuat dan benar firasatnya. Yang menarik adalah satu diantara ketiga orang yang disebutkan tersebut adalah perempuan. Disebutkan bahwa ia adalah perempuan Negeri Madyan yaitu putri Nabi Syu'aib yang bernama Shofura yang memiliki firasat terhadap Nabi Musa as.
Ketika Nabi Musa tidak sengaja membunuh seorang Qibty (suku asli Mesir). Nabi Musa as berlari tanpa tujuan yang pasti untuk menghindari hukuman Fir'aun. Hingga tibalah Nabi Musa as di sebuah Negeri yang bernama Madyan. Dalam keadaan lelah Nabi Musa as kemudian beristirahat di dekat sumber air yang menjadi tempat untuk memberikan minum kepada ternak penggembala. Pada saat itu Nabi Musa as melihat dua perempuan penggembala yang terlihat berada di belakang.
Dan tatkala ia sampai di sumber air Negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan ternaknya, dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata, "Apakah maksudmu dengan berbuat begitu?" kedua perempuan itu menjawab, "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang Ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. (QS. Al-Qashash : 23)
Nabi Musa as kemudian membantu perempuan tersebut untuk memberikan minum kepada ternaknya. setelah membantu kedua perempuan tersebut Nabi Musa as duduk dibawah pohon seraya berdo'a kepada Allah Ta'ala.
Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". (QS. Al-Qashash : 24)
Ayah kedua perempuan tadi merasa heran karena kedua putrinya pulang lebih cepat daripada biasanya. Namun Nabi Syu'aib as baru paham setelah keduanya menceritakan tentang Nabi Musa as dan kejadian yang telah mereka alami. Maka, orang tuanya memerintahkan putrinya untuk mengundang Nabi Musa as kerumahnya. dan inilah rupanya jawaban Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas do'a Nabi Musa as.
Kemudian salah seorang dari kedua perempuan itu datang berjalan malu-malu kepada Musa, ia berkata, "Sesungguhnya Ayahku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)-mu memberi minum ternak kami"...(QS. Al-Qashash : 25)
Dan tentang firasat perempuan Negeri Madyan tersebut terhadap Nabi Musa as diabadika Allah Ta'ala dalam Al-Qur'anul karim
"Wahai Ayahku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja(pada kita) ialah orang yang kuat lagi amanah (dapat dipercaya)". (QS. Al-Qashash : 26)
Kuat dan Amanah inilah yang menjadi tanda firasat dan dibaca oleh perempuan Negeri Madyan tersebut sebagai keadaan tentang Nabi Musa as dikemudian harinya. Kuat, karena Nabi Musa as menolong perempuan tersebut pada saat ingin memberikan minum pada ternaknya, sumber air ditutup oleh batu besar yang diperlukan beberapa lelaki untuk mengangkatnya. sedangkan Nabi Musa as cukup seorang diri saja sudah cukup kuat untuk mengangkat batu tersebut. sedangkan Amanah, ketika perempuan tadi sudah pulang kerumah, kemudian diutus kembali oleh sang ayah untuk mengundang Nabi Musa as kerumah mereka. pada saat di padang pasir Nabi Musa as dan Shofura hanya berjalan berdua, Nabi Musa as sangat menjaga pandangan dan dirinya dari perempuan tersebut inilah sifat Amanah yang terbaca.
Para ahli tafsir sependapat bahwa dikemudian hari perempuan Negeri Madyan yang memiliki firasat inilah yang menikah dengan Nabi Musa as.
Berkatalah dia (Syu'aib), "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengans alah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik". (QS. Al-Qashash : 27)
Dan benarlah sesuai firasat perempuan Negeri Madyan tersebut Nabi Musa as bekerja dengan sangat baik bersifat kuat (qowiy) lagi terpercaya (amiin).
Dalam sejarah terdapat banyak hamba Allah yang Sholih dan Sholihah yang memiliki kebenaran dalam berfirasat, apabila ia berkata sesuatu maka dengan ijin Allah Subhanahu Wa Ta'ala hal tersebut benar terjadi. Diantaranya adalah seorang ahli ibadah Syaikh Abdu Syuja' Al Kirmani rahimallah.
Syaikh Syuja' Al Kirmani berkata :
"Barang siapa penampilan lahiriahnya mengikuti sunnah, batinnya selalu sadar akan Allah Ta'ala, Pandangannya selalu dijaga dari hal-hal yang haram, selalu mengekang nafsunya dari syahwat dan selalu memakan makanan yang halal, pasti firasatnya tidak akan meleset"..
Syaikh Syuja' Al Kirmani disebutkan dalam riwayat adalah orang yang tidak pernah meleset dalam berfirasat.
"Maka jika hari ini kita mendengar ada orang yang berfirasat, haruslah kita lihat dahulu apakah orang tersebut orang beriman? dan yang menjadi tolak ukurnya adalah apa yang dikatakan oleh Syaikh Al Kirmani tadi" (Ust. Budi Ashari)
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-An'am ayat 122 ;
Dan apakah orang yang sudah mati lalu kami hidupkan dan kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan ditengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan , sehingga dia tidak dapat keluar dari sana?.........
Orang yang hidup dalam cahaya Allah tentulah berbeda dengan orang yang hidup dalam kegelapan. Maka, orangyang hidup dengan cahaya itulah salah satu yang Allah berikan keistimewaan di muka bumi ini adalah ketika Allah Ta'ala memberika dia firasat, dia memandang sesuatu dengan cahaya Allah Subhanahu Wa Ta'ala , Wallahu'alam bi Shawab
Mamak
Masih teringat jelas dalam memori otak saya akan sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga. Disampaikan dengan penuh keteladanan oleh seorang pahlawan dalam hidup saya yaitu Mamak.
Kala itu adalah hari pertama saya masuk sekolah dasar di bangku kelas tiga. Suasana baru bukan hanya terasa dari kelas baru ataupun guru baru, namun juga waktu belajar di sekolah yang lebih lama menjadi pengalaman baru bagi kami yang masih anak-anak.
Jika pada saat kelas dua sekolah berakhir pada jam 10. Di kelas 3 ini kami baru pulang pada jam 01.00 siang. Dan jika pada saat kelas dua kami hanya istirahat 1 kali di kelas 3 ini istirahatnya menjadi 2 kali. Maka terbayanglah dibenak kami yang biasanya jam 10 sudah pulang ke rumah dengan segelas susu dan cemilan sudah terhidang di meja kemudian tak lama setelahnya telah tersaji makan siang, kali ini setelah kelas 3 hal-hal tersebut tidak akan pernah terjadi lagi.
Untuk mengantisipasi perut keroncongan di tengah jam pelajaran beberapa kawan memamerkan uang saku mereka yang telah dinaikkan dari sebelumnya. Ramai sekali celoteh mereka di depan kelas "aku sekarang sangunya 700 rupiah loh", "waah kalau aku sekarang jadi seribu rupiah".
Beberapa kawan lagi membawa bekal berupa nasi ataupun kue kue atau biskuit. Saya termasuk yang membawa bekal kue. Pagi tadi mamak sudah memasukkan beberapa potong lapis legit di kotak bekal. Saya sempat keheranan kenapa begitu banyak kuenya hingga hampir penuh isi kotak bekal saya. Mamak berkata kalau kuenya banyak, saya bisa membaginya dengan teman-teman ataupun bapak dan ibu guru di sekolah. "Kan senang kalau dimakannya ramai-ramai" kata mamak. Disaat dewasa saya baru menyadari kalau ternyata mamak mengajarkan kepada saya untuk senang berbagi.
Tak lama setelah itu, dipagi hari saya berangkat sekolah bersama mamak menggunakan sepeda motor dinas. Biasanya sih kami berbonceng bertiga dengan ayah, namun pada saat itu ayah sedang mendapatkan tugas diluar kota selama sepekan. Ditengah perjalanan kami bertemu dengan seorang ibu yang tengah berjalan kaki. Kami mengenali ibu tersebut karena beliau adalah tetangga kami, seorang guru disebuah SMP Negri, biasanya beliau berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Mamak pun menghentikan kendaraan dan bertanya kenapa ibu tersebut berjalan kaki. Rupanya sepeda motor beliau kala itu sedang rusak. Mamak dengan senang hati menawarkan tumpangan kepada Ibu tersebut dan gayung pun bersambut, ibu itu menerima tawaran dari mamak. Pada saat dewasa barulah saya menyadari dari peristiwa itu mamak telah mengajarkan saya untuk lebih peduli.
Terima Kasih mamak, dirimu telah mengajarkan keteladanan akan sikap-sikap baik. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala selalu melimpahkan keberkahannya kepadamu.
*Saat malam ini mamak minta dipijit tiba-tiba memori dimasa lalu itu berkelindan ramai dalam otak saya :)
Tak lama setelah itu, dipagi hari saya berangkat sekolah bersama mamak menggunakan sepeda motor dinas. Biasanya sih kami berbonceng bertiga dengan ayah, namun pada saat itu ayah sedang mendapatkan tugas diluar kota selama sepekan. Ditengah perjalanan kami bertemu dengan seorang ibu yang tengah berjalan kaki. Kami mengenali ibu tersebut karena beliau adalah tetangga kami, seorang guru disebuah SMP Negri, biasanya beliau berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Mamak pun menghentikan kendaraan dan bertanya kenapa ibu tersebut berjalan kaki. Rupanya sepeda motor beliau kala itu sedang rusak. Mamak dengan senang hati menawarkan tumpangan kepada Ibu tersebut dan gayung pun bersambut, ibu itu menerima tawaran dari mamak. Pada saat dewasa barulah saya menyadari dari peristiwa itu mamak telah mengajarkan saya untuk lebih peduli.
Terima Kasih mamak, dirimu telah mengajarkan keteladanan akan sikap-sikap baik. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala selalu melimpahkan keberkahannya kepadamu.
*Saat malam ini mamak minta dipijit tiba-tiba memori dimasa lalu itu berkelindan ramai dalam otak saya :)
Perempuan Malu nan Mulia itu Bernama Shofura
Adalah Shofura yang menjauh dari antrian para penggembala lelaki saat hendak memberikan minum ternak-ternaknya. Shofura beserta Laya saudara perempuannya rela menepi menunggu antrian penggembala lelaki memuaskan dahaga ternak mereka. Hingga tiba saat Nabi Musa as mewakilkan antrian mereka.
Adalah Shofura yang berjalan dengan malu dan berkata-kata singkat sesuai pesan Bapaknya untuk mengundang Nabi Musa as kerumahnya sebagai balasan pertolongan yang telah dilakukan Nabi Musa as.
Adalah Shofura yang ketika mengantarkan Nabi Musa as, ia berjalan di belakang Nabi Musa as. Kerikil demi kerikil ia lemparkan sebagai penunjuk jalan tanpa menggunakan kata-kata demi menjaga lisannya dari fitnah.
Adalah Shofura perempuan mulia nan bersifat malu inilah yang telah menjadi perantara atas jawaban do'a Nabi Musa, juga dikemudian hari menjadi istri Sang Nabi.
Terima kasih Shofura, Engkau telah mengajarkan kami bagaimana selayaknya perempuan memiliki rasa malu dalam bersikap. [yAn]
==========================
Entah mengapa satu minggu ini sekelebat surah Al-Qashash ayat 25 begitu sering "menyapa" saya. Berawal dari postingan di akun facebook ustadz Salim A Fillah yang sempat saya tuliskan disini, ketika mendengar kajian rutin rekaman suara Ustadz Budi Ashari pun membahas tentang sifat malunya perempuan yang di bahas di surah Al-Qashash ayat 25, saat iseng buka-buka majalah lama Muslimah ketemunya juga tentang kisah Shofura dan Laya ini. kemudian waktu baca kitabnya Ibnu Katsir Rahimahullah ketemunya juga kisah Al-Qashash ayat 23-25. Ada apa ini ya? Apakah Allah Subhanallahu Wa Ta'ala sedang memperingatkan saya untuk bersifat malu? kalau saya pikir-pikir sepertinya saya sudah cukup pemalu kok, walaupun lebih sering malu-maluin hehehe.
Antara surah Al Qashsah dan surah Yusuf
Pagi ini saya menemukan tulisan bagus dari akun facebooknya Ustadz Salim A. Fillah judulnya
Si TAMPAN dan Si GAGAH
@salimafillah
"Surat Yusuf dibuka Allah dengan kalimat, 'Nahnu Naqushshu 'Alaika Ahsanal Qashash', Kami ceritakan padamu sebaik-baik kisah", tutur Brother Nouman Ali Khan di hadapan Syaikh Fahd Salim Al Kandary. "Dan bukankah di dalam Al Quran ada Surat Al Qashash? Maka apakah hubungan di antara keduanya?"
Ya.
Surat Yusuf mengisahkan seorang anak yang dibuang ke dalam sumur. Surat Al Qashash menceritakan seorang bayi yang dilarung ke dalam Sungai Nil.
Surat Yusuf menyebutkan sebab dibuangnya adalah bisik-bisik syaithan kepada sekelompok saudara sang bocah yang diamuk dengki. Surat Al Qashash mempersaksikan bahwa si mungil itu dibuang atas bimbingan wahyu Allah.
Surat Yusuf mengisahkan bahwa para kakak lelaki adalah sebab perpisahan dengan orangtua. Surat Al Qashash menceritakan bahwa kakak perempuan adalah sebab pertemuan kembali sang bayi dengan si ibu yang kan menyusui.
Surat Yusuf fokus menggambarkan sang Ayah; sedihnya, tangisnya, aduannya kepada Allah, bahkan sejak sang bocah mengisahkan mimpi yang dia tahu akan menyebabkan masalah jika didengar anak-anaknya yang lain. Surat Al Qashash konsentrasi melukiskan Sang Ibu; dukanya, galaunya, doanya; sejak dia melahirkan di suasana adanya Raja yang membunuh bayi-bayi, juga karena mimpi.
Di Surat Yusuf kita bertanya, "Di mana ibunya?", dan di Surat Al Qashash kita bertanya, "Di mana ayahnya?" Seakan keduanya bergabung memberi pelajaran berpasangan pada para ayah dan para ibu.
Dalam Surat Yusuf, perpisahan dengan ayah akan berlangsung bertahun-tahun lamanya. Dalam Surat Al Qashash perpisahan dengan sang ibu hanya akan terjadi beberapa saat saja.
Dalam Surat Yusuf, yang menemukan si bocah di pasar budak adalah seorang Pria Bangsawan, Al 'Aziz. Dalam Surat Al Qashash yang menemukan si bayi adalah Sang Permaisuri, Imra'atu Fir'aun.
Kedua penemu, baik di Surat Yusuf maupun Surat Al Qashash sama-sama berkata, "'Asaa an yanfa'anaa aw nattakhidzahu walada... Boleh jadi dia akan bermanfaat bagi kita, atau kita ambil saja dia sebagai anak." Yusuf menjadi manfaat dengan dijadikan budak. Musa menjadi Pangeran dengan dijadikan anak.
Kedua anak itu akhirnya tumbuh dewasa, dan keduanya diuji oleh Allah. Yusuf diuji di dalam istana tuannya, dengan ujian nafsu syahwat. Musa diuji di luar istana ayah angkatnya, dengan nafsu amarah.
Yusuf tidak bersalah dalam peristiwa yang menimpanya, sedang Musa dalam Surat Al Qashash bersalah hingga membunuh dalam kejadian yang dialaminya. Keduanya punya saksi. Saksinya Yusuf meringankannya dengan menunjuk baju yang sobek di belakang. Saksinya Musa justru menariknya untuk khilaf nyaris kedua kalinya. Tapi akhirnya Yusuf yang tak bersalah justru masuk penjara, sementara Musa yang bersalah lolos melarikan diri ke Madyan.
Kisah Yusuf bermula di luar Mesir, dan berakhir di Mesir. Kisah Musa bermula di Mesir, dan berakhir di luar Mesir.
Masyaallah. Saya tulis tadabbur menakjubkan ini dalam bahasa bebas dengan penambahan dengan pengurangan, seiring dengan kekaguman Syaikh Fahd Al Kandary yang telah menghafal Al Quran sejak usia 15 tahun.
Tabaarakarrahman, aktsarallaahu amtsalak ya Ustadz Nouman Ali Khan.
Dari kaitan kisah Si Tampan Yusuf dan Si Gagah Musa, tiadakah kita tergerak untuk kian menyimak kisah dan perumpamaan dari Kitab yang menakjubkan?
============================
sebenarnya ada bagian yang paling sering menjadi catatan penting dalam hidup saya yang terdapat dalam dua surah menakjubkan ini. sebuah bab yang sangat penting bagi kaum hawa yaitu bab "malu".
Disurah Al Qashash ada perempuan mulia nan bersifat malu karena iman di dalam dada, di surah Yusuf ada perempuan bertahta emas dan permata yang menanggung malu karena telah menjadi tawanan oleh nafsunya. [yAn]
Perempuan dalam surah Al Qashash itu ialah anak Nabi Syua'ib yang dikemudian hari menjadi istri Nabi Musa 'alaihisallam. hal ini diterangkan dalam surah Al Qashash ayat 25
Sedangkan perempuan dalam surah Yusuf adalah istri sang Al 'Aziz yang mengasuh Nabi Yusuf setalah lepas dari perbudakan. Zulaikha mempunyai ketertarikan khusus kepada Nabi Yusuf 'Alaihissallam hingga ingin melakukan perbuatan tercela itu, hal ini diterangkan dalam surah Yusuf ayat 23.
Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini”. Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.
(QS: Yusuf Ayat: 23)
Saya Bahkan Lupa
"Cintaaa, IG (media sosial Instagram) kamu udah kayak rumah hantu, banyak sarang laba-laba, gak pernah update"
Hahaha seorang sahabat baik mengingatkan saya kalau saya mempunyai akun media sosial Instagram. Hampir setahun belakangan ini saya memang mengurangi banyak porsi untuk waktu main dimedia sosial, rasanya lumayan damai dan segar saja ketika tidak terlalu candu dengan medsos paling hanya whatsapp karena wa lebih ke personal chat atau twitter ketika saya sedang penasaran berita apa yang sedang hangat. Dan disisi lain yang menjadi alasan paling tepatnya sinyal di tempat saya masih 3G kawan, agak malas juga menunggu putaran loading ketika membuka facebook misalnya yaah cukup memakan banyak waktu.
Baiklah, karena sahabat baik saya menyinggung nyinggung masalah IG saya rasa tak ada salahnya membuka IG sejenak. Apalah IG saya postingannya hanya 2 foto hehe.
Dan tak disangkanya di IG yang saya anggap sepi itu ternyata ada sekitar 5 tag foto dari kawan2 saya. Ada yang tentang informasi Kalimantan, beberapa pesanan design yang telah saya buat, ada yang hanya sekedar iseng foto meme, dan hey.. ada 1 tag yang menarik dari adik tingkat saya.
Setelah membaca tulisan ini saya terdiam sesaat. Rasanya terharu sekali T_T Terima Kasih kembali, Terima Kasih sudah mengingat dengan baik. saya bahkan lupa atas apa yang telah saya lakukan terhadap adik tingkat ini.
Saya jadi teringat beberapa hari yang lalu seorang kawan mengupload status di whatsapp yang berbunyi "Bahwa perempuan itu adalah pengingat yang baik" sepertinya statment itu tidak berlaku untuk saya. Saya lebih banyak lupa, lebih tepatnya saya segera melupakannya.
Hahaha seorang sahabat baik mengingatkan saya kalau saya mempunyai akun media sosial Instagram. Hampir setahun belakangan ini saya memang mengurangi banyak porsi untuk waktu main dimedia sosial, rasanya lumayan damai dan segar saja ketika tidak terlalu candu dengan medsos paling hanya whatsapp karena wa lebih ke personal chat atau twitter ketika saya sedang penasaran berita apa yang sedang hangat. Dan disisi lain yang menjadi alasan paling tepatnya sinyal di tempat saya masih 3G kawan, agak malas juga menunggu putaran loading ketika membuka facebook misalnya yaah cukup memakan banyak waktu.
Baiklah, karena sahabat baik saya menyinggung nyinggung masalah IG saya rasa tak ada salahnya membuka IG sejenak. Apalah IG saya postingannya hanya 2 foto hehe.
Dan tak disangkanya di IG yang saya anggap sepi itu ternyata ada sekitar 5 tag foto dari kawan2 saya. Ada yang tentang informasi Kalimantan, beberapa pesanan design yang telah saya buat, ada yang hanya sekedar iseng foto meme, dan hey.. ada 1 tag yang menarik dari adik tingkat saya.
Setelah membaca tulisan ini saya terdiam sesaat. Rasanya terharu sekali T_T Terima Kasih kembali, Terima Kasih sudah mengingat dengan baik. saya bahkan lupa atas apa yang telah saya lakukan terhadap adik tingkat ini.
Saya jadi teringat beberapa hari yang lalu seorang kawan mengupload status di whatsapp yang berbunyi "Bahwa perempuan itu adalah pengingat yang baik" sepertinya statment itu tidak berlaku untuk saya. Saya lebih banyak lupa, lebih tepatnya saya segera melupakannya.
Berbuat baiklah yang banyak, kemudian segera lupakan. - itu pesan mamak saya sejak saya masih kecil
Pekuburan Baqi’ di Madinah : Bolehkah Perempuan Memasukinya?
Dimasa Nabi wilayah pekuburan itu
terletak di Timur Madinah dekat dengan tanah vulkanik waqim, bernama Baqi’
Al-Gharqad, terlihat sederhana. Fadhalah menuturkan, “Rasulullah
memerintahkan kita meratakan kuburan” diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad. Adapun
Nabi suka membuat tanda di atas kuburan berupa batu. “Tanda
memang tidak mendatangkan manfaat juga mudarat. Tetapi, ia dapat menyejukkan
mata yang hidup. Lagi pula, bila seorang hamba mengerjakan sesuatu, Allah
senang ia menyempurnakannya” begitulah sabda Beliau.
Pada saat ini Baqi’ menempel dengan
halaman Haram (Masjid Nabawi) dari arah timur, dan telah mengalami perluasan
berkali-kali. Sehingga mudah sekali bagi jamaah untuk berziarah ke makam Baqi’.
Catatan sejarah menuliskan bahwa terdapat sekitar sepuluh ribu Sahabat Mulia, kemudian para Tabi’in, serta keluarga Rasulullah yang di makamkan disana, itulah yang yang membuat Baqi’ begitu istimewa pun mendapatkan do’a serta jaminan dari Rasulullah agar para penghuni Baqi’ dapat berkumpul bersama Beliau dan Abu Bakar serta Umar radhiyallahu ‘anhuma pada hari kiamat.
Adapun Nabi bersabda “Akulah orang pertama yang dikeluarkan dari belahan bumi pada hari Kiamat kemudian Abu Bakar kemudian Umar kemudian aku mendatangi penghuni Baqi’ merekapun dikumpulkan bersamaku. Kemudian aku menanti penduduk Mekkah, maka aku akan dikumpulkan di antara dua Tanah Haram” dalam riwayat lain Rasulullah juga bersabda “Apakah Kamu melihat pekuburan ini yakni Baqi’, Allah akan membangkitkan darinya tujuh puluh ribu pada hari Kiamat dalam rupa bulan purnama, mereka masuk surga tanpa hisab”.
Inilah kiranya yang membuat hati kaum muslimin yang mengetahui dan memahaminya condong hatinya kepada tempat ini. Demikian juga dengan ayah saya yang memiliki cita-cita dapat meninggal di Madinah dan dimakamkan di Baqi.
Catatan sejarah menuliskan bahwa terdapat sekitar sepuluh ribu Sahabat Mulia, kemudian para Tabi’in, serta keluarga Rasulullah yang di makamkan disana, itulah yang yang membuat Baqi’ begitu istimewa pun mendapatkan do’a serta jaminan dari Rasulullah agar para penghuni Baqi’ dapat berkumpul bersama Beliau dan Abu Bakar serta Umar radhiyallahu ‘anhuma pada hari kiamat.
Adapun Nabi bersabda “Akulah orang pertama yang dikeluarkan dari belahan bumi pada hari Kiamat kemudian Abu Bakar kemudian Umar kemudian aku mendatangi penghuni Baqi’ merekapun dikumpulkan bersamaku. Kemudian aku menanti penduduk Mekkah, maka aku akan dikumpulkan di antara dua Tanah Haram” dalam riwayat lain Rasulullah juga bersabda “Apakah Kamu melihat pekuburan ini yakni Baqi’, Allah akan membangkitkan darinya tujuh puluh ribu pada hari Kiamat dalam rupa bulan purnama, mereka masuk surga tanpa hisab”.
Inilah kiranya yang membuat hati kaum muslimin yang mengetahui dan memahaminya condong hatinya kepada tempat ini. Demikian juga dengan ayah saya yang memiliki cita-cita dapat meninggal di Madinah dan dimakamkan di Baqi.
| Pekuburan Baqi' |
“Jadi ayah sudah ke Baqi?” saya bertanya kepada ayah disela
makan siang kami. “Iya, sudah. Dua hari ini ba’da ashar ayah selalu ke Baqi”
jawab ayah. Waah sayapun berkeinginan untuk kesana menziarahi Khalifah
Utsman bin Affan yang terkenal dengan kelembutan hatinya, Sahabat Abdurrahman
bin Auf sang pedagang sukses nan dermawan, Saad bin Abi Waqqash sang pemanah
ulung serta ingin mengucapkan salam kepada Ummahatul Mukminin para istri-istri Nabi nan
Shalihah. “Perempuan boleh tak Yah masuk kesana?” mengingat saya pernah
mendengar selentingan kabar bahwa di Arab perempuan tidak diijinkan untuk masuk
ke wilayah pekuburan sayapun bertanya kembali. “Kayaknya nggak ada, tapi
nanti bisa kita liat, kalau mau, ayah tunggu setelah sholat ashar di bawah payung
di dekat pintu 35”. Baiklah, tak ada salahnya mencoba. Belum apa-apa hati
saya sudah bergetar membayangkan bisa mengucapkan salam kepada para Sahabat
mulia.
Setelah sholat ashar saya bersama
kakak perempuan saya bergegas menuju pintu 35, pintu bagi jamaah laki-laki. Dan
ternyata ayah sudah menunggu dibawah payung. Tak jauh dari pintu 35 kami menuju
Baqi’ yang dekat dari tempat tersebut. Mendekati jalan menanjak menuju Baqi’ dua
orang askar sudah berjaga disana terlihat sedang berdebat dengan ibu-ibu
asal Pakistan dan Arab, saya mengenali dari pakaian mereka. Kemudian askar tersebut
dengan gerakan mengusir sepertinya tidak memperbolehkan mereka untuk memasuki
Baqi’. Saya pun mendekati perempuan Arab yang berabaya hitam tersebut mencoba
bertanya dengan bahasa arab seadanya apakah perempuan boleh memasuki Baqi? Kamis
sa’ah ila nisa’?(jam berapa untuk perempuan), dan celakanya beliau menjawab
dengan menggunakan bahasa arab logat Mesir yang saya tak dapat mengerti. Maafkan
saya ya ibu T.T
Masih penasaran dengan Baqi’ setelah kembali
ke Masjid Nabawi saya kembali mencoba bertanya dengan orang Pakistan di samping
saya, kebetulan dia terlihat terpelajar dan dapat berbahasa inggris dengan
baik. Do you ever go to Baqi’? // yes, I have gone to Baqi’ ini the morning
today at seven o’clock // Really? Baqi' open for ladies? // Yes. You can go to Baqi' until ten o'clock in the morning // Great. Wuah mata saya seketika langsung berbinar. Perempuan
Pakistan ini sudah ke Baqi’ ternyata, baiklah saya akan coba besok pagi dan
mengajak ayah untuk kembali ke Baqi’ setelah sholat shubuh. Dan keesokan
harinya saya baru mengerti kawan, ternyata saya memiliki persepsi yang berbeda dengan
perempuan Pakistan tersebut tentang yang kami maksud “go to Baqi”.
Setelah sholat shubuh dengan berjalan
cepat saya menuju pintu 35, kali ini saya hanya seorang diri tanpa di temani
kakak karena kakak sedang mendapat tugas untuk menemani jama’ah pergi ke Jabal
Magnet. Kakak memang bekerja di agen travel haji dan umroh. Saya dan ayah tidak
mengikuti tour ke Jabal Magnet kami lebih memilih untuk ke Baqi’. Setelah bertemu
ayah segera saja kami berjalan di area menajak menuju Baqi’ ada 4 askar yang
berjaga di sana dua di depan gerbang dan dua lainnya berjaga di persimpangan
setelah gerbang tak ada yang aneh semua berjalan dengan normal, saya pun
melihat banyak ibu-ibu Pakistan yang mengenakan pakaian pajang selutut dengan
celana seragam serta tak lupa khimar panjang mereka yang membalut kepala dan
menutup rambut.
Alhamdulillah ala Kulli hal. Jantung saya berdegup kencang kali
ini saya merasakan begitu dekat dengan Sahabat-Sahabat Mulia yang selama ini
saya hanya mengenal mereka dari buku sejarah Nabi, dari ceramah Ustadz Budi
Ashari dan Khalid Basalamah. Kali ini tak terbayang rasanya saya mengunjungi
mereka di tempat mulia ini Assalamu’alaikum yaa ahlil baqi’, Assalamu’alaikum
yaa Ummahatul Mu’minin, Assalamu’alaika yaa dzanuraini Utsman bin Affan. , Assalamu’alaika
yaa Abdurrahman bin Auf, Assalamu’alaika yaa Sa’ad bin Abi Waqqash. Saya sampaikan salam sejahtera untuk mereka
menarik kembali detail perjuangan para Sahabat Mulia, meneladani keshalihan
Ummahatul Mu’minin menarik simpulan atara sejarah dan hikmah dari batu-batu
tanpa nama yang berjajar rapi ini. Saya dan ayah terus berjalan hingga akhirnya
kami tiba di depan papan yang tertulis dalam bahasa Arab, Inggris dan Indonesia
“Sebentar yah, saya mau baca dulu” saya yang tertarik dengan papan besar
itu memutuskan untuk berhenti sejenak. Ternyata papan besar itu berisi tentang
Etika atau Adab ketika Berziarah ke Baqi’ diantaranya yang saya ingat
diantarany ialah mengucapkan salam kepada para penghuni Baqi’ dengan do’a yang
telah di ajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengingat
kematian dan akhirat, menjauhi ratapan atas mereka yang telah meninggal, tidak
boleh membacakan Al-Fatihah, surat Yassin karena Nabi tidak pernah mengajarkan
hal tersebut, dilarang melakukan tindakan seperti mengambil tanahnya pekuburan,
mengusap-ngusap batu Nissan, apalagi meminta kepada yang telah tiada.
Belum selesai saya membaca pengumuman
tersebut tiba-tiba seorang askar mendekati saya dan ayah. Tidak terlalu jelas
pada awalnya dia berbicara apa atau saya yang kurang mengerti karena masih
khusyuk membaca papan etika tadi. Hingga dia berkata kepada saya maa fi nisa’?
undzur yaa ukhti maa fi nisa’?. Jedeerrrrr rasanya seperti ada batu raksasa
yang jatuh di belakang saya. Seketika saya menoleh ke kanan dan kiri benarkah
yang disampaikan askar bahwa tidak ada perempuan di sini? Saya memahami
betul perkataannya maa fi nisa’ berarti tidak ada perempuan. Lalu,
apalah yang saya lihat tadi segerombolan ibu-ibu Pakistan? Astagfirullah
ternyata saya salah lihat, karena hanya memperhatikan dari belakang, pada
dasarnya mereka adalah segerombolan bapak-bapak Pakistan yang mengenakan
selendang layaknya perempuan mereka, mungkin dikarenakan cuaca yang masih
dingin jadi mereka mengenakan selendang tersebut. Dikemudian hari saya baru mengetahui bahwa pakaian mereka itu bernama Shalwar kameez dan merupakan pakian nasional negara Pakistan baik lelaki ataupun perempuan.
Memyadari sebagai satu-satunya perempuan di Baqi' pada saat itu, sayapun langsung beristighfar dan berbicara kepada askar “na'am, ana akhruju al’an” [baiklah, saya keluar sekarang]. Dengan memegang baju belakang ayah, bermaksud agar tidak diketahui bahwa saya perempuan bergegas kami keluar dari Baqi’ padahal kami sudah masuk lumayan jauh kedalamnya. Tak apalah, dalam hati kecil saya teringat selentingan kabar lama itu bahwa benar ternyata di Arab perempuan memang tidak boleh ke wilayah pekuburan. Adapun saya yang telah melangkahkan kaki hingga kesini tak lepas jua daripada Allah yang menakdirkannya seperti itu, memberikan kesempatan kepada saya untuk menyapa Sahabat-Sahabat mulia dan para Ummahatul Mu’minin.
Memyadari sebagai satu-satunya perempuan di Baqi' pada saat itu, sayapun langsung beristighfar dan berbicara kepada askar “na'am, ana akhruju al’an” [baiklah, saya keluar sekarang]. Dengan memegang baju belakang ayah, bermaksud agar tidak diketahui bahwa saya perempuan bergegas kami keluar dari Baqi’ padahal kami sudah masuk lumayan jauh kedalamnya. Tak apalah, dalam hati kecil saya teringat selentingan kabar lama itu bahwa benar ternyata di Arab perempuan memang tidak boleh ke wilayah pekuburan. Adapun saya yang telah melangkahkan kaki hingga kesini tak lepas jua daripada Allah yang menakdirkannya seperti itu, memberikan kesempatan kepada saya untuk menyapa Sahabat-Sahabat mulia dan para Ummahatul Mu’minin.
![]() |
| Papan Etika yang saya baca sewaktu di dalam Baqi'. sekarang hanya bisa menatapnya dari jeruji pagar |
Lalu apa yang dimaksud dengan
perempuan Pakistan yang saya tanya kemaren kalau dia berkata sudah ke Baqi’. “Ooh
mungkin maksudnya dia ke Baqi’ itu dia melihat dari balik pagar yang ada di
seberang sana” jawab ayah. Laah ternyata ayah juga baru ingat kalau kaum
perempuan memang biasanya hanya mengunjungi Baqi’ dengan mengintip di balik
pagar ya mengelilingi Baqi’. Dan akhirnya kamipun berjalan kembali menuju balik
pagar dan berdo’a untuk penghuni Baqi’ disana karena sewaktu di dalam belum
sempat berdo’a keburu di usir oleh askar.
“Salam sejahtera atas kamu hai
penghuni tempat kaum beriman! Apa yang dijanjikan kepadamu yang masih
ditangguhkan besok itu, pasti akan dating kepadamu, dan kami Insya Allah akan
menyusulmu”
Kami pun segera kembali di hotel,
hingga melalui pintu 25 ayah menunjukkan toko buku yang tak jauh dari situ. “Kalau
masih penasaran sama Baqi’ di toko buku itu kayaknya ada buku tentang Baqi’”
waah ayah memang selalu tau apa yang masih saya pikirkan setelah kejadian di
Baqi’ tadi. Baiklah, mengunjungi toko buku sepertinya akan menjadi obat mujarab
untuk rasa penasaran.
![]() |
| Nah ini dia bukunya, berisi sejarah daftar nama dan letak makam Sahabat-Sahabat Mulia yang berada di Baqi, cukup mengobati rasa penasaran saya |
Toko buku itu tidak terlalu besar
namun menyediakan buku-buku yang berbahasa Arab, Inggris, Urdu dan Indonesia. Juga
menyediakan Al-Qur’an untuk waqaf dan kursi untuk waqaf, yah lumayan
lengkaplah. Dan benar saja, saya menemukan buku yang bagus tentang Baqi’ berbahasa
Indonesia dan harganya juga hanya 10 riyal. Dan hey, apa itu di rak tumpukan atasnya
sebuah buku bersampul hitam hardcover dengan tulisan emas Qhasashul
Anbiya karya Ibnu Katsir, waah saya yang penggemar Ibnu Katsir ini
segera ingin mengambil buku itu apalagi Qhasashul Anbiya ini adalah ringkasan tentang cerita Nabi dari kitab Al-Bidayah wan Nihayah yang 22 jilid itu, namun mengingat saya dan ayah belum makan pagi
sedangkan hari mulai beranjak siang dan buku itu berada di rak tumpukan atas
saya putuskan untuk kembali lagi nanti ke toko buku ini dengan harapan buku itu
masih tersisa untuk saya beli. Tunggu kisah selanjutnya ya kawan.
![]() |
| Ayah saya yang bercita-cita dapat menjadi bagian dari penghuni Baqi' |
Tips Agar Tidak Ngantuk Saat I’tikaf di Masjid Nabawi
Adalah menjadi
hal yang lumrah jika ketika beri’tikaf kita menjadi terserang rasa kantuk
karena sejuknya hawa di dalam Masjid. Padahal telah diriwayatkan bahwa
Rasulullah pernah mengusir sejumlah orang keluar dari masjid. “Jangan tidur di
Masjidku ini,” Sabda Beliau. Nah tentunya kita tidak ingin kan membuat beliau
kecewa atas adab dan tata karma kita yang kurang berkenan di Masjid beliau ini.
Oleh sebab itu ada beberapa tips dari saya untuk menghilangkan rasa kantuk
ketika sedang beri’tikaf.
Satu, ambilah
air zam-zam di dalam botol yang sudah kita sediakan dari hotel. Pada saat
mengantuk kita bisa menuang air tersebut dan mengusapkannya pada wajah kita. Dinginnya
air zam-zam cukup dapat membuat rasa kantuk sirna.
Dua, gerakan
mengunyah sebenarnya cukup dapat mengurangi rasa kantuk, bawa bekal kue-kue
ataupun kurma dari hotel juga bisa. Energy kembali full lagi dan ibadah tambah
kenceng juga InsyaAllah.
Tiga, mungkin
terlalu fokus melihat ke suatu titik dan badan yang berpose sama dalam hitungan
jam dapat membuat kita semakin mengantuk. Buatlah badan rileks sejenak
goyang-goyangkan leher, tangan dan pinggang. Setelah itu perhatikan sekitar
anda ada yang sedang khusyuk berdzikir, ada yang sedang sholat dan ada yang
sedang semangat-semangatnya membaca Al-Qur’an. Nah kalau sudah melihat
mereka-mereka yang semangat beribadah dijamin kantuk bakalan hilang dan kita
bisa jadi semangat lagi. Apalagi jika di tambah dengan berpikir “ya ampun sudah
jauh-jauh kesini masak mau tidur. Ayo semangat lagi Ibadahnya…!”
Keempat, ini
sudah cara yang paling akhir kalau masih ngantuk juga. Ajak orang disampingmu
untuk berbicara ringan. Yang pasti orang tersebut bukan jamaah Indonesia ya. Kurang menantang rasanya hehe. Bisa
diajak dengan berbicara bahasa arab,
bahasa inggris ataupun melayu kalau
bisa bahasa urdu atau bahasa turki boleh juga dicoba. Pertanyaan klise
saja seperti Min aina anti? Atau dari mane mak cik ni? Sudah ke
Mekkah ke? Buat saya yang bahasanya masih amatir ini cukup
membangunkan fokus mata, otak, telinga dan mulut karena pada saat itu saya
mencoba untuk benar-benar mencerna apa yang dibicarakan lawan bicara saya. Pernah
suatu kali pada saat menunggu adzan Maghrib saya merasa ngantuk sekali dan
ternyata gadis pakistan yang di samping saya juga mengantuk akhirnya saya mulai
lah pembicaran basa basi untuk menghilangkan kantuk. Dan hey dia jago bahasa
Inggris baiklah kita lanjut bercakap tentang studynya ternyata dia adalah
mahasiswa Psikolog. Saya tau bendera pakistan warnanya hijau dan ada bulan
sabit dengan bintang berwarna putihnya kan. catatan jika berbicara dengan
orang luar keluarkan semuaa semuaanya yang kamu tau tentang negaranya, dia akan
senang dan melihat dia tertawa itu,, duuh manis sekali melihatnya dengan hidung
bangir mirip artis india itu hihihi.... kemudian saya tanya lagi dia pakistan di
sebelah mananya? Dia jawab Kashmir.. ooh saya tau, itu daerah indah pegunungan
seperti switzerland kan? Ada salju-salju putih diatas gunungnya ada bagian
padang rumput hijau yang indah.. oooh iya benar, matanya semakin membulat
ketika tau bahwa saya mengetahui tempat kediamannya. Dari mana kamu tau? Dia bertanya.
Sambil tertawa saya menjawab bahwa saya mengetahuinya dari film India berjudul Bajrangi
Bhaijaan ya kisah yang menarik tentang konflik negara india pakistan
serta ada unsur agama juga dalam film itu terutama Islam dan hindu dan akhirnya
happy ending itu menyenangkan. Dan diapun ternyata juga mengetahui film itu. Ya
jelas saja itu film kan berlatar tempat kediamannya hahaha. Dan akhirnya kantuk
pun hilang dengan sendirinya, tapi jurus keempat ini jangan terlalu sering
digunakan ya kawan, sayang waktu kita jika kita habiskan untuk ngobrol.. huhu
Maafkan hambaMu ini Yaa Allah. yang pasti kita sewaktu berniat untuk i'tikaf berdo'alah kepada Allah untuk diberikan kekuatan dan juga kemudahan serta kelancaran dalam Ibadah.
..........................................................................................................................................
Dengan memperhatikan sekeliling akan membuat semangat beribadah naik lagi, Indahnya melihat mereka belomba-lomba dalam beribadah. MASYAALLAH. TABAARAKALLAH
![]() |
Gate 25 : Pintu Gerbang Utama Menuju Raudhah bagi Jamaah Perempuan
Adalah Raudhah
lokasi yang fenomenal dan sangat bersejarah itu. Letaknya terdapat di dalam
Masjid Nabawi yaitu diantara mihrab Rasul yang dulunya merupakan rumah Aisyah ra
dan Mimbar Rasul, luasnya kurang lebih 144 m2 yang sekarang ditandai
dengan kubah hijau, tiang menara,
ornament yang khas mulai dari tiang hingga langit-langitnya dan ditambah dengan
karpet hijau muda yang memiliki wangi yang khas, hingga di luar masjid pun ada
yang jual minyak wangi Raudhah namanya, baunya mirip dengan yang ada pada
karpet di Raudhah. Konon Raudhah ini dipercaya sebagai salah satu tempat istijabah
yaitu terkabulnya do’a, hingga wajar jika berebut orang-orang untuk
memasukinya. Riwayat shahih yang saya dapatkan mengenai Raudhah adalah
hadits Nabi yang berbunyi “Di antara
rumahku dan mimbarku adalah sebagian taman surga” (Muttafaq, Alaih). Itulah sebabnya banyak sekali yang menginginkan
untuk beribadah ataupun berdo’a di Raudhah ini, ingin
merasakan beribadah di taman surga? Siapa yang tidak penasaran dengan tempat
ini bukan? Setidaknya kita bisa melihat taman surga sewaktu di dunia hehe.
![]() |
| Kubah hijau itulah lokasi Rhaudhah |
Bagi jamaah laki-laki Raudhah dibuka setiap saat 24 jam. Sedangkan bagi jamaah
perempuan ada waktu-waktu khusus untuk dapat ke Raudhah yaitu setelah sholat shubuh, setelah sholat
dzuhur dan setelah sholat isya, waktunya terbatas dan haruslah mengikuti tata
cara dan prosedur dari askar. Baiklah berikut saya berikan beberapa trik untuk dapat melaju mulus menuju Raudhah karena Alhamdulillah selama 8 hari di
madinah setiap hari saya ke Raudhah bahkan ada yang sehari 2 kali saya mendatangi Raudhah, dan tempat ini benar-benar membuat rindu kawan,
selalu ingin kesana dan kesana lagi.
Pertama, bagi jamaah perempuan jika ingin ke Raudhah haruslah kita perhatikan fisik kita,
makan yang banyak dulu di hotel sebelum ke Masjid bila tidak sempat bawalah
bekal roti atau kurma karena memang diperlukan waktu yang lumayan cukup lama
untuk ke Raudhah ini.
Pengalaman saya jika saya ke Raudhah setelah shubuh kita akan keluar dari Raudhah pukul 09.00 pagi, jika setelah Dzuhur selesai
atau pulang dari Raudhah adalah pukul 15.00 dan itu mepet dengan waktu ashar
apabila kita ingin kembali ke hotel. Dan jika ke Raudhah setelah Isya, beberapa kawan saya sempat pulang
dulu untuk makan malam biasanya kemudian kembali lagi ke gate 25 karena hotel
kami memang dekat dengan gate 25, setelah Isya adalah waktu banyak-banyaknya
jamaah membludak ingin ke Raudhah lebih banyak dari pada setelah shubuh ataupun
dzuhur hingga akhirnya paling cepat kita dapat pulang pada pukul 23.00 atau
paling malam pukul 01.00 dini hari. So, makan yang lahap ya guys perhatikan
waktu-waktunya, apalagi kalau hari jum’at karena hari jum’at ini penduduk lokal
Saudi juga membludak mereka berdatangan dari Jeddah, Makkah, Riyadh, Thaif
bahkan Madinah sendiri. Kalau menurut saya waktu yang paling lapang, paling
khusyuk beribadah di Raudhah adalah pada saat setelah Dzuhur karena
orang-orangnya tidak sebanyak di waktu shubuh dan Isya, ya memang sih kita akan
mengorbankan jatah makan siang kita di hotel. Tapi tak apalah minum air zam-zam
saja buat sahabat Abu Dzar Al-Gifari sudah sangat mengenyangkan loh.
![]() |
| Gate 25 |
Kedua, perhatikan waktunya seperti yang telah saya
sebutkan tadi, apakah saudari akan ke Raudhah setelah shubuh, dzuhur atau Isya’ ? kalau bisa
saudari sudah persiapkan diri untuk sholat berjamaah di waktu yang saudari
pilih menuju ke Raudhah dan
pastikan tempatnya adalah gate 25 atau Utsman bin Affan Gate karena di shaf
pintu 25 ini setelah sholat kita akan di buat kelompok-kelompok oleh askar
yang akan membimbing kita menuju jalan ke Raudhah. Setelah sholat askar akan membawa papan untuk pengelompokan grup.
Kelompok ini berdasarkan suku ada Arab untuk arab adalah mereka kelompok yang
berbahasa arab seperti mereka yang dari Arab Saudi sendiri, Yaman, Sudan,
Nigeria, Mesir dan bangsa yang menggunakan bahasa arab lainnya. Kemudian ada
juga Turkiye Grup, ini adalah kelompok untuk orang turki. Hidustan grup untuk
kelompok Pakistan, Bangladesh dan India. Dan untuk kita jamaah Indonesia ada kumpulan
berbahasa melayu namanya, kita tergabung dengan Malaysia, Singapura dan
Brunai, kadang juga askar menyelipkan beberapa warga negara Amerika dalam kumpulan berbahasa melayu ini alasannya
karena jamaah kita dinilai sebagai jamaah yang paling tertib dan sabar.
Alhamdulillah ya. Oh iya kumpulan berbahasa melayu ini tempat berkumpulnya jika
dari gate 25 maka kita akan berjalan lurus saja ke depan hingga mendekati shaf
terdepan, lewatnya jalan tengah ya. Nah sebelum sampai shaf terdepan perhatikan
sebelah kiri jalan, jika terdapat rak Al-Qur’an saudari bisa ambil shaf yang di
belakang rak tersebut karena disitulah kumpulan berbahasa melayu akan
dikelompokkan. Waah. Seharusnya ini sudah masuk trik yang ketiga ya,, hampir
lupa. Baiklah.
![]() |
| Kumpulan berbahasa melayu kumpul disini dulu ya |
Ketiga. Ambillah shaf untuk sholat berjamaah
seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya di dekat kumpulan berbahasa melayu
akan di kumpulkan paling aman ya di belakang rak Al-Qur’an. Karena setelah
sholat askar yang membawa papan yang bertuliskan kumpulan berbahasa
melayu akan berteriak-teriak “ibu sini... milayu sini...milayu sini...
ibuuuu... sini sini” dan apabila ternyata dikelompok kita ada orang
hindustan askar tersebut akan berteriak ”bajiii.... taraf..
taraf...” hehe saya senang sekali memperhatikan askar apabila
sedang berteriak teriak.
![]() |
| "Ibu milayu sini" |
Keempat. Ikutilah askar dengan patuh dan
tertib karena memang kelompok kita biasanya diberikan kesempatan yang terakhir
dengan tujuan kita bisa lebih tenang dan khusyuk beribadah di Raudhah. Jika askar berkata “ibu dhudhuk”
maka duduklah kita. Jika askar berkata “ibu jalan...” maka
jalan lah kita. Ikuti saja maka InsyaAllah kita akan sampai ketujuan.
![]() |
| yak ikuti saja askarnya sampai ke Taman Surga |
Ada kawan yang pernah mencoba menyelinap ke grup
Turki tak ayal beliau yang kalah postur dengan mereka terjepit diantara tubuh
mereka yang besar-besar. Ada pula kawan yang sengaja menggunakan abaya hitam
lengkap dengan cadar agar bisa masuk ke grup arab karena memang grup arab lah
yang di dahulukan. Tapi lagi-lagi bagi saudari yang bertubuh mungil macam saya
jangan sekali-sekali untuk mencobanya, biarlah kita bersabar menunggu giliran
sambil membaca Al-Qur’an ataupun berdzikir pada saat menunggu itu, lebih
menenangkan, hati menjadi lebih lapang dan InsyaAllah akan dipermudah Allah
jalannya, Bukankah beribadah di Masjid ini menjadi berlipat ganda pahalanya,
beribadah sambil menunggu tak ada salahnya bukan?.
Alhamdulillah atas pertolongan Allah Subhanahu Wa
Ta’ala kita telah sampai di Raudhah. Walaupun terhalang pembatas putih tapi kita dapat melihat sedikit bagian
atasnya. Lihatlah di sebelah kiri kawan bagian atas yang berwarna hijau itu
adalah Makam Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam, kemudian juga berjejer di
sebelahnya makam Sabahat Mulia Abu Bakar Rhadiallahu’anhu sebelahnya lagi Makam
Sahabat Mulia Umar Rhadiallahu’anhu juga
terdapat Makam Bilal Rhadiallahu’anhu. Sebelah
kanannya adalah Mimbar Rasul yang terdapat kisah sejarah kurma menangis itu, Assalamu’alaika yaa Rasulallah... Assalamu’alaika yaa
Habiballah....
Masjid Nabawi : Kami Rindu denganmu Yaa Rasul
Inilah kota Nabi itu! Sebuah hamparan bumi bekas
gunung merapi aktif yang kemudian padam, lalu meninggalkan dua tanah vulkanik
yang subur; waqim disebelah timur dan wabrah musyarrafah
disebelah barat, dilembah aqiq. Kemudian disebelah utara terdapat Gunung
Uhud yang menjadi benteng pengaman bagi Madinah dan sekitarnya. Gunung itu
terletak empat mil jaraknya dari jantung kota Madinah. Jika kita mendaki ke
puncaknya, melalui celah-celah tempat dimana Rasulullah dan para Sahabat
menyelamatkan diri pada saat terdesak olah pasukan kafir Quraisy pada saat
perang uhud. Maka kita dapat tepat di jantung Kota
berdirilah Masjid Nabawi.
Ada tujuh puluh delapan pintu atau gate di
Masjid Nabawi. Pertama kali menjejakkan kaki ke Masjid Mulia kedua sejagat Raya
ini kita akan dibuat takjub dengan payung-payung raksasa di teras masjid yang
berjajar rapi, serta secara otamatis dapat membuka dan menutup sendiri disetiap
pagi dan petangnya. Masih di kawasan teras masjid Nabawi tak jauh dari pintu
masuk masjid akan kita jumpai bangunan kotak bertuliskan hamam atau
toilet yang juga terdapat tempat wudhu disana.
Rombongan kami datang tepat pukul 09.00 waktu
setempat. Setelah chek in hotel segera saja kami meluncur ke Masjid
Nabawi. Tak ingin tertinggal waktu dhuha. Kebetulan Hotel kami hanya
berjarak 100 meter dari gate 25 pintu Masjid Nabawi. Gate 25 ini
memiliki nama lain yaitu Utsman Bin Affan Gate. Nanti akan kuceritakan padamu
kawan, betapa istimewanya pintu 25 ini.
Nuansa sejuk sangat terasa saat kaki ini melangkah
untuk yang pertama kalinya ke teras Masjid Nabawi. Bagaimana tidak,
payung-payung besar dan rapat itu memiliki dua buah kipas angin disetiap
tiangnya dan ini tentunya bukan kipas angin biasa, kipas angin ini
sewaktu-waktu bisa nyiramkan air sejuk jika dirasa temperatur udara sudah mulai
agak panas. Canggih ya.
Dan pada saat menaiki tangga masjid kita sudah
harus bersiap untuk melepas alas kaki dan memasukkannya kedalam plastik atau
kresek. Plastik berisi sendal itu bisa kita taruh di loker atau kita masukkan
dalam tas kita. Di depan pintu masjid ada 2 orang wanita penjaga berpakaian
serba hitam serta memakai cadar, mereka ini biasa kami sebut dengan askar.
Askar bertugas untuk memeriksa tas karena apabila masuk kedalam masjid
nabawi di larang membawa kamera, mainan atau botol berlebih untuk mengambil air
zam-zam. Biasanya mereka akan memanggil jamaah asal Indonesia dengan sebutan “ibu..ibu..
periksa..periksa” dengan logat yang khas.
Bismillah menjejakkan kaki di Masjid Nabawi untuk
pertama kalinya, jangan lupa langkahkan kaki yang kanan terlebih dahulu sambil
lantunkan shalawat atas nabi. Nyyyesss... rasa sejuk itu mengalir tak
hanya hawa masjidnya saja yang memang sejuk karena di setiap tiang masjid
terdapat AC. Namun, entahlah rasa damai, tenang dan sejuk itu juga mengalir
dalam hati ini, mungkin perasaan rindu itu sedikit terobati. Assalamu’alaika
yaa Rasulallah... Assalamu’alaika yaa Habiballah.... Mau tambah sejuk lagi? Yuk kita nikmati air zam-zam yang tersedia di kiri kanan kita sekarang. Setelah melewati pintu utama kita akan disuguhi pemandangan bergentong-gentong air zam-zam di kiri kanan jalan. Biasanya para jamaah duduk sejenak untuk minum, kemudian mengisi botol yang mereka bawa sebagai perbekalan air untuk i’tikaf di dalam masjid. Karena Masjid ini luas sekali kawan. Untuk jamaah perempuannya saja mungkin ada jarak sekitar 200an meter untuk menuju shaf terdepannya.
Semakin memasuki ke dalam masjid hati ini semakin
rindu dengan Sang Utusan. Terlihat semua orang berlomba-lomba untuk beribadah,
mengagungkan sunnah Rasul untuk memakmurkan masjidnya. Disudut kiri ramai saya
lihat ibu-ibu berpakaian ala-ala hindustan, maksudnya baju kurung selutut
dengan belahan panjang disamping kiri dan kanannya berikut dengan celananya
yang seragam, kemudian berbalut kepalanya dengan kerudung panjang
berwarna-warni dengan berbagai macam motif dan corak. Itulah jamaah perempuan
yang berasal dari Pakistan. Mereka biasanya terlihat sedang berdzikir
menggunakan tasbih panjang mungkin sekitar 99 biji tasbih, bahkan ada yang
lebih panjang lagi. Pernah suatu ketika saya masuk diantara shaf mereka pada
saat i’tikaf, tak sengaja setelah shalat dzuhur karena saya tidak beranjak dari
tempat shalat saya. Salah seorang dari mereka mencolek saya sambil berkata “Tasbih?”
dengan raut muka bertanya serta gelengan kepala yang khas. Saya terheran, apa
maksudnya ya? Apakah maksudnya beliau menanyakan mana tasbih saya? karena pada
saat itu saya memang sedang berdzikir. Kemudian saya menjawab dengan menjulurkan
tangan kanan dengan maksud saya berdzikir menggunakan hitungan jari saja. Ibu
pakistan itu pun hanya mengangguk ragu dengan mengucapkan “Acha.....”.... hehe
maafkan saya bu. Jika saya kurang mengerti maksud ibu...
Di sebelah Selatan dekat dengan rak Al-Qur’an dan
rakel dibawahnya, duduk melingkar jamaah perempuan dengan berpakaian abaya
hitam lengkap dengan cadarnya. Masing-masing dari mereka memegang Al-Qur’an
salah seorang yang berada paling dekat dengan rak Al-Qur’an memberikan tausiyah
dengan bahasa arab. MasyaAllah, Tabaarakallah andai saya ini fasih dan mengerti
bahasa arab ingin rasanya nimbrung dengan majelis ilmu mereka. Tak jauh di
sudut kiri tampak jamaah perempuan Indonesia yang telah duduk berjejer pada shaf dengan rapinya, mereka
mengenakan mukena putih-putih dan tenggelam dalam bacaan Al-Qur’annya
masing-masing.
Dan hey lihatlah di ujung Timur tampak
menggerombol para jamaah perempuan asal turki, mereka kompak mengenakan abaya
hitam dengan kurudung hijau tosca pun sedang asyik mendengarkan Ustadzah mereka
yang sedang memberikan tausiyah dalam bahasa Turki. Pada awalnya saya sering
tertukar antara jamaah Turki atau AlJazair. postur tubuh dan wajah mereka hampir
sama menurut saya, besar dan putih-putih. Namun jika mereka
berbicara aksennya jelas berbeda. Jamaah turki melafalkan kalimat berbahasa arab sering terdengar
seperti “Elhamdulillah, Allahu Ekbar, Febieyi Ala.....”
Inilah masjid Nabi! Siapa saja yang rindu akan
Rasulullah pastilah berkeinginan kuat untuk mengunjungi tempat ini dari
berbagai bangsa, berbagai suku berbagai bahasa. Bukankah kita memang diciptakan
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Seringkali saya dapati
mereka berbalas salam untuk orang yang ada disamping mereka walaupun tak saling
kenal, berbagi kurma, coklat, roti ataupun gula-gula. Dan permen gula-gula dari
ibu-ibu Turki itu yang paling
berkesan, permen rasa jeruk bulat sebesar cilok atau pentol baso 500an kalau di
Indonesia hehe lama ngabisinnya. Makasih ya bu. Semoga Allah Subhanahu
Wa Ta’ala membalas kebaikan ibu. Pernah juga saya mendapatkan permen kopiko 2
bungkus dari orang arab yang ada di sebelah saya. Lah ini kan permen Indonesia
hehe, mungkin ibu-ibu arab tadi dikasih banyak permen kopiko dari jamaah asal
Indonesia.
Beberapa
kali saya pun mencoba melakukan pendekatan (eaaa pendekatan katanya >.< )
saya mencoba untuk menggengam erat
tangan mereka sambil tersenyum dan mengucapkan salam. Pernah suatu kali jamaah
samping saya berasal dari sudan saya gengam erat tangannya saya ucapkan salam,
dengan bahasa arab sebisanya saya tanyakan dari mana dia jawab dari sudan.
Kemudian dia berbalas tanya dari mana saya apakah pakistan? “Laa, ana min
indunisiya” saya jawab tidak, saya dari Indonesia, kemudian dia jawab Masya
Allah, semoga Allah mempertemukan kita kembali di Jannahnya sambil merangkul
saya dan ditambah lagi dengan do’anya yang panjang, ada yang saya mengerti, ada
juga bagian yang tidak saya mengerti, intinya semuanya adalah do’a tentang
kebaikan. Tak terasa air mata saya menetes saya balas rangkulannya sambil
berseru “Aamiin”. Hangat rasanya inikah yang dinamakan persaudaraan atas
dasar iman? Atas dasar kecintaan kita pada Allah dan RasulNya?. Semoga saja
Allah benar-benar mengabulkan do’a kita di tempat yang Istijabah ini
saudariku. Aamiin.
Tak terasa adzan untuk sholat Dzuhur berkumandang.
MasyaAllah berdesir hati ini mendengarnya, teringat akan sabda Rasulullah “Shalat
di masjidku lebih utama 1000 sholat di tempat lainnya, kecuali Masjidil Haram.
Shalat di Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali sholat di tempat lainnya”.
Alhamdulillah ala kulli hal, atas kuasaMu Yaa Allah, atas ijinMu, atas TakdirMu
saya bisa sholat di Masjid Nabi tecinta ini, terbayang lantunan adzan dari
Sahabat Bilal bin Rabah. Terbayang saat ini saya sedang berada diantara shaf
para shohabiyah, para ummahatul mukminin, istri-istri Rasul pikiran saya
melesat jauh pada 1438 tahun yang lalu dan pada saat Takbiratul Ihram ALLAHU
AKBAR... terbayang rasanya sedang di-Imami oleh Rasulullah. Kami rindu padamu
yaa Rasulullah....
Langganan:
Postingan (Atom)






















