Tampilkan postingan dengan label SPI #ITJ Jakarta Angkatan ke 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SPI #ITJ Jakarta Angkatan ke 2. Tampilkan semua postingan

Menyingkap Fakta Sejarah Indonesia, Antara Islam dan Adat Istiadat

Jumat, 17 April 2015

| | | 0 komentar
Sejak zaman kolonial Belanda, terdapat banyak peneliti dari barat yang sengaja didatangkan ke Indonesia untuk melakukan riset tentang kehidupan sosial masyarakat Indonesia, mereka menghasilkan berbagai karya dengan kepentingan memanipulasi sejarah bahwa Islam sangatlah jauh dari penerapan yang sempurna dikalangan masyarakat Indonesia. Dan mereka memiliki kesimpulan dangkal dari sudut pandang mereka sendiri bahwa Islam tidak bisa bersatu dengan adat istiadat yang telah mengakar di Indonesia.

Demikian sekelumit penjelasan Tiar Anwar Bachtiar, M.Hum, pada perkuliahan ke tujuh Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL yang diadakan pada Kamis, 16 April 2015, bertempat di kantor Rumah Synergy di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.
kuliah kali ini tentang Nativisasi, yaitu mengembalikan pemikiran Indonesia kepada yang aslinya. Peserta dibuat berpikir dengan pertanyaan ‘Jadi, adat aslinya Indonesia apa? Apakah memang jauh dari Islam?’.

“Thomas Stanford Rafless (1781-1826) dalam bukunya yang berjudul History Of Java menjelaskan bahwa agama Islam yang berkembang di Jawa hanya menekankan pelaksanaan dan penampakan saja, tidak mengakar pada hati mereka dan hanya didorong dengan adanya peraturan yang dikeluarkan oleh Raja. Disini, terlihat bahwa Rafless hanya melihat agama Islam hanya sebelah mata saja, Islam itu berproses tidak bisa sim salabim langsung sempurna dan perilaku Islam tidak bisa disamakan satu dengan yang lainnya” Imbuh Tiar.

“Ada lagi Wiliam Masdern penulis buku The History of Sumatera yang dalam bukuny amenjelaskan bahwa adat sangatlah bertentangan dengan ajaran agama khususnya Islam. Adat menjadi karakter dasar masyarakat Sumatera, sedangkan Islam adalah benda Asing tidak dapat dipersatukan” lanjut Tiar

Selanjutnya Tiar juga menjelaskan bahwa fakta sebenarnya Syariat Islamlah yang telah mengakar kuat pada masyarakat Indonesia, sebagai bukti terdapat piagam Jakarta yang nomer satu isinya menyeru untuk menjalankan syariat Islam dan piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam yang terdapat kesepakatan Adat Basandi Syarak, Syarak basanding Kitabullah yang berarti bahwa Adat didasarkan pada syariat agama Islam.

Komentar positif terlontar dari seorang peserta kuliah. “Ternyata perlu peninjauan ulang dibalik adat-adat yang kembali digembar-gemborkan, mungkin upaya nativisasi yang menjadi pemicunya, sehingga hal ini perlu diwaspadai karena merupakan upaya untuk menjauhkan ajaran Islam dan kembali kepada adat istiadat yang tidak sesuai dengan syariat Islam”, Ungkap Arini salah satu peserta SPI yang merupakan mahasiswa LIPIA.

“Sejarah sangatlah rentan dimanipulasi karena didalamnya rawan dengan banyak kepentingan. Sehingga menjadi hal yang wajib untuk mencari tau sejarah yang sebenarnya, terlebih tentang perkembangan Islam di Indonesia” sahut salah seorang peserta SPI lainnya selepas kuliah.

SPI #ITJ : Pertemuan ke VII
Reportase : Rosmayani Nor Latifah


Wido Supraha : Sekulerisasi Akar Kerusakan Alam

Selasa, 14 April 2015

| | | 0 komentar
Bahaya Sekulerisasi tak hanya berdampak buruk bagi pemikiran individu yang mempengaruhi terhadap pandangan hidup yang rusak bahkan berdampak pada lingkungan dan alam semesta. Karena salah satu dimensi sekulerisasi adalah membangun oikiran bahwa semesta alam ini terlihat biasa saja, tidak menakjubkan hingga pada akhirnya tidak ada lagi penghargaan terhadap alam. 

Demikian sekelumit penjelasan Wido Supraha, M.Si saat memberikan materi Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL Angkatan Kedua bertema “Sekularisme” yang digelar di Ruang Diskusi Rumah Shynergi dibilangan Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (9/04/2015).

“Menurut M. Nauqib Al-Attas belum pernah alam semesta menjadi sedemikian rusak, sebelum revolusi industry. Perubahan yang dinamis dimasyarakat dari awalnya merupakan masyrakat agraris berubah menjadi revolusi industry pada awal abad ke -18 merupakan pemicu terjadinya sekulerisasi” ungkap Wido.

Selanjutnya wido menjelaskan bahwa menurut para ilmuwan barat seperti August Comte, Karl Marx dan Max Weber sekularisasi adalah efek dari modernisasi kearah pembangunan dengan melepaskan unsure nilai-nilai keagamaan. Pembangunan pada akhirnya dilakukan secara besar-besaran hingga tidak mempedulikan kelestarian alam dan lingkungan.

“Disenchantment of nature yang merupakan pikiran sekuler kecewa terhadap alam, bahwa alam ini tidak perlu dikagumi sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam yang menyeru agar mencintai bumi dan seluruh makhluknya. Allah mengajarkan sikap lembut dan penuh kasih sayang hingga Islam merupakan agama Rahmatan lil alamin yaitu, memberikan Rahmat untuk alam semesta” Ungkap Wido yang merupakan salah satu peneliti INSIST.

Perkuliahan SPI Jakarta yang keenam ini disambut positif oleh para pesertanya. Terlihat dari antusias peserta yang memiliki banyak pertanyaan. Salah satu pertanyaan menarik adalah “Bagaimana Islam menyikapi pembangunan dan efek modernisasi agar tidak terjerumus dalam sekuler?” Menjawab pertanyaan tersebut Wido mengatakan bahwa Islam sangat berdamai dengan pembangunan dan modernisasi jika pembangunan tersebut dilaksanakan berdasarkan Islamic Worlview atau pandangan pembangunan berdasarkan nilai-nilai keislaman.

Kuliah ke VI SPI #ITJ

Reportase : Rosmayani Nor Latifah

Konsep Keterkaitan Antara Wahyu dan Kenabian Dalam Islam

Kamis, 09 April 2015

| | | 0 komentar
Oleh : Rosmayani Nor Latifah
A.    Definisi Wahyu
Menurut Syaikh Rasyid Ridho wahyu adalah pemberitahuan yang bersifat tertutup tidak diketahui pihak manapun, cepat dan hanya untuk yang dituju.[1] Wahyu menjadi sebuah petunjuk yang sangat penting bagi manusia untuk mengenal Allah SWT dimulai dari mengenal sifat-sifat Allah, kekuasaan atas alam semesta, kehendak, perintah dan laranganNya. Pemaknaan wahyu didasarkan pada Al-Qur’an dan teks-teks yang menjadi acuan bahasa dan pengertian metaforis dalam bahasa Arab. Dalam arti bahasa dengan pendasaran pada ayat-ayat wahyu adalah[2] :
1.      Ilham sebagai bawaan dasar manusia
Dalam surat Al-Qashshas ayat 7 Allah berfirman “Dan Kami Wahyukan Kepada Ibu Musa : susuilah dia…”
2.      Insting naluri pada binatang, seperti wahyu pada lebah
Dalam surat An-Nahl ayat 68 Allah berfirman “Dan diwahyukan Tuhanmu kepada lebah untuk mengambil dari bukit-bukit itu sebagai rumah, juga dari pohon-pohon, dan dari tempat-tempat bersemayamnya manusia”
3.      Isyarat cepat melalui kode, seperti isyarat Nabi Zakaria
Dalam surat Maryam ayat 11 Allah berfirman “Maka keluarlah dia dari mihrab kaumnya, lalu berisyarat kepada mereka, bertasbihlah kelian pada waktu pagi dan petang”.
4.      Bisikan dan tipu daya untuk menjadikan sesuatu tampak indah dalam diri manusia
Dalam surat Al An’aam ayat 112 Allah berfirman “dan demikian kami jadikan bagi tiap nabi-nabi itu musuh yaitu setan dari jenis manusia dan dari jenis jin-jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah menipu”.
5.      Apa yang disampaikan Allah sebagai suatu perintah untuk dikerjakan
Dalam surat Al Anfal ayat 12 Allah berfirman “Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “sesungguhnya AKu bersamamu!” maka teguhkanlah orang-orang yang beriman”.
Pemaparan diatas menjadi suatu bukti yang nyata bahwa wahyu bersifat otentik, merupakan pesan langsung dari Allah kepada makhluknya. Bukan suatu yang berasal dari inspirasi Nabi Muhammad atau[un karangan Nabi Muhammad seperti yang telah dituduhkan kafir quraisy maupun kaum orientalis hingga saat ini.
B.     Memaknai Kenabian
Dalam islam penyampai pesan Allah atau wahyu adalah Nabi dan Rasul. Rasul ialah seorang manusia lelaki yang merdeka, yang diberi wahyu oleh Allah berupa suatu syara’, dan ia wajib menyiarkan syara' itu kepada seluruh umatnya. Sedangkan nabi hanya menerima wahyu dan tidak wajib untuk menyiarkannya kepada umatnya.[3] Jika demikian, risalah adalah lebih tinggi kedudukannya daripada kenabian. Karena setiap rasul adalah nabi, tetapi seorang nabi belum tentu rasul.[4]
Nabi dan Rasul dihadirkan Allah ke muka bumi untuk menyeru kepada seluruh manusia agar beriman kepada Allah SWT. Sehingga kewajiban untuk mengimani Nabi dan Rasul pun menjadi sangat penting dalam perjalanan meningkatkan keimanan penyelamat manusia dari kemungkaran dan kesesatan.
Dalam Al-Qur’an surat Fatir ayat 24 Allah Berfirman “Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan”
juga Allah  berfirman:
 (Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah  (saja), dan jauhi Taghut). (Al-Naml:36)

juga Allah  berfirman:
 (Kemudiaan Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturu-turut). (Al-Mu’minin:44)
juga Allah  berfirman:
 (Dan bagi tiap-tiap satu umat ada seorang Rasul). (Yunus:47)
Alasan logis di balik pengutusan seorang rasul atau nabi kepada mereka tersebut tidak lain agar manusia tidak lagi berargumentasi dan membantah Allah  untuk tidak beriman kepada-Nya serta tidak menyembah-Nya. Allah berfirman: “Mereka Kami utus selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah  sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(Al-Nisa’:165). Maka dari itu, sebagai konsekwensi logis juga, suatu kaum yang belum diturunkan seorang rasul kepada mereka tidaklah dituntut tentang ketersesatan mereka, dan mereka tidak akan mendapat siksaan di hari kemudian.[5]

C.     Konsep Keterkaitan Antara Wahyu dan Kenabian
Secara logika wahyu tidak dapat dipisahkan dengan subjek dan objeknya. Ada pesan, ada penerima pesan, ada penyampai pesan, ada yang berpesan, dan ada sebab atau sejarah kenapa pesan tersebut disampaikan. Itu semua harus dipahamai secara utuh karena saling berkaitan erat untuk mendapatkan pemahaman dan makna wahyu yang sebenarnya.
Difirmankan Allah pada surat Ali Imran ayat 81-85: Dan, ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang  membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya” Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu”.” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah dan Aku menjadi saksi pula bersama kamu”. Barangsiapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ’Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri. “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
            Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah telah mengutus nabi-nabi terdahulu dan memberikan wahyu kepada mereka dengan tujuan yang sama menyebarkan agama Islam sebagai jalan menuju kedamaian dan kesejahteraan.
Nabi Muhammad merupakan Nabi terakhir yang membawa kelengkapan wahyu yang telah diturunkan pada Nabi-Nabi terdahulu.
Sebagai wahyu pamungkas, al-Wahyu al-Muhammadi ini memiliki keistimewaan yang karakteristik dibanding dengan wahyu-wahyu sebelumnya. Keistimewaan ini  adalah bahwa ia disebutkan dalam al-Qur’an sebagai muhaymin (pengawas, saksi, korektor, refree) bagi kitab-kitab suci sebelumnya[6]:
{وأنزلنا إليك الكتاب بالحق مصدقا لما بين يديه من الكتاب ومهيمنا عليه}
(Dan telah aku turunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab (al-Qur’an) dengan membawa kebenaran, untuk mengesahkan benarnya Kitab-Kitab Suci yang sebelumnya, dan untuk memelihara serta mengawasinya). (Al-Ma’idah: 48)





[1] Rasyid Ridho, Al-Wahy Al Muhammadi (Beirut : Daarul KutubAl Islamiyah, 2005) hal.25
[2] Manna’ Khalil Al Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an Terjemah Mahabis Fii Ulumil Qur’an, Penerj: Drs. Mudzakir AS (Bogor: Litera Antar Nusa,2011) Hal. 36-37
[3] Sayyid Husein Afandi Al jisr Ath Thorabilisiy, Memperkokoh Aqidah Islamiyah Dalam Perspektif Ahlusunnah
Waljamaah: Terjemah Al Hushuunul Hamidiyyah Lil Muhaafadhah Alal Aqqa'I'd Al Islamiyyah, penerj: KH Abdullah Zakiy Al Kaaf(surabaya: Pustaka Setia, 1999)hal.53
[4] Muhammad Ali Ash Shabuni, Kenabian dan Para Nabi Terjemah An Nubuwwah wal Anbiyaa' , Penerj: Arifin
Jamian Maun(Surabaya: Bina Ilmu,1993)hal.13
[5] Admin “Universalitas Wahyu dan Kenabian : Counter-Argumen Pluralisme Agama (I)” 30 Agustus 2009,http://inpasonline.com/new/universalitas-fenomena-wahyu-dan-kenabian-counter-argumen-pluralisme-agama-i/ [ONLINE], HTML, 9 April 2015.

[6] Admin “Universalitas Wahyu dan Kenabian : Counter-Argumen Pluralisme Agama (Habis)” 12 Oktober 2009 http://inpasonline.com/new/universalitas-fenomena-wahyu-dan-kenabian/ [ONLINE], HTML, 9 April 2015.

SPI ITJ Membahas Pemahaman Wahyu Secara Komprehensif

Jumat, 03 April 2015

| | | 0 komentar
Bertempat di bilangan Kalibata Tengah, Jakarta Selatan, hari Kamis, 2 April 2015 #IndonesiaTanpaJIL kembali melaksanakan agenda rutin Sekolah Pemikiran Islam (SPI) untuk kelima kalinya. Hujan yang mengguyur Jakarta pada sore hari dan macet yang tak terkendali ternyata tidak menyurutkan semangat para peserta untuk menyimak materi. Dalam kesempatan kali ini tema yang dibahas adalah tentang Konsep Wahyu dan Kenabian yang dibawakan oleh Mahasiswa tingkat akhir Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Ustadz Muhammad Fadhila Azka sebagai narasumbernya.

“Wahyu tidak bisa dipisahkan antara subjek dan objeknya, ada pesan, ada penerima pesan, ada penyampai pesan, ada yang berpesan, dan ada sebab atau sejarah kenapa pesan tersebut disampaikan. Itu semua harus dipahamai secara utuh karena saling berkaitan erat untuk mendapatkan pemahaman dan makna wahyu yang sebenarnya” ujar Azka.

Selanjutnya Azka menjelaskan bahwa Wahyu yang dapat dipercaya kemurniannya adalah wahyu yang bersifat otentik,  sebagaimana Al-Qur’an benar-benar murni dari Allah, tidak ada campur tangan manusia. Al-Qur’an bukan suatu yang datang dari imajinasi atau inspirasi Rasulullah dan bukan spekulasi filosofis atau sejarah.

            Diakhir materi penggiat #IndonesiaTanpaJIL ini menekankan bahwa Wahyu adalah solusi hidup manusia. “Wahyu adalah matahari dan akal adalah mata” pungkasnya mengutip syair Imam Al-Ghazali.

Perkuliahan SPI Jakarta yang kelima ini disambut positif oleh para pesertanya. Terlihat dari antusias peserta yang memiliki banyak pertanyaan. Salah satu pertanyaan menarik “Ada orang-orang yang memahami wahyu namun bukan Nabi dan Rasul seperti halnya Waraqah bin Naufal yang melihat tanda-tanda kenabian pada diri Nabi Muhammad sewaktu kecil. Wahyu yang manakah yang mereka pahami tersebut, bukankah Injil telah diselewengkan?”. Menjawab pertanyaan tersebut Azka mengatakan bahwa adanya orang seperti Waraqah Bin Naufal mengindikasi bahwa ahlul kitab atau orang yang beriman kepada kitab setalah Allah menurunkan kitan Injil sebelum Al-Qur’an itu masih ada yang benar, mereka beriman kepada injil bukan bible. Injil berbeda dengan Bible, Bible telah diselewengkan oleh manusia karena mereka congkak menolak kebenaran wahyu.

SPI #ITJ Jakarta, perkuliahan ke V

Reportase : Rosmayani Nor Latifah

Agama, Bukan Sekedar Persoalan Fanatisme dan Doktrin Belaka

Kamis, 02 April 2015

| | | 0 komentar
Oleh : Rosmayani Nor Latifah

            Dalam kehidupan yang telah berlangsung selama ribuan tahun lamanya satu topic yang bernama “Agama” tampaknya tak pernah habis untuk diperbincangkan, diperdebatkan dan dicari kebenarannya. Terdapat 2 (Dua) kelompok besar segolongan manusia yang dapat dibedakan menjadi mereka yang biasa disebut sebagai kelompok beragama, percaya bahwa seluruh tata kehidupan di dunia ini diatur sedemikian rupanya oleh Yang Maha Kuasa yaitu Tuhan. Percaya pada Tuhan yang satu disebut monoteisme dan yang perccaya pada banyak Tuhan disebut politeisme. Sedangkam kelompok yang mengusung nilai-nilai relativitas dan materi, percaya segala yang terjadi di dunia ini mengalir dengan sendirinya tanpa campur tangan siapapun dan tidak percaya dengan Kuasa Tuhan adalah mereka yang biasa disebut sebagai kaum atheis.

            Di Barat Agama adalah fanatisme, kata para sosiolog. Bahkan ketika seorang selebritinya mengatakan “My religion is song, sex, sand and champagne” juga masih dianggap waras. Mungkin ini yang disinyalir Al-Qur’an ara’ayta man ittakhadha ilaahahu hawaahu (QS 25:43) yang berarti “Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai Tuhannya”. Pada dataran diskursus akademika, makna religion di Barat memang problematic. Bertahun-tahun mereka mencoba mendefinisikan religion  tapi gagal.[1]

            Begitu banyak definisi yang mencoba menyingkap makna agama yang sebenarnya menjadi buktinya nyata bahwa terdapat kebingungan yang kompleks ketika mereka mendefinisikan agama hanya berdasarkan akal, emosi, pengalaman dan intuisi saja.

            F. Schleiemer kemudian mendefinisikan agama dengan tidak terlalu doktriner, agama adalah “Rasa ketergantungan yang absolute” (Feliing of absolute dependence). Demikian pula Whithehead, agama adalah “Apa yang kita lakukan dalam kesendirian”. Tapi bagi pakar psikolog, agama justru harus diartikan dari faktor kekuatan kejiwaan manusia ketimbang faktor sosial dan intelektual. Para sosiolog Barat nampaknya trauma dengan makna agama yang doktriner, sehingga tidak peduli dengan aspek ekstrasosial, ekstrasosiologis ataupun ekstrapsikologis. Aspek imanisme lebih dipentingkan daripada aspek transedensi.[2]

Seiring dengan berjalannya waktu beberapa keyakinan akan mulai terjadi perubahan paradigm berdasar pada banyaknya spekulasi tentang Tuhan di kalangan kaum Yahudi dan Kristen. Berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh Kristen dan Yahudi membuat mereka berlepas dari Wahyu yang merupakan satu-satunya petunjuk dari Tuhan. Inilah yang membuat konsep beragama mereka menjadi salah kaprah.

            Sejatinya, akar kebingungan Barat mendefinisikan religion karena konsep Tuhan yang bermasalah. Agama Barat – Kristen – kata Amstrong dalam History of God justru banyak berbicara Yesus Kristus ketimbang Tuhan. Padahal, Yesus sendiri tidak pernah mengklaim dirinya suci, apalagi Tuhan.[3]
            Padahal menurut Penjelasan Endang Saifuddin Anshari menegaskan bahwa disebut agama jika setidaknya memiliki 3 (tiga) hal, yakni 1) tata keyakinan (sistema credo; 2) tata peribadatan (sistema ritus); 3) tata kaidah (sistema norma).[4] Maka, tidak dapat disebut agama jika tidak memenuhi ketiga syarat tersebut. Ketiga syarat tersebut haruslah berjalan beriringan tanpa terkecuali salah satunya. Apalagi jika hanya beranggapan bahwa agama hanyanya serangkaian fanatisme dan doktrin belaka.
            Islam adalah agama metahistoris, bukan historis. Konsep-konsep mendasarnya (Tuhan, Nabi, wahyu, Kiamat, Peribadatan) tidak berubah sepanjang masa. Ketika Kristen mengalami pergeseran konsep Tuhan, keselamatan, ibadah, seperti pada saat Konsili Toledo III di Spanyol 586 M dan Konsili Vatikan II (1962-65), maka yang tersisalah Islam yang masih genuine dengan konsep-konsep dasarnya yang tidak pernah berubah di mmeja Konsili, laksana agama Barat yang terjatuh kepada agama kebudayaan ,buatan dalam pengemalaman sejarah, terkandung dalam sejarah.[5]

Islam menjadi satu-satunya agama yang masih terjaga kemurnian Wahyunya. Dalam Al-Qur’an Surat Al Imran ayat 19 Innadinna ‘Indallahil Islam bahwa Allah telah menegaskan bahwa Sesungguhnya agama yang diridhai Allah hanyalah Islam. Arti kata Agama atau bahkan Religion terlalu sempit untuk sebuah arti kata Addin. Addin dapat bermakna berserah diri, Taat, keberhutangan ataupun kecenderungan. Sehingga dalam ayat tersebut mengandung maksud sesungguhnya jalan yang diridhai Allah hanyalah berserah diri kepada Allah. Ini membuktikan bahwa Islam adalah murni Agama wahyu atau yang biasa disebut metahistoris.




[1] Hamid Fahmy Zarkasyi, Misykat, Refleksi tentang Islam, Westernisasi dan Liberalisasi, Jakarta: INSISTS, Cet. I, 2012, hlm. 20

[2] Hamid Fahmy Zarkasyi, Misykat, Refleksi tentang Islam, Westernisasi dan Liberalisasi, Jakarta: INSISTS, Cet. I, 2012, hlm. 20-21
[3] Hamid Fahmy Zarkasyi, Misykat, Refleksi tentang Islam, Westernisasi dan Liberalisasi, Jakarta: INSISTS, Cet. I, 2012, hlm. 21
[4] Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama: Pendahuluan, Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi, Surabaya :: PT. Bina Ilmu, 1979, hlm. 126-127
[5] Norman P. Tanner, Konsili-Konsili Gereja, Yogyakarta: Kanisius, 2003, hlm. 35-41.

Islam Bukan Agama Hasil Spekulasi Historis

| | | 0 komentar
Hingga saat ini, Agama selalu menjadi kajian yang menarik untuk ditelisik mulai dari kemunculan, pemaknaan ataupun perbedaan definisi yang berlainan dalam memandang konsep agama yang berbeda-beda antar penganut keyakinan. Karena konsep agama yang diyakini oleh seseorang akan sangat mempengaruhi nilai-nilai dan sudut pandang manusia dalam kehidupan di dunia.

“Maka agama Kristiani, agama Barat sebagaimana agama-agama lain yang bukan Islam adalah agama kebudayaan, agama buatan manusia yang terbina dari pengalaman sejarah, yang terkandung oleh sejarah yang dilahirkan serta dibela dan diasuh dan dibesarkan oleh sejarah.” Ungkap peneliti INSIST Wido Supraha, M.Si pada perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJILwilayah Jabodetabek yang diselnggarakan pada hari Kamis, 25 Maret 2015 dengan tema “Konsep Addin”.

Dalam perkuliahan yang digelar di Aula INSIST di daerah Kalibata, Jakarta Selatan ini, Wido juga membahas berbagai pandangan dan definisi agama, dari pemikiran  orang-orang barat bahwa agama hanyalah seperangkat doktrin, kepercayaan dan ajaran Tuhan yang bersifat universal dan mutlak kebenarannya. “Kata-kata ajaran Tuhan yang di dahului dengan kata doktrin sebelumnya ini membingungkan darimana doktrin tersebut berasal” ujar wido beretorika.

Selanjutnya, menurut Wido agama selain Islam sangat kental dengan pencampuran aspek historis atau sejarah seperti halnya agama Kristen yang memiliki persoalan dengan sejarah. Banyak kitab-kitab Injil yang ditulis setelah wafatnya Isa, sehingga mereka menafsirkan kitab-kitab tersebut dengan teknik hermeneutika yaitu dengan mencongkel-conkel sejarah dan menafsirkan sendiri setiap kejadiannya. Begitu juga dengan Hindu dan Budhha yang dikenal sebagai agama budaya, segala konsep Tuhan dan Agamanya mengikuti budaya tempat berkembangnya.

“Dalam Al-Qur’an Surat Al Imran ayat 19 Innadinna ‘Indallahil Islam bahwa Allah telah menegaskan bahwa Sesungguhnya agama yang diridhai Allah hanyalah Islam. Agama terlalu sempit untuk sebuah arti kata Addin. Addin dapat bermakna berserah diri, Taat, keberhutangan atau[un kecenderungan. Sehingga dalam ayat tersebut mengandung maksud sesungguhnya jalan yang diridhai Allah hanyalah berserah diri kepada Allah. Ini membuktikan bahwa Islam adalah murni Agama wahyu atau yang biasa disebut metahistoris” Ujar Wido.


Kuliah Tersebut ditutup dengan penyataan mengenai Islam sebagai agama lintas waktu dan tempat. Menurut wido itulah bukti kesempurnaan Islam. Konsep Islam yang bersifat fleksibel dapat diterima  disetiap zaman dan tempat merupakan janji Allah bahwa Islamlah agama yang diridhai.

Kuliah Ke- IV SPI #IndonesiaTanpaJIL angkatan 2
Reportase : Rosmayani Nor Latifah

Mengenal Tuhan Tak Cukup Jika Hanya Dengan Akal Saja

Kamis, 26 Maret 2015

| | | 0 komentar

Oleh : Rosmayani Nor Latifah
Pada dasarnya keyakinan seseorang berawal dari bagaimana dia mengenal konsep Tuhan yang dia yakini. Karena segala aspek kehidupan seseorang seperti halnya pandangan hidup, tujuan hidup dan cara-cara pencapaiannya tersebut sangat dipengaruhi oleh keyakinan akan konsep ketuhanan.
Para pemeluk Agama seyogyanya memiliki keyakinan bahwa Tuhanlah yang mengatur dan paling berpengaruh terhadap apa yang telah terjadi terhadap dirinya dan alam semesta di dunia ini. Sedangkan yang tidak mengakui adanya Tuhan atau atheis pada dasarnya mereka sangatlah mencintai Tuhan. Karena mereka secara lisan berkata tidak percaya dengan Tuhan, namun pikiran mereka selalu memikirkan Tuhan.
Tuhan dalam Perhelatan peradaban Barat memang problematic. Sejak awal era modern, Francis Bacon (1561-1626) menggambarkan mindset manusia Barat begini : Theology is known by faith but philosophy should depend only upon reason. Maknanya, teologi di Barat tidak masuk akal dan berfilsafat tidak bisa melibatkan keimanan pada Tuhan. [1]
Pengalaman Barat yang traumatis dengan hegemoni gereja dalam urusan doktrin ilmu pengetahuan dan inkuisisi telah mengakibatkan ilmu pengetahuan melesat jauh melalui epistimologi sekulernya tanpa adanya pegangan Wahyu. Sehingga wajar saja jika aktifitas ilmu yang dihasilkan merupakan buah dari perenungan, spekulasi dan kajian filosofis semata yang sewaktu-waktu bisa berubah dengan mudahnya.
Syed Muhammad Naquib al-Attas mengatakan, Westernisasi ilmu yang bersumber kepada akal dan panca-indera belaka telah melahirkan berbagai macam faham pemikiran seperti rasionalisme, empirisme, skeptisisme, relatifisme, ateisme, agnostisme, humanisme, sekularisme, eksistensialisme, materialisme, sosialisme, kapitalisme dan liberalisme. Westernisasi ilmu bukan saja telah menceraikan hubungan antara alam dan Tuhan, namun juga telah melenyapkan Wahyu sebagai sebagai sumber ilmu.[2]
Islam mengajarkan cara mengenal Tuhan melalui tiga aspek, yaitu panca indera, akal dan wahyu. Ketiga aspek inilah yang tidak dimiliki oleh keyakinan yang lain, karena sebagian besar keyakinan hanya memiliki paradigm berdasarkan spekulasi yang berubah-ubah. Sedangkan Islam lebih unggul karena memiliki wahyu Tuhan yang masih murni terjaga keasliannya.
Pada konsep “sains Islam” mengadopsi tiga sumber ilmu, yaitu (1) panca indra (al-hawasul khamsu), (2) akal dan (3) khabar shadiq (true report), sebagaimana disebutkan dalam pembukaan Kitab al-Aqaid an-Nasafiyah. Sains Islam melihat fenomena alam sebagai ayat-ayat Allah, yang harus dijadikan sebagai petunjuk untuk “menemukan” Allah SWT. Alam juga harus diperlakukan sesuai dengan ketentuan Allah, bukan untuk dieksploitasi dengan semena-mena, sesuai dengan keinginan manusia semata. Al-Quran menyebut manusia yang gagal menemukan Allah melalui ayat-ayat-Nya di alam semesta dan dalam diri manusia (ayat kauniyah), adalah laksana binatang ternak (kal-an’am), bahkan lebih sesat dari binatang ternak (QS al-A’raf:179).[3]
Panca indera dan akal seyogyanya digunakan untuk membuktikan kebenaran Allah dengan memikirkan dan mengamati segala kejadian alam semesta, sedangkan Wahyu sebagai penuntun untuk mengerti sifat dan dzat Allah. Islam memiliki jati diri Tuhan yang jelas, memiliki nama dan sifat-sifat yang jelas. Tak perlu penjelasan panjang lebar dan berbelit-belit, penjelasan tentang Tuhan dalam Islam tergambar gamblang dalam Al-Qur’an pada surah Al-Ikhlas.
Katakanlah, "Dia-lah Allâh, Yang Maha Esa. Allâh adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."



[1] Hamid Fahmy Zarkasyi, Misykat, Refleksi tentang Islam, Westernisasi dan Liberalisasi, Jakarta: INSISTS, Cet. I, 2012, hlm. 17
[2] Kholili Hasib, “Prinsip Epistemologi Sebagai Asas Islamisasi Ilmu Pengetahuan” 29 November 2103 http://inpasonline.com/new/prinsip-epistemologi-sebagai-asas-islamisasi-ilmu-pengetahuan/ [ONLINE], HTML, 26 Maret 2015
[3] Dr. Adian Husaini, Sains Islam: Sarana Membentuk Manusia Beriman, Bertakwa, dan Berakhlak Mulia” 12 Mei 2014 http://inpasonline.com/new/sains-islam-sarana-membentuk-manusia-beriman-bertakwa-dan-berakhlak-mulia/ [ONLINE], HTML, 26 Maret 2015

 


Akmal Sjafril : Hanya Islam yang Memiliki Konsep Ketuhanan Paling Logis

Jumat, 20 Maret 2015

| | | 0 komentar
Pemahaman akan konsep ketuhanan merupakan pondasi awal dari keyakinan seseorang. Karena keyakinan terhadap Tuhan mempengaruhi pandangan hidup manusia dalam segala aspek kehidupannya.        Maka, menjadi sangat penting untuk mengenal secara mendalam bagaimana sifat Tuhan bagi umat beragama. Sedangkan mereka yang tidak meyakini adanya Tuhan atau ateis akan mendefinisikan segalanya sendirian, termasuk juga mendefinisikan ‘Tuhan’ itu sendiri. Ada, misalnya, yang mendefinisikan ‘Tuhan’ sebagai khayalan manusia belaka. Tuhan, katanya, hanya sebatas ide, dan karena itu, tergantung bagaimana cara menggambarkan Tuhan di dalam kepalanya masing-masing.

Demikian penjelasan Akmal Sjafril M.Pd.I.  saat memberikan materi Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL Angkatan Kedua bertema “Konsep Tuhan sebagai Asas Worldview yang digelar di Aula Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization (INSIST), Jakarta, Kamis (19/03/2015).

“Diperlukan perbandingan berbagai macam keyakinan untuk menentukan konsep Tuhan mana yang terbaik, diterima oleh akal, logis dan sesuai dengan fitrah manusia” ujar penulis buku Islam Liberal 101 ini.

Selanjutnya, Akmal menjelaskan berbagai macam keyakinan dengan konsep ketuhanan yang berbeda-beda dimulai dari konsep Tuhan dalam mitologi Yunani, teori Charles Darwin, Agama Islam, Kristen, Hindu, Budha hingga Atheis. Akhirnya didapatkan kesimpulan bahwa konsep ketuhanan yang dimiliki Islam yang paling logis dan sesuai dengan fitrah manusia karena Islam mengajarkan cara mengenal Tuhan melalui tiga aspek, yaitu panca indera, akal dan wahyu. Ketiga aspek inilah yang tidak dimiliki oleh keyakinan yang lain, karena sebagian besar keyakinan hanya memiliki paradigm berdasarkan spekulasi yang berubah-ubah. Sedangkan Islam lebih unggul karena memiliki wahyu Tuhan yang masih murni terjaga keasliannya.

“Panca indera dan akal digunakan untuk membuktikan kebenaran Allah dengan memikirkan dan mengamati segala kejadian alam semesta, sedangkan wahyu sebagai penuntun untuk mengerti sifat dan dzat Allah. Islam memiliki jati diri Tuhan yang jelas, memiliki nama dan sifat-sifat yang jelas. Tak perlu penjelasan panjang lebar dan berbelit-belit, penjelasan tentang Tuhan dalam Islam tergambar gamblang dalam Al-Qur’an surat Al-Ikhlas yang berisi 4 ayat” Tutur penggiat gerakan #IndonesiaTanpaJIL tersebut.


SPI #IndonesiaTanpaJIL angkatan kedua ini telah menginjak pada pertemuan ketiga. Dihadiri oleh 40 peserta dan salah satunya memberikan respon positif “Saya jadi mengerti tentang konsep Tuhan ternyata sangat mempengaruhi pandangan hidup seseorang, bahkan hingga tataran teknis kehidupannya. Dari kajian ini, saya juga jadi mengetahui bahwa ternyata sejarah mencatat bagaimana kekeliruan memahami konsepsi Tuhan dapat berakibat fatal bagi kehidupan manusia” ungkap Hilda Diana salah satu peserta SPI yang juga tercatat sebagai mahasiswi UNJ.
Reportase : Rosmayani Nor Latifah

Perbedaan Mendasar Antara Worldview Islam dengan Worldview Barat dalam Memahami Ilmu Pengetahuan

Kamis, 19 Maret 2015

| | | 1 komentar
Oleh : Rosmayani Nor Latifah

Bagaimana Anda memahami ilmu? Dlm bhs Indonesia, worldviewnya tdk terlihat. 
"Ilmu-dunia-alam semesta-tanda2-Tuhan" 
 kata2 ini tdk jelas korelasinya

Demikian juga bhs Inggris: 
"knowledge-world-universe-signs-God" 
tidak jelas korelasinya.

Tapi lihat bahass wahyu kita, bahasa Arab: 
'"ilm-'alaam-'aalamiin-'alaamaat-Al-'Aliim"
 Semua kata-kata ini kelihatan korelasinya karena seakar kata. 
Maka ilmu bg seorang Muslim adalah alat utk menelaah alam semesta 
krn ia merupakan tanda2 bagi Al-'Aliim, 
yaitu Allah SWT.


Bagi org sekuler, knowledge tdk ada korelasinya dgn God. 
Tapi bagi Muslim, ilmu itu utk mengenal Allah. 
Ada perbedaan sangat besar di sini.
Konsep ilmu yg berbeda akan hasilkan cara menuntut ilmu yg berbeda, 
dan cara memanfaatkan ilmu yg berbeda pula.

Karakter seseorang pada didasarnya sangat dipengaruhi oleh worldview atau yang lebih dikenal sebagai pandangan hidup. Pandangan hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh keyakinan, agama, kultur dan tradisi.

Baik buruknya perilaku dikendalikan oleh pemikiran manusia. Lebih dari itu ia diatur oleh keyakinannya. Ninian Smart memberikan makna worldview terkait dengan etika. Menurutnya, worldview adalah kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang befungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral Pembentukan cara pandang ini tidak lain melalui aktifitas keilmuan.[1]

Sebagai muslim seyogyanya kita hidup berdasarkan pandangan yang dibangun atas konsep dasar yang bersumber dari wahyu Allah SWT. Karena pandangan hidup selain berdasarkan wahyu Allah hanya akan mengantarkan pada kehancuran dan kesesatan.

Islamic Worldview bukanlah ajaran baru dalam Islam. Sebab, Islam adalah agama yang sudah sempurna sejak awal. Islam tidak berkembang dalam sejarah. Konsep tajdid (pembaruan) dalam Islam, bukanlah membuat-buat hal yang baru dalam Islam, tetapi merupakan upaya untuk mengembalikan kemurnian Islam. Ibarat cat mobil, warna Islam adalah abadi. Jika sudah mulai tertutup debu, maka tugas tajdid adalah mengkilapkan cat itu kembali, sehingga bersinar cerah seperti asal mulanya, dan bukannya mengganti dengan warna baru yang berbeda dengan warna sebelumnya. Islamic worldview adalah upaya perumusan ajaran-ajaran pokok dalam Islam, yangformulasinya disesuaikan dengan tantangan zaman yang sedang dihadapi oleh kaum Muslimin. Karena saat ini yang sedang mendominasi umat manusia – termasuk umat Islam – adalah pemikiran Barat yang sekular-liberal, maka konsep Islamic Worldview ini pun dirumuskan agar kaum Muslim tidak terjebak atau terperosok dalam pemikiran-pemikiran yang dapat merusak keimanannya.[2]

Sebagai bentuk intropeksi akan kondisi umat Islam terkini, maka munculah pertanyaan apakah hidup kita selama ini sudah menggunakan cara pandang yang bersumber dari Wahyu Allah? Atau kita secara perlahan tanpa disadari telah mengikuti pandangan-pandangan yang hanya indah dalam bait-bait retorika dan spekulasi saja. Karena terdapat perbedaan pandangan antara The Worldview of Islam yang bersumber pada wahyu dengan The Worldview ala barat yang bersumber pada spekulasi. Walaupun kedua pandangan  ini sama-sama menghasilkan aktifitas ilmiah dan berimbas pada tersebarnya ilmu pengetahuan beserta pengamalannya. Namun, keduanya sangatlah berbeda dan tidak dapat dipersatukan.

            Sekularisme adalah produk Worldview barat yang tidak cocok dengan Islam sama sekali. Sebab Worldview barat dan Islam kenyataannya memang sangat berbeda. Menurut sohail sekularisme di Barat digunakan untuk memisahkan Negara dari otoritas agama. Tujuannya agar kedamaian dapat dipertahankan dalam masyarakat plural. Dengan menganut sekularisme juga, kewarganegaraan tidak ditentukan oleh agama dan kepercayaan, tapi bergantung kepada hak dan kewajiban masing-masing warganegara. Namun, kenyataannya di Negara-negara Islam, sekularisme dipahami sebagai antiagama dan anti-Islam.[3]

            Worldview Barat tidak hanya memisahkan otoritas agama terhadap negar namun juga terhadap ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dianggap hasil dari berbagai perubahan paradigm dan spekulasi. Hal tersebut jika ditelusuri  terdapat sejarah traumatic atas hegemoni gereja yang telah mematikan ilmu pengetahuan, sehingga munculah sekulerisasi pemisahan ilmu pengetahuan dan agama.

Berkait dengan sekularisme, pada awalnya masyarakat Barat terkekang oleh gereja. Gereja memegang kontrol penuh terhadap setiap lini kehidupan masyarakat Barat, baik dalam urusan agama dan keyakinan, sosial-kemasyarakatan, urusan keilmuan, ekonomi, politik, kenegaraan, dan lain sebagainya. Tak boleh ada satu hal pun yang boleh berseberangan dengan doktrin gereja. Jika sampai ada yang berbuat bidah atau menyimpang dari Bibel atau ajaran gereja, maka hukumannya adalah inkuisisi dengan beragam jenis siksaan yang sangat mengerikan.  Masa itu adalah masa  ketika akal masyarakat tak boleh berkembang dan tak boleh melontarkan pemikiran yang tidak sesuai dengan doktri Bibel. Ahlasil, masyarakat Barat pun saat itu terjerumus ke dalam jurang kebodohan dan kemunduran karena kehidupan mereka dikontrol penuh oleh gereja.[4]

                Dalam memaknai ilmu pengetahuan perbedaan yang sangat mendasar antara  Worldview Islam dan Worldview ala Barat. Islam menemukan berbagai Ilmu Pengetahuan setelah mengkaji wahyu dan membaca ayat-ayat kauniyah. Sebagai mana Firman Allah dalam Surah Yunus, ayat 101 :

Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi, Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-Rasul yang member peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”(Q.S Yunus :101)

            Sehingga, pada dasarnya dengan Worldview Islam  mempelajari ilmu pengetahuan akan semakin menambah  keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Berbagai penemuan akan semakin membuat penemunya memuji kebesaran Allah. Sebagai contoh, banyak ilmuwan-ilmuwan Muslim pada zaman pertengahan yang memberikan sumbangsih begitu besar kepada dunia di dunia ilmu pengetahuan, sebut saja Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al-Khawarijmi, Al-Biruni dan masih banyak lagi mengahasilkan karya yang luar biasa berawal dari pemaknaan wahyu Allah yang mendalam.

            Seperti dalam Firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 147 bahwa Alhaqqu min rabbika falatakuunanna mina almumtariina yang berarti kebenaran itu dari Rab-mu, maka jangan sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang ragu. Allah sudah sedemikian rupa mengatur kehidupan manusia dengan sempurna dimuka bumi ini. Al-Qur’an pun begitu lengkapnya mengatur tata kehidupan manusia yang mencakup ilmu muamalah, politik, ekonomi, akhlak dan lain sebagainya. Ilmu pengetahuan yang didasari oleh Worldview Islam bersumber pada Wahyu tersebut, akan membentuk pribadi yang beradab dan penuh tanggung jawab serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai investasi akhirat. Sebagaimana dalam kitab Shahih Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Hajjaj bin Minhal dari Syu’bah dari Alqamah bin Martsad dari Sa’ad bin Ubaidah dari Abu Abdirrahman As-Sulami dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”




[1] Kholili Hasib “Pendidikan Berbasis Worldview Islam”, 9 Februari 2013, http://kholilihasib.com/pendidikan-berbasis-worldview-islam/ [ONLINE], HTML, 19 Maret 2015.
[2] Adian Husaini “ Untuk Apa Belajar Islamic Worldview” dalam Materi SPI ITJ Angkatan 2
[3] Hamid Fahmy Zarkasyi, Misykat, Refleksi tentang Islam, Westernisasi dan Liberalisasi, Jakarta: INSISTS, Cet. I,
2012, hlm. 174
[4] Mohammad Achyat Ahmad “Mewaspadai Jebakan Sepilis” 8 November 2014 http://inpasonline.com/new/mewaspadai-jebakan-sepilis/ [ONLINE], HTML, 19 Maret 2015