Tampilkan postingan dengan label Ekspedisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekspedisi. Tampilkan semua postingan

Sudut Lain Bumi Pertiwi

Rabu, 12 Agustus 2015

| | | 0 komentar
Tengoklah sejenak kawan
Ini adalah kisah tentang sebuah perjuangan dan juga harapan.
Agar bumi pertiwi terbebas dari kerusakan
Oleh mereka yang mengaku Memajukan peradaban
Namun tujuan utamanya adalah uang
Tidak adakah keinginan untuk selaras dengan alam?

Atau mungkin mereka sudah tak takut lagi dengan azab Tuhan.

Tengoklah sejenak saja kawan
Ini tentang sebuah kenyataan
Makna akan sejengkal tanah kelahiran
Yang tengah diperebutkan..[yAn]

-----------------------------------------
Terimakasih kepada Tim Ekspedisi Indonesia Biru
Yang telah membuka cakrawala
Tentang sudut lain Bumi Pertiwi ini









Pesona Pelaihari : Pantai Takisung

Selasa, 04 Agustus 2015

| | | 0 komentar
Hari ketiga dibulan Syawal yang lalu saya kedatangan tamu dari Banjarmasin seorang kawan ketika menempuh pendidikan sarjana di ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya dulu, tepatnya dia adalah adik junior saya di kampus walaupun berbeda jurusan tetapi kami sering bertemu dalam beberapa event kampus. Sebenarnya sayalah yang mengundangnya untuk berkunjung kerumah saya mengingat kawan tersebut tak bisa pulang ke Kampung halamannya di Kota Kediri Jawa Timur akibat dari Bandara yang di tutup sebab Erupsi Gunung Raung beberapa saat yang lalu.

“Nenek bagaimana jalan ke rumahmu? Aku di km 4,5 jl. A. Yani Banjarmasin” tanyanya melalui chatting whatsapp. Abaikan tentang panggilan “nenek” entah saya lupa telah punya julukan apa saja sewaktu kuliah dulu.  Kembali dengan jalan A. Yani sangat familiar di provinsi Kalimantan Selatan. Bagaimana tidak jalan ini adalah jalan terpanjang di Kalimantan Selatan merupakan jalan lurus melintang sepanjang lebih dari 400 km dengan nama yang sama yaitu A.Yani mulai dari ujung selatan Kalimantan Selatan yaitu Kota Pelaihari hingga melewati Banjarbaru, Banjarmasin, hingga Tanjung dan perbatasan Kalimantan Timur. Jadi kalau mencari alamat di Kalimantan Selatan jika keterangannya hanya Jl. A.Yani saja tanpa ada petunjuk km (kilo meternya) bisa-bisa kesasar dengan menyusuri jalan yang memiliki panjang lebih dari 400 km ini. Walau pun jalannya lurus saja bukan berarti datar karena Kalimantan Selatan merupakan Kawasan yang di lintasi pegunungan yang dinamai Pegunungan Meratus, karena ada ratusan Gunung jalannya sudah pasti naik turun.

“Oke dari km 4,5 Jl. Ayani lurus ada pertigaan belok kiri nanti ada pertigaan Liang anggang belok kiri lagi udah lurus aja sampai ada bank kalsel itu sudah Pelaihari nanti saya jemput” Yah, jalanan di Kalimantan memang lurus-lurus saja tak banyak cabang tak banyak belokan. Sama seperti saya yang berhati lurus ini (XD). Dari km 4,5 Jl. A. Yani Banjarmasin menuju Kota Pelaihari harus ditempuh dengan perjalanan maksimal 2 jam, jarak tempuh sekitar 60 km.

Benar saja pukul 10.00 kawan tadi telah sampai di depan Bank Kalsel. Dari rumah saya lumayan dekat sekitar 3 km. “nenek, aku menikmati perjalanannya pemandangan hijau di sisi kiri dan kanan dengan jalan lurus naik turun kayak di Malang kalau lewat jalur Ngantang tapi ini gak berkelok curam, lurruuss aja” ceritanya rizka histeris (oh. Iya kawan saya bernama Rizka). Okeh, masih semangat lanjut berpetualang! Kebetulan sekali karena hari ini ayah telah berjanji untuk mengajak jalan-jalan kepada adik, kakak, keponakan serta anak tetangga di tambah saya dan juga Rizka (dan kesemuanya adalah perempuan kecuali ayah saya hoho).

Pertama kami ke pantai Takisung, Pantai terdekat dari kota Pelaihari yang hanya berjarak 22 km, ini adalah Pantai yang terdapat di pucuk paling Selatan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalau liat di Peta dari kecil yang saya bayangkan ketika melihat Peta Provinsi Kalimantan Selatan itu seperti pantat ayam yang telah matang di goreng, ah mungkin imajinasi saya saja yang berlebihan). Pantai Takisung adalah pantai berpasir merah dan memiliki tebing tinggi dengan tangga berundak untuk bisa melihat pantai dari atas dengan angin laut jawa yang kencang luar biasa. Di pantai bisa menyewa payung besar yang telah tertancap di pasir untuk duduk-duduk sambil memakan bekal. Payung disewa dengan harga 15.000 rupiah. 

awan di Kalimantan itu berasa dekat dan sering beriringan

Ada banyak wisata Pantai lainnya dengan petunjuk arah yang sangat jelas dari Kota Pelaihari, antara lain Pantai Batu Lima, Pantai Batu Dewa, Pantai Batakan, Pantai Swarangan, Pantai Pegatan dsb. satu hari tak cukup rasanya berkeliling semua pantai di Pelaihari.

Selanjutnya kami pergi ke Taman Labirin. Nantikan tulisan berikutnya tentang Taman Labirin, Masih di Pesona Pelaihari =D

untuk dapat memfoto dengan view seperti ini saya  memanjat menara pantau setinggi 4 meter dengan tangga kayu yang tegak lurus 90 derajat fufufu




Pesona Pelaihari Kabupaten Tanah Laut : MT. Bajuin & Goa Marmer

Senin, 03 Agustus 2015

| | | 0 komentar
Tanah Laut adalah salah satu Kabupat3n di Kalimantan Selatan yang memiliki kontur unik, dimulai dari pegunungan, perbukitan hingga pantai terdapat di Kabupaten ini. Itulah sebabnya kenapa Kabupaten ini disebut dengan Kabupaten Tanah Laut, karena terdapat Tanah dan juga Laut. Tanah terhampar dengan view pegunungan, perbukitan, kota desa, lahan pertanian, perkebunan karet dsb. Terdapat laut yang berada di bagian Selatan Kalimantan Selatan berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Pada umumnya penamaan Kabupaten di Kalimantan Selatan kalau saya cermati menunjukkan ciri khas topografi di daerah tersebut seperti Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kab. Hulu Sungai Selatan, Kab. Hulu Sungai Tengah adalah daerah-daerah yang di lewati oleh sungai besar.

Kabupaten Tanah Laut merupakan salah satu dari 8 Kabupaten yang termasuk kawasan Pegunungan Meratus. Kawasan pegunungan meratus tersebut melintang panjang mulai dari selatan hingga utara Kalimanyan Selatan. Salah satu wisata gunung yang merupakan bagian dari kawasan pegunungan meratus di Kabupaten Tanah Laut adalah Gunung Bajuin dimana terdapat Air Terjun Bajuin dan Goa Marmer. Sebenarnya ada beberapa perbukitan yang juga menjadi tempat wisata namun hanya Gunung Bajuin inilah yang menurut saya "pantas" mendapat julukan gunung karena selain lebih tinggi dari pada yang lainnya, juga kondisi alamnya yang lebat dengan pepohonan dan bebatuan besar. Selainnya menurut saya lebih cocok jika disebut perbukitan karena tingginya yang masih berbilang ratusan meter saja diatas permukaan laut, jiga kondisi alamnya yang berupa hamparan padang ilalang, atau sabana walaupun penduduk lokal juga menamainya dengan gunung (Gunung keramaian, gunung raja, gunung khayangan , gunung tembak, gunung rimpi). Terakhir kali saya kesana sewaktu kelas 3 Madrasah Tsanawiyah bersama ayah. Berjarak sekitar 10 km dari Kota Pelaihari kurang lebih 2,5 jam perjalanan melalui jalan beraspal hingga Desa Sungai Bakar terdapat persimpangan dan jalan berganti dengan tanah. Menuju tempat parkir dan membayar karcis (pada masa itu karcisnya 2000 rupiah). Saya dan ayah mulai melakukan trekking menuju air terjun Bajuin. Telah ada jalan berundak dari bebatuan yang memudahkan pengunjung di mulai dari tempat parkir hingga setengah perjalanan menuju air terjun.  Selanjutnya jalan telah berganti dengan jalan setapak. Pemandangan samping kiri dan kanan adalah pepohonan akasia yang lebat, pisang pohon lebat lain yang tidak saya kenali serta bebatuan yang besar-besar banyak pula monyet-monyet yang bergelantungan, kicauan burung parkit dan sesekali terlihat burung elang yang terbang menukik.

Setengah jam perjalanan telah terdengar gemuruh suara air terjun. Langkahpun semakin di percepat jalan menanjak di tapaki dengan penuh semangat. Ternyata tidak sulit untuk mencintai tanah kelahiran, bukan hanya karena saya lahir dan besar di tanah Borneo ini. Namun, karena setiap saya keluar rumah sungguh banyak kecantikan alam yang tersembunyi, kini terbentang di depan mata Air Terjun Bajuin. Ternyata disana juga telah banyak orang-orang yang menikmati keindahan dan kesegaran air terjun. Saya dan ayah berjalan perlahan menuju sisi kanan tebing, kami ingin melihat  the fall water from the top. Tiba-tiba saja ayah yang berjalan di depan terperanjat kaget karena dari arah pepohonan di samping kanan mendesis ular hijau dengan bentuk kepala seperti sendok yang sedang menganga lebar. Dalam bahasa lokal ular jenis ini biasa disebut dengan ular sendok atau ular pucuk. Saya dan ayah sudah tidak asing dengan ular di rumah kami sering kedatangan ular di dapur, pohon jambu, di rumpun serai bahkan di bawah meja belajar kakak ular satu bulan berganti kulit tidak ketahuan hanya ada kulitnya saja yang tertinggal ketika kakak membersihkan kamarnya. Seketika ayah segera mengambil ranting kayu dan menghalau-halau ular tersebut hingga pergi.
Dikawasan ini terdapat 4 buah air terjun dengan ketinggian yang berbeda. Air terjun yang terdekat yang baru saja saya kunjungi tadi memiliki ketinggian sekitar 25 meter, yang kedua sekitar 17 meter, yang ke 3 (37 meter) dan yang keempat (18 meter).

Salah satu dari 4 Air Terjun Bajuin


Tidak jauh dari lokasi air terjun terdapat wisata Goa Marmer. Dengan perjalanan sekitar 30 menit. Goa ini memiliki batu yang berukuran besar dan mengkilap berwarna pucat seperti marmer yaitu putih, kuning dan krem. Gelap menuju ke dalam Goa dan terlihat mata-mata menyilaukan dari kelelawar yang bergentungan di atas Goa. Yang di sayangkan adalah telah banyak terdapat lubang bekas galian di sana sini, sepertinya warga sekitar mengambil batu-batu tersebut untuk di jual.

Batu ini seakan melayang 

Matahari mulai meninggi karena kami berangkat di pagi hari. Akhirnya kami pun menyudahi wisata ke Gunung Bajuin, padahal ingin sekali ke puncaknya melihat Kota Pelaihari dari puncak Gunung Bajuin Tentu menyenangkan yah walaupun Gunung ini hanya memiliki ketinggian mungkin di bawah 2000 mdpl (tidak ada keterangan yang pasti tingginya berapa) mungkin lain kali akan ke Gunung Bajuin lagi untuk melihat puncaknya. karena dari setiap penjuru Kota Pelaihari dari arah manapun dapat melihat Puncak Gunung Bajuin. Setiba di parkiran ayah menanyakan kepada warga berapa waktu yang dibutuhkan jika ingin melakukan pendakian ke puncak gunung, bukannya menjawab pertanyaan ayah orang yang di tanya malah bergidik ngeri sambil berkata “wah saya aja gak berani pak ke puncaknya kemarin wagra sini di serang beruang di daerah dekat puncak sampai robek-robek badannya”.

Itu adalah pengalaman pertama kali mendaki gunung bersama ayah 9 tahun yang lalu. Ah mendaki sejak saat itu menjadi candu selalu menyenangkan terucap nikmat dan syukur saat memandang tak jemu akan tanda-tanda kebesaranNya 

Ekspedisi Sayap Garuda : Belajar Permakultur di Pasantren Ath-Thariq #Garut

Minggu, 15 Februari 2015

| | | 0 komentar
Pesantren Ath Tharriq terletak di dekat area Perkantoran Pemerintahan Daerah (Pemda) Kabupaten Garut. Berada di tengah persawahan yang tersisa dari kepungan proyek perumahan.  Pesantren ini berlokasi di tengah perkampungan urban, dimana penduduknya sebagian berasal dari desa–desa sekitar Garut yang datang ke kota untuk mengadu nasib. Pesantren ini juga berada sangat dekat dengan sebuah Perguruan Tinggi, tepat di Kelurahan Sukagalih RT/RW 04/12, Kecamatan Tarogong Kidul.

Yang berbeda dari pesantren biasanya, pesantren Ath-Thariq merupakan sebuah pesantren berbasis permakultur yang terletak di Kota Garut. Permakultur merupakan cabang ilmu ekologis yang mendesain sebuah sistem pertanian yang berkelanjutan dan terintegrasi yang tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan pangan manusia saja, namun juga memperhatikan siklus ekosistem flora dan fauna yang ada.

Dua orang peserta Indonesia Bangun Desa (IBD) angkatan ke dua Lusi dan Yani mengadakan kunjungan dalam rangka mempelajari permakultur di Pesantren Ath-Thariq Garut pada hari minggu dan senin, 25-26 Januari 2015. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Nissa Wargadipura bersama suaminya Ibang Lukmanurdin selaku pengasuh Pesantren Ath-Thariq.

“Etika permakultur yang mencakup peduli bumi, peduli semesta dan peduli masa depan merupakan rangkaian dari pada menjaga ekosistem dari kerusakan yang diperbuat oleh manusia. Di pesantren ini kami mencoba menerapkan kepedulian tersebut dengan berlandaskan aqidah islam yang merupakan rahmatan lil’alamin yang artinya merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan, apalagi sesama manusia. Caranya ialah dengan membangun kebiasaan – kebiasaan berperilaku ramah lingkungan yang dibentuk sejak dini dan dibiasakan terus menerus oleh para pelaku belajar di pesantren, terutama pada para santri kami. seperti menyemai, pengelolaan sampah dapur dan plastik, membuat kompos dari lingkungan sendiri, bertanam sayuran organik, dan sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia” terang pengasuh pesantren yang akrab dipanggil Abi Ibang tersebut memulai diskusi akan pentingnya pertanian organik berkelanjutan untuk menjaga ekosistem lingkungan.

Suasana di pesantren memang sangat asri di sekeliling terlihat rumpun tanaman sereh yang sangat banyak, sereh selain berfungsi untuk bumbu dapur, dan obat herbal juga digunakan untuk tempat bersarang sebagai predator tikus yang kerap kali meresahkan manusia dani perusak tanaman padi. Selain sereh juga terdapat banyak tanaman gumitir  yang berfungsi sebagai pengusir hama. Penerapan pestisida alami merupakan bagian dari keterpaduan ekosistem yang mendukung permakultur.

“Selain memperdalam ilmu agama di pesantren ini, harapan saya  pesantren ini bisa menjadi pesantren yang bisa membentuk pribadi yang mandiri dan juga mandiri pangan. Kita membuat benih, pupuk, pestisida dan fungisida alami sendiri. Sehingga pangan yang kita olah benar-benar yang alami dari kita untuk kita” terang umi Nissa Wargadipura.

Dua hari peserta Indonesia Bangun Desa (IBD) telah belajar banyak hal di pesantren tersebut antara lain adalah membuat kompos bekas cacing, mol (mikro organisme lokal), zat perangsang tumbuh tanaman, herbal, pembenihan, mengetahui ph tanah secara alami dan mengetahui kandungan unsur hara tanah.


“Saya sangat senang ketika ada anak muda yang mau belajar dan terus berkarya untuk negri agraris kita, ajak teman-teman kalian untuk belajar bersama disini” ujar umi Nissa. 

Membuat kompos bekas cacing (kascing)
dengan bahan-bahan :
1. irisan gedebok pisang
2. bubur kertas
3. kotoran domba
4. cacing lumbricus luberus


 diskusi tentang permakultur dengan abi Ibang Lukman

Membuat mol dari :
1. potongan kecil jantung pisang
2. cucian air beras
3. gula 2 sendok makan

 Gaya tulisan Berita pers hahaha XD


Ekspedisi Sayap Garuda #Bogor : Kerajinan Bunga Kering OSHIBANA

Jumat, 06 Februari 2015

| | | 0 komentar
Ekspedisi Sayap Garuda : tak sekedar jalan-jalan, namun pencari ilmu untuk kebermanfaatan

"yan, ayok besok ke festival bunga dan buah nusantara, aku tadi ketemu ibu-ibu alumni IPB baik banget, mau ngajarin kerajinan bunga kering namanya kerajinan oshibana. kamu pasti suka"
icha, seorang kawan yang selalu riang gembira asal lampung itu mengajakku untuk belajar kerajinan oshibana.
"oshibana? aku belum pernah denger cha, pernah dengernya ikebana kerajinan merangkai bunga juga. bedanya apa? tadi di foto gak oshibananya?"
tanyaku penasaran. benar sekali tebakan icha aku tertarik nyiahahaha. karena memang sejak SD suka bikin beginian:


nempel-nempelin bunga jagung kering, dan bunga rumput-rumputan

"hmmm.. apa ya bedanya tadi sih bunga-bunganya bisa di bentuk pembatas buku, bros, lukisan, ayok coba tanya mbah google oshibana apaan hehehe" kata icha terkekeh

Oshibana adalah seni merangkai atau menghias dengan bunga atau dedaunan yang dikeringkan dengan cara ditekan. Oshibana berasal dari bahasa Jepang 'oshi' artinya ditekan dan 'bana' artinya bunga. Agak mirip dengan herbarium yang murni pengeringan bunga atau tumbuhan kering dan berwarna kecoklatan, dalam penerapannya oshibana bisa menghasilkan bunga kering yang masih berwarna aslinya.

tuh sumber dari wikipedia tentang oshibana. jadi tekniknya adalah "press" / tekan. okeh keesokan harinya aku dan icha menuju kampus IPB Baranang Siang menemui ibu Ika untuk belajar teknik kerajinan bunga kering oshibana


si Icha minta di foto dulu nih "nyanii potoin akuuh =="

oh iya, ini pertama kalinya aku ke festival buah dan bunga Nusantara yang diadakan oleh IPB, Semacam pameran dengan berbagai macam stand mengenai bunga dan buah nusantara, mulai dari aneka bunga, buah, di mulai dari pengrajin bunga hias, bibit lokal, teknologi penanaman, sampai berbagai nutrisi pertumbuhan bunga dan buah. festival bunga buah ini di isi dengan berbagai macam kegiatan menarik seperti seminar pelestarian bibit lokal, perlombaan merangkai bunga dan buah, bagi-bagi buah dan bibit gratis. acara ini berlangsung selama 3 hari jum'at, sabtu dan minggu. dan di akhir kegiatan ada long march menggunakan kostum buah-buahan dan bunga. unik sekali melihatnya.

kembali ke oshibana. aku dan icha langsung menuju stand alumni IPB. bu Ika sudah menunggu di sana. "awalnya saya suka dengan bunga-bunga, menanam bung dan mengumpulkan bunga liar, kemudia di ajarkan teman saya bagaimana cara mengawetkan bunga yang masih menjaga keaslian warna dari bunga tersebut dengan menggunakan teknik yang di sebut oshi bana. saya senang membuatnya dan akhirnya banyak yang tertarik. hingga ketika ada acara jejepangan saya seringkali mendapat undangan untuk pameran oshibana"
terang bu Ika yang merupakan alumnus IPB. berawal dari hobi dan kesenangan sekarang memiliki produk dan siap jalan-jalan gratis setiap ada acara jejepangan. enak sekali ya. pengen dah kayak gitu hihi

okeh lanjut saja. gimana sih bikin oshibana itu, berikut tahapannya :

Pemilihan Bunga
1. Pilih bunga dan daun yang kandungan airnya tidak banyak
2. lakukan pemetikan pada saat udara cerah, jangan pada saat setelah hujan. 
3. setelah di petik segera lakukan pengepressan jangan tunggu sampai lama sebab bunga akan layu

Alat & Bahan
1. Gunting
2. Cutter
3. Pinset
4. Setrika

Alat Pengering
1. Kertas Buram
2. Busa
3. Kertas Minyak
4. Kantong plastik klip
5. papan/triplek
6. Batu bata

Persiapan
1. Siapkan bunga yang telah di petik
2. potong tangkai,  dan putik
3. susun kelopak bunga sesuai selera dan tergantung kebutuhan

Langkah Pengeringan
1. Tumpuk 10 lembar kertas buram
2. letakkan 1 lembar busa di atas kertas buram tadi
3. kemudian letakkan 1 lembar kertas minyak di atas busa
4. susun bunga dan daun diatas kertas minyak
5. tutup bunga dan daun dengan kertas minyak
6. letakkan lagi 10 lembar kertas buram
7. ulangi susunan langkah 1-6 di atas hingga 5 susun
8. masukkan susunan tersebut ke dalam plastik klip
9. press dengan batu bata

Diperlukan waktu selama 10 hari agar pengeringan dapat sempurna dengan teknik sebagai berikut :


HARI 1

simpanlah susunan bunga tersebut dalam alat pengering yang sudah di pres

HARI 2

bukalah alat pengering kemudian pindahkan bunga dan daun, kemudian setrika kertas pengering satu persatu , susunlah kembali bunga dan daun kedalam alat pengering kemudian pres kembali dan simpanlah.

HARI 3

lakukanlah seperti pada hari ke 2

HARI 4

diamkan bunga tersebut

HARI 5

lakukanlah seperti pada hari ke 2

HARI 6

diamkan kembali bunga tersebut

HARI 7

lakukanlah seperti pada hari ke 2

HARI 8 & 9

diamkan kembali

HARI 10

bukalah alat pengering tadi, kemudian pindahkanlah kedalam tempat yang kedap udara

dan setelah kering bisa di bentuk berbagai macam barang seperti pembatas buku, tatakan gelas, bros, scrap book dan lain sebagainya... 

bisa di laminating atau hanya di lem


























tuuh lucu-lucu yaa
sebenarnya masih banyak lagi...
terimakasih bu ika atas ilmunya, semoga bermanfaat. nanti kalau saya sudah pulang ke kalimantan mau bikin beginian juga :D











Ekspedisi Sayap Garuda

Minggu, 01 Februari 2015

| | | 0 komentar
Kusebut ekspedisi sayap garuda,
Kesenanganku yang suka jalan-jalan, namun tak sekedar menikmati pemandangan alam ataupun hiruk pikuk perkotaan, kesenanganku untuk pergi menjelajah, namun tak sekedar penjelajahan yang melelahkan, hidup ala backpaker yang tak sekedar mengisi ransel dengan logistik dan pakaian saja. tapi mengisi kepala ini dengan berbagai ilmu pengetahuan yang kudapat dari jalanan, bising perkotaan, sejuknya pegunungan, mencekamnya hutan, hingga hangatnya pantai.

Kusebut Ekspedisi Garuda,
Misi penjelajahan yang tak hanya sekedar jalan-jalan














Namun pemburu ilmu, hingga nanti dapat mengamalkan dan mengajarkannya














Kusebut Ekspedisi Sayap Garuda
kita adalah sayap-sayap sang garuda
di atas samudra di langit khatulistiwa
sebutkan namamu sampai ke ujung dunia
ceritakan semua indahnya pada mereka
karna ku tau disini ada cinta
yang kan kujaga selamanya

disini rumah bagi jiwa raga kita semua
selamanya

tuk wujudkan mimpi kita 
dengan janji kubertekad
selamanya
INDONESIA

(Selamanya Indonesia- twentyfirstnight)

Kusebut Ekspedisi Sayap Garuda
dimulai 23 Januari 2015 -...... hingga waktu yang belum tau sampai kapan
#Bogor
#Bandung
#Garut
#Tasikmalaya
#Pangandaran




Ekspedisi MAHAMERU 3676 Mdpl (Bagian Kedua)

Kamis, 13 Februari 2014

| | | 0 komentar


# Merangkak menuju puncak dewa 3697 mdpl
Setelah makan dan masak. Kita ngobrol-ngobrol ringan dengan anak-anak UMM mencoba mengenali lagi satu persatu nama dan wajah mereka untuk memudahkan pendakian nanti malam, gawat saja kalau ternyata yang gandeng nanti malam adalah mbak muka rata gimana?. Pukul 23.00 kita memulai pendakian, memakai jaket tebal, dua lapis kaus kaki, sarung tangan dan senter. Terlihat iring-iringan rombongan lain dalam kegelapan. Menuju arcopodo, pos penanda terakhir sebelum mahameru. Melewati arcopodo jalan menanjak yang sangat terjal dipenuhi oleh pohon-pohon cemara dengan bukit dan jurang di sisi kanan kirinya, sangat berbahaya apalagi pendakian di malam hari. Ada juga beberapa rombongan yang membangun tenda di arcopodo,namun hanya sedikit tidak sebanyak seperti di kalimati karena tanah yang landai terbatas dan jauh dari sumber air. 

Baru setengah perjalanan 3 orang dari rombongan UMM memutuskan untuk pulang ke Kalimati. Sudah tak kuat katanya. Oh iya, sebelumnya rombongan anak UMM ada 10 orang. 2 orang memutuskan untuk tidak ikut ke Mahameru. Jadi aku dan vera malam itu ngetrack bersama 8 orang anak UMM. Sekarang 3 orang memutuskan tidak melanjutkan perjalanan yang tersisa adalah 5 orang bersama aku dan vera. 

Benar-benar track yang berbahaya hingga sampailah kami di cemoro Tunggal. Cemoro tunggal adalah vegetasi terakhir setelah rimbunan pohon cemara di Arcopodo, hanya terdapat satu pohon cemara terakhir yang besar dan setelahnya tidak ada vegetasi lagi. Sekarang di hadapan kami adalah jalan menanjak gunung pasir sepanjang 1,5 km dengan kemiringan sekitar 50 derajat. Huaaaa perjuangan baru dimulai, perjalanan sebelumnya sungguh belum ada apa-apanya. Beristirahat sejenak di dekat cemoro tunggal aku, vera, dan 3 anak laki-laki dari UMM tadi, yang 2 kemana ya? Akhirnya kita memutuskan untuk menunggu. Tak lama kemudian datang lah Mei dan Hari.
“kalian lanjut t rek?” Tanya hari
“yo lanjut lah, eman yoo wes nyampe kene mbalek” sahut temannya
“Mbak ITS yo lanjut t?”
Aku dan vera mengangguk mantap
“yo wes, aku nitip Mei yo.. tak mbalek nganterno arek-arek sing gak kuat, hati-hati sukses sampai mahameru, mbak vera wes tau sampe puncak kan? Nitip konco-koncoku ya mbak”  

Setelah berpesan menitipkan temannya kepada Vera, Hari bergegas memutar badan untuk segera menemui teman-temannya yang memutuskan pulang ke Kalimati. Hari sudah 3 kali kepuncak  Mahameru, dan pendakian kali ini memang dia niatkan untuk mengantarkan teman-temannya yang belum pernah kesini, bukan lagi mengejar matahari pagi di puncak Mahameru. Pelajaran kedua yang kudapat dari gunung 

#SEORANG PEMIMPIN HARUS BERTANGGUNG JAWAB PENUH ATAS ORANG-ORANG YANG DIPIMPINNYA  

dan di gunung kata-kata ini benar-benar akan di uji bukan hanya  sekedar teori. 
# Naik 3 langkah Mundur 1 langkah
14 Agustus 2013, pukul 02.00 dini hari. Rombongan yang tersisa 6 orang. 3 cowok dan 3 cewek. Huaaa bukit pasir berbatu sepanjang 1,5 km dan menanjak. Kalau bukan karena tekad yang kuat sudah pasti orang akan malas bersusah payah mendaki seperti itu. Tiba-tiba teringat perbincangan salah satu teman jurusan saat ku ajak mendaki semeru.
“apa enaknya sih naik gunung itu? Susah, susah naik.. nanti juga turun lagi” …
 “He? ==”
“Sama kayak maen bola, apa asyiknya coba satu bola direbutin 20 orang, kubelikan satu-satu dah biar senang semua. Hahahahahaha”
“he? ==”
Waah lupakan lupakan.. biarkan yang lain berkicau aku kan tetap berlalu. Tapi ini kog gak sampai-sampai yaa. Pasirnya susah di naikin naik 3 Langkah eeh langsung mundur satu langkah… ayo naik, naik, naik, biar bisa sholat subuh di puncak..

# Mbak? Tuk.. tuk.. kog membeku?
“Belum mantap yan, kalau belum pernah merasakan sholat subuh di puncak Mahameru” seseorang pernah berpesan seperti itu kepadaku. Okee. Okee akan kucoba . tapi ini sudah pukul 03.30 perjalanan masih jauh hwaa~~~
Pukul 04.15 wib fajar sudah menyingsing. Waah harus segera sholat subuh #clingak-clinguk vera sudah jauh diatas sana, disini tak ada yang di kenal. Kali aja ada yang mau diajak jamaah. Looh yang lewat malah bule-bule, akupun menepi duduk diatas batu yang datar. Segera saja aku tayamum dan sholat subuh sambil duduk. Masih rakaat pertama tiba-tiba kakiku dicolek pakai tongkat kayu.
“mbak.( Tuk tuk sambil mencolek kaki ku dengan tongkat kayu). Mbak? Mbak gak membeku kan?”
Ternyata salah seorang dari rombongan UMM mungkin mengira aku hypothermia (kedinginan hingga membeku)
Aku tak bergeming, tetap melanjutkan sholat
“mbk… mbakk” tuk tuk (kali ini mencolek tanganku . masih pakai tongkat kayu)
Kemudian aku rukuk. Baru lah mas UMM itu paham kalau aku sedang sholat. Dia pun melanjutkan naik ke atas. Hadee ada ada saja orang lagi sholat di kira membeku karena hypothermia. Walaupun tak bisa sholat subuh di puncak, kali ini aku memiliki pengalaman sholat subuh yang sangat berkesan “dikira sedang membeku” ==” ..  selesai sholat aku melanjutkan perjalanan tak jauh dari tempatku sholat subuh tadi ku lihat mas UMM yang mencolek-colekku dengan tongkat kayu sedang sholat subuh. Hha aku hanya bisa tersenyum..
pelajaran ketiga yang kudapat dari gunung 

#JANGAN PERNAH NGAKU PECINTA ALAM, SEDANGKAN KAU LUPA DENGAN PEMILIK ALAM .
lupa disini dalam artian meninggalkan kewajiban sholat ketika sedang mendaki ataupun berpetualang di alam.
 


# Loh… mas elektro, kita ketemu lagi
Pukul 07.00 wib. .. hueee sudah pagi. Kog belum sampai puncak juga ya? Ayo semangat. Sedikit lagi..
“ayo mbak.semangat.. sedikit lagi” sahut bapak-bapak yang menyalipku dari samping..
“iya paak..” jawabku tak kalah semangat
Tiba-tiba dari arah depan. Orang-orang sudah banyak yang turun. Dan salah satunya menyapaku.
“mbak pwk”
“looh mas. Elektro. Sudah dari atas?”
Ternyata mas elektro yang kemarin bertemu di jambangan
“iya mbak dari jam 5 tadi sudah sampai puncak. Kemarin di kalimati dimana? Aku nyari-nyari nggk ketemu”
“wah iya mas. Aku juga nyari-nyari nggk ketemu akhirnya bareng rombongan UMM. Nge-camp deket pos”
“oh deket pos. padahal sudah tak cari sampai situ juga. Aku nge-camp agak jauh sih. Di dekat sumber air”
“wah gak maen ke sumber air kemaren. Sudah gak kuat. Jadi ambil air nitip anak UMM”
“hha oh gitu rupanya. Tak turun duluan mbak.. ayo semangat mbak puncaknya tinggal sedikit lagi”

# Alhamdulillah mimpi yang benar-benar nyata PUNCAK MAHAMERU
07.15 wib. Alhamdulillah ini mimpi satu tahun yang lalu benar benar nyata
Samudera Awan…
Puncak para Dewa..
Puncak MAHAMERU
Kuasa Ilahi tak bertepi.. sujudku hanya kepadaMU

# Perpisahan dengan pulau Jawa
Tradisi ketika sampai Puncak. Orang akan berfoto-foto ria sambil menggenggam tulisan. Tulisan impian dan harapan. Ada juga yang memberikan pesan cinta untuk orang-orang yang kasihi. Sepertinya terinspirasi dari “gantunglah mimpimu setinggi langit” aji mumpung ketika berada di puncak gunung adalah yang terdekat dengan langit maka muncullah tradisi seperti itu. Sedang aku bukan tulisan impian, harapan atau pesan cinta. Sejak di Surabaya aku sudah memprint tulisan
SETELAH 7 TAHUN MERANTAU
SAYONARA
PULAU JAWA
Yah tepat sekali. Pesanku di puncak dewa ini adalah pesan perpisahan di puncak tertinggi pulau Jawa. Pesan perpisahan kepada pulau jawa yang 7 tahun sudah menjadi tempat perantauan, di pulau tersebut aku menemukan banyak ilmu, cerita, persahabatan dan warna warni kanvas kehidupan. Satu bulan berikutnya aku kembali ke tanah kelahiran. Bumi Antasari, Banua Kalimantan Selatan.

Ceritanya satu minggu lagi wisuda, jadi bawa-bawa topi wisuda geto >.<

Sayonara Pulau Jawa

Bersambung lagi ^^.. kisah selanjutnya 
# 2 malam di kali mati
# Cerita Nabi – Nabi
# Sunrise di gunung, sunset di laut, tapi aku lebih suka menatap langit malam dari manapun
# Siput yang semakin melambat
# Ini adalah perjalanan hati
# Gununglah yang mempertemukan dan mempersatukan hati kita