Ekspedisi MAHAMERU 3676 Mdpl (Bagian Kedua)

Kamis, 13 Februari 2014

| | |


# Merangkak menuju puncak dewa 3697 mdpl
Setelah makan dan masak. Kita ngobrol-ngobrol ringan dengan anak-anak UMM mencoba mengenali lagi satu persatu nama dan wajah mereka untuk memudahkan pendakian nanti malam, gawat saja kalau ternyata yang gandeng nanti malam adalah mbak muka rata gimana?. Pukul 23.00 kita memulai pendakian, memakai jaket tebal, dua lapis kaus kaki, sarung tangan dan senter. Terlihat iring-iringan rombongan lain dalam kegelapan. Menuju arcopodo, pos penanda terakhir sebelum mahameru. Melewati arcopodo jalan menanjak yang sangat terjal dipenuhi oleh pohon-pohon cemara dengan bukit dan jurang di sisi kanan kirinya, sangat berbahaya apalagi pendakian di malam hari. Ada juga beberapa rombongan yang membangun tenda di arcopodo,namun hanya sedikit tidak sebanyak seperti di kalimati karena tanah yang landai terbatas dan jauh dari sumber air. 

Baru setengah perjalanan 3 orang dari rombongan UMM memutuskan untuk pulang ke Kalimati. Sudah tak kuat katanya. Oh iya, sebelumnya rombongan anak UMM ada 10 orang. 2 orang memutuskan untuk tidak ikut ke Mahameru. Jadi aku dan vera malam itu ngetrack bersama 8 orang anak UMM. Sekarang 3 orang memutuskan tidak melanjutkan perjalanan yang tersisa adalah 5 orang bersama aku dan vera. 

Benar-benar track yang berbahaya hingga sampailah kami di cemoro Tunggal. Cemoro tunggal adalah vegetasi terakhir setelah rimbunan pohon cemara di Arcopodo, hanya terdapat satu pohon cemara terakhir yang besar dan setelahnya tidak ada vegetasi lagi. Sekarang di hadapan kami adalah jalan menanjak gunung pasir sepanjang 1,5 km dengan kemiringan sekitar 50 derajat. Huaaaa perjuangan baru dimulai, perjalanan sebelumnya sungguh belum ada apa-apanya. Beristirahat sejenak di dekat cemoro tunggal aku, vera, dan 3 anak laki-laki dari UMM tadi, yang 2 kemana ya? Akhirnya kita memutuskan untuk menunggu. Tak lama kemudian datang lah Mei dan Hari.
“kalian lanjut t rek?” Tanya hari
“yo lanjut lah, eman yoo wes nyampe kene mbalek” sahut temannya
“Mbak ITS yo lanjut t?”
Aku dan vera mengangguk mantap
“yo wes, aku nitip Mei yo.. tak mbalek nganterno arek-arek sing gak kuat, hati-hati sukses sampai mahameru, mbak vera wes tau sampe puncak kan? Nitip konco-koncoku ya mbak”  

Setelah berpesan menitipkan temannya kepada Vera, Hari bergegas memutar badan untuk segera menemui teman-temannya yang memutuskan pulang ke Kalimati. Hari sudah 3 kali kepuncak  Mahameru, dan pendakian kali ini memang dia niatkan untuk mengantarkan teman-temannya yang belum pernah kesini, bukan lagi mengejar matahari pagi di puncak Mahameru. Pelajaran kedua yang kudapat dari gunung 

#SEORANG PEMIMPIN HARUS BERTANGGUNG JAWAB PENUH ATAS ORANG-ORANG YANG DIPIMPINNYA  

dan di gunung kata-kata ini benar-benar akan di uji bukan hanya  sekedar teori. 
# Naik 3 langkah Mundur 1 langkah
14 Agustus 2013, pukul 02.00 dini hari. Rombongan yang tersisa 6 orang. 3 cowok dan 3 cewek. Huaaa bukit pasir berbatu sepanjang 1,5 km dan menanjak. Kalau bukan karena tekad yang kuat sudah pasti orang akan malas bersusah payah mendaki seperti itu. Tiba-tiba teringat perbincangan salah satu teman jurusan saat ku ajak mendaki semeru.
“apa enaknya sih naik gunung itu? Susah, susah naik.. nanti juga turun lagi” …
 “He? ==”
“Sama kayak maen bola, apa asyiknya coba satu bola direbutin 20 orang, kubelikan satu-satu dah biar senang semua. Hahahahahaha”
“he? ==”
Waah lupakan lupakan.. biarkan yang lain berkicau aku kan tetap berlalu. Tapi ini kog gak sampai-sampai yaa. Pasirnya susah di naikin naik 3 Langkah eeh langsung mundur satu langkah… ayo naik, naik, naik, biar bisa sholat subuh di puncak..

# Mbak? Tuk.. tuk.. kog membeku?
“Belum mantap yan, kalau belum pernah merasakan sholat subuh di puncak Mahameru” seseorang pernah berpesan seperti itu kepadaku. Okee. Okee akan kucoba . tapi ini sudah pukul 03.30 perjalanan masih jauh hwaa~~~
Pukul 04.15 wib fajar sudah menyingsing. Waah harus segera sholat subuh #clingak-clinguk vera sudah jauh diatas sana, disini tak ada yang di kenal. Kali aja ada yang mau diajak jamaah. Looh yang lewat malah bule-bule, akupun menepi duduk diatas batu yang datar. Segera saja aku tayamum dan sholat subuh sambil duduk. Masih rakaat pertama tiba-tiba kakiku dicolek pakai tongkat kayu.
“mbak.( Tuk tuk sambil mencolek kaki ku dengan tongkat kayu). Mbak? Mbak gak membeku kan?”
Ternyata salah seorang dari rombongan UMM mungkin mengira aku hypothermia (kedinginan hingga membeku)
Aku tak bergeming, tetap melanjutkan sholat
“mbk… mbakk” tuk tuk (kali ini mencolek tanganku . masih pakai tongkat kayu)
Kemudian aku rukuk. Baru lah mas UMM itu paham kalau aku sedang sholat. Dia pun melanjutkan naik ke atas. Hadee ada ada saja orang lagi sholat di kira membeku karena hypothermia. Walaupun tak bisa sholat subuh di puncak, kali ini aku memiliki pengalaman sholat subuh yang sangat berkesan “dikira sedang membeku” ==” ..  selesai sholat aku melanjutkan perjalanan tak jauh dari tempatku sholat subuh tadi ku lihat mas UMM yang mencolek-colekku dengan tongkat kayu sedang sholat subuh. Hha aku hanya bisa tersenyum..
pelajaran ketiga yang kudapat dari gunung 

#JANGAN PERNAH NGAKU PECINTA ALAM, SEDANGKAN KAU LUPA DENGAN PEMILIK ALAM .
lupa disini dalam artian meninggalkan kewajiban sholat ketika sedang mendaki ataupun berpetualang di alam.
 


# Loh… mas elektro, kita ketemu lagi
Pukul 07.00 wib. .. hueee sudah pagi. Kog belum sampai puncak juga ya? Ayo semangat. Sedikit lagi..
“ayo mbak.semangat.. sedikit lagi” sahut bapak-bapak yang menyalipku dari samping..
“iya paak..” jawabku tak kalah semangat
Tiba-tiba dari arah depan. Orang-orang sudah banyak yang turun. Dan salah satunya menyapaku.
“mbak pwk”
“looh mas. Elektro. Sudah dari atas?”
Ternyata mas elektro yang kemarin bertemu di jambangan
“iya mbak dari jam 5 tadi sudah sampai puncak. Kemarin di kalimati dimana? Aku nyari-nyari nggk ketemu”
“wah iya mas. Aku juga nyari-nyari nggk ketemu akhirnya bareng rombongan UMM. Nge-camp deket pos”
“oh deket pos. padahal sudah tak cari sampai situ juga. Aku nge-camp agak jauh sih. Di dekat sumber air”
“wah gak maen ke sumber air kemaren. Sudah gak kuat. Jadi ambil air nitip anak UMM”
“hha oh gitu rupanya. Tak turun duluan mbak.. ayo semangat mbak puncaknya tinggal sedikit lagi”

# Alhamdulillah mimpi yang benar-benar nyata PUNCAK MAHAMERU
07.15 wib. Alhamdulillah ini mimpi satu tahun yang lalu benar benar nyata
Samudera Awan…
Puncak para Dewa..
Puncak MAHAMERU
Kuasa Ilahi tak bertepi.. sujudku hanya kepadaMU

# Perpisahan dengan pulau Jawa
Tradisi ketika sampai Puncak. Orang akan berfoto-foto ria sambil menggenggam tulisan. Tulisan impian dan harapan. Ada juga yang memberikan pesan cinta untuk orang-orang yang kasihi. Sepertinya terinspirasi dari “gantunglah mimpimu setinggi langit” aji mumpung ketika berada di puncak gunung adalah yang terdekat dengan langit maka muncullah tradisi seperti itu. Sedang aku bukan tulisan impian, harapan atau pesan cinta. Sejak di Surabaya aku sudah memprint tulisan
SETELAH 7 TAHUN MERANTAU
SAYONARA
PULAU JAWA
Yah tepat sekali. Pesanku di puncak dewa ini adalah pesan perpisahan di puncak tertinggi pulau Jawa. Pesan perpisahan kepada pulau jawa yang 7 tahun sudah menjadi tempat perantauan, di pulau tersebut aku menemukan banyak ilmu, cerita, persahabatan dan warna warni kanvas kehidupan. Satu bulan berikutnya aku kembali ke tanah kelahiran. Bumi Antasari, Banua Kalimantan Selatan.

Ceritanya satu minggu lagi wisuda, jadi bawa-bawa topi wisuda geto >.<

Sayonara Pulau Jawa

Bersambung lagi ^^.. kisah selanjutnya 
# 2 malam di kali mati
# Cerita Nabi – Nabi
# Sunrise di gunung, sunset di laut, tapi aku lebih suka menatap langit malam dari manapun
# Siput yang semakin melambat
# Ini adalah perjalanan hati
# Gununglah yang mempertemukan dan mempersatukan hati kita

0 komentar: