Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Tentang Firasat

Kamis, 11 Mei 2017

| | | 0 komentar
Surah Al-Qashash  kembali lagi "menyapa" saya. Kali ini melalui tayangan di televisi acara Khalifah Trans 7 yang dibawakan oleh ustadz Budi Ashari yang bertema tentang firasat dan lagi-lagi bahasannya adalah tentang Shofura, putri Nabi Syu'aib as perempuan malu nan mulia itu. 

Firasat adalah suara hati yang hadir dan ternyata benar terjadi dikemudian hari, hal tersebut dikarenakan seseorang yang memiliki firasat tersebut memandang sesuatu dengan cahaya Allah Subhanahu Wa Ta'ala (Ust. Budi Ashari)

 Dari Sahabat mulia Abdullah bin Mas'ud ra menyebutkan bahwa terdapat tiga orang dalam sejarah islam yang paling kuat dan benar firasatnya. Yang menarik adalah satu diantara ketiga orang yang disebutkan tersebut adalah perempuan. Disebutkan bahwa ia adalah perempuan Negeri Madyan yaitu putri Nabi Syu'aib yang bernama Shofura yang memiliki firasat terhadap Nabi Musa as.

Ketika Nabi Musa tidak sengaja membunuh seorang Qibty (suku asli Mesir). Nabi Musa as berlari tanpa tujuan yang pasti untuk menghindari hukuman Fir'aun. Hingga tibalah Nabi Musa as di sebuah Negeri yang bernama Madyan. Dalam keadaan lelah Nabi Musa as kemudian beristirahat di dekat sumber air yang menjadi tempat untuk memberikan minum kepada ternak penggembala. Pada saat itu Nabi Musa as melihat dua perempuan penggembala yang terlihat berada di belakang.

Dan tatkala ia sampai di sumber air Negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan ternaknya, dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata, "Apakah maksudmu dengan berbuat begitu?" kedua perempuan itu menjawab, "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang Ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. (QS. Al-Qashash : 23)

Nabi Musa as kemudian membantu perempuan tersebut untuk memberikan minum kepada ternaknya. setelah membantu kedua perempuan tersebut Nabi Musa as duduk dibawah pohon seraya berdo'a kepada Allah Ta'ala.

Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". (QS. Al-Qashash : 24)

Ayah kedua perempuan tadi merasa heran karena kedua putrinya pulang lebih cepat daripada biasanya. Namun Nabi Syu'aib as baru paham setelah keduanya menceritakan tentang Nabi Musa as dan kejadian yang telah mereka alami. Maka, orang tuanya memerintahkan putrinya untuk mengundang Nabi Musa as kerumahnya. dan inilah rupanya jawaban Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas do'a Nabi Musa as. 

Kemudian salah seorang dari kedua perempuan itu datang berjalan malu-malu kepada Musa, ia berkata, "Sesungguhnya Ayahku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)-mu memberi minum ternak kami"...(QS. Al-Qashash : 25) 

Dan tentang firasat perempuan Negeri Madyan tersebut terhadap Nabi Musa as diabadika Allah Ta'ala dalam Al-Qur'anul karim

"Wahai Ayahku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja(pada kita) ialah orang yang kuat lagi amanah (dapat dipercaya)". (QS. Al-Qashash : 26)

Kuat dan Amanah inilah yang menjadi tanda firasat dan dibaca oleh perempuan Negeri Madyan tersebut sebagai keadaan tentang Nabi Musa as dikemudian harinya. Kuat, karena Nabi Musa as menolong perempuan tersebut pada saat ingin memberikan minum pada ternaknya, sumber air ditutup oleh batu besar yang diperlukan beberapa lelaki untuk mengangkatnya. sedangkan Nabi Musa as cukup seorang diri saja sudah cukup kuat untuk mengangkat batu tersebut. sedangkan Amanah, ketika perempuan tadi sudah pulang kerumah, kemudian diutus kembali oleh sang ayah untuk mengundang Nabi Musa as kerumah mereka. pada saat di padang pasir Nabi Musa as dan Shofura hanya berjalan berdua, Nabi Musa as sangat menjaga pandangan dan dirinya dari perempuan tersebut inilah sifat Amanah yang terbaca. 

Para ahli tafsir sependapat bahwa dikemudian hari perempuan Negeri Madyan yang memiliki firasat inilah yang menikah dengan Nabi Musa as.

Berkatalah dia (Syu'aib), "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengans alah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik". (QS. Al-Qashash : 27)

Dan benarlah sesuai firasat perempuan Negeri Madyan tersebut Nabi Musa as bekerja dengan sangat baik bersifat kuat (qowiy) lagi terpercaya (amiin).

Dalam sejarah terdapat banyak hamba Allah yang Sholih dan Sholihah yang memiliki kebenaran dalam berfirasat, apabila ia berkata sesuatu maka dengan ijin Allah Subhanahu Wa Ta'ala hal tersebut benar terjadi. Diantaranya adalah seorang ahli ibadah Syaikh Abdu Syuja' Al Kirmani rahimallah.

Syaikh Syuja' Al Kirmani berkata :
"Barang siapa penampilan lahiriahnya mengikuti sunnah, batinnya selalu sadar akan Allah Ta'ala, Pandangannya selalu dijaga dari hal-hal yang haram, selalu mengekang nafsunya dari syahwat dan selalu memakan makanan yang halal, pasti firasatnya tidak akan meleset"..

 Syaikh Syuja' Al Kirmani disebutkan dalam riwayat adalah orang yang tidak pernah meleset dalam berfirasat. 


"Maka jika hari ini kita mendengar ada orang yang berfirasat, haruslah kita lihat dahulu apakah orang tersebut orang beriman? dan yang menjadi tolak ukurnya adalah apa yang dikatakan oleh Syaikh Al Kirmani tadi" (Ust. Budi Ashari)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-An'am ayat 122 ;

Dan apakah orang yang sudah mati lalu kami hidupkan dan kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan ditengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan , sehingga dia tidak dapat keluar dari sana?.........

 Orang yang hidup dalam cahaya Allah tentulah berbeda dengan orang yang hidup dalam kegelapan. Maka, orangyang hidup dengan cahaya itulah salah satu yang Allah berikan keistimewaan di muka bumi ini adalah ketika Allah Ta'ala memberika dia firasat, dia memandang sesuatu dengan cahaya Allah Subhanahu Wa Ta'ala , Wallahu'alam bi Shawab





Perempuan Malu nan Mulia itu Bernama Shofura

Senin, 01 Mei 2017

| | | 0 komentar
Adalah Shofura yang menjauh dari antrian para penggembala lelaki saat hendak memberikan minum ternak-ternaknya. Shofura beserta Laya saudara perempuannya rela menepi menunggu antrian penggembala lelaki memuaskan dahaga ternak mereka. Hingga tiba saat Nabi Musa as mewakilkan antrian mereka.

Adalah Shofura yang berjalan dengan malu dan berkata-kata singkat sesuai pesan Bapaknya untuk mengundang Nabi Musa as kerumahnya sebagai balasan pertolongan yang telah dilakukan Nabi Musa as.

Adalah Shofura yang ketika mengantarkan Nabi Musa as, ia berjalan di belakang Nabi Musa as. Kerikil demi kerikil ia lemparkan sebagai penunjuk jalan tanpa menggunakan kata-kata demi menjaga lisannya dari fitnah.

Adalah Shofura perempuan mulia nan bersifat malu inilah yang telah menjadi perantara atas jawaban do'a Nabi Musa, juga dikemudian hari menjadi istri Sang Nabi.

Terima kasih Shofura, Engkau telah mengajarkan kami bagaimana selayaknya perempuan memiliki rasa malu dalam bersikap. [yAn] 
 ==========================
 Entah mengapa satu minggu ini sekelebat surah Al-Qashash ayat 25 begitu sering "menyapa" saya. Berawal dari postingan di akun facebook ustadz Salim A Fillah yang sempat saya tuliskan disini, ketika mendengar kajian rutin rekaman suara Ustadz Budi Ashari pun membahas tentang sifat malunya perempuan yang di bahas di surah Al-Qashash ayat 25, saat iseng buka-buka majalah lama Muslimah ketemunya juga tentang kisah Shofura dan Laya ini. kemudian waktu baca kitabnya Ibnu Katsir Rahimahullah ketemunya juga kisah Al-Qashash ayat 23-25. Ada apa ini ya? Apakah Allah Subhanallahu Wa Ta'ala sedang memperingatkan saya untuk bersifat malu? kalau saya pikir-pikir sepertinya saya sudah cukup pemalu kok, walaupun lebih sering malu-maluin hehehe.

Antara surah Al Qashsah dan surah Yusuf

Rabu, 26 April 2017

| | | 0 komentar
Pagi ini saya menemukan tulisan bagus dari akun facebooknya Ustadz Salim A. Fillah judulnya 

Si TAMPAN dan Si GAGAH

@salimafillah

"Surat Yusuf dibuka Allah dengan kalimat, 'Nahnu Naqushshu 'Alaika Ahsanal Qashash', Kami ceritakan padamu sebaik-baik kisah", tutur Brother Nouman Ali Khan di hadapan Syaikh Fahd Salim Al Kandary. "Dan bukankah di dalam Al Quran ada Surat Al Qashash? Maka apakah hubungan di antara keduanya?"

Ya.

Surat Yusuf mengisahkan seorang anak yang dibuang ke dalam sumur. Surat Al Qashash menceritakan seorang bayi yang dilarung ke dalam Sungai Nil.

Surat Yusuf menyebutkan sebab dibuangnya adalah bisik-bisik syaithan kepada sekelompok saudara sang bocah yang diamuk dengki. Surat Al Qashash mempersaksikan bahwa si mungil itu dibuang atas bimbingan wahyu Allah.

Surat Yusuf mengisahkan bahwa para kakak lelaki adalah sebab perpisahan dengan orangtua. Surat Al Qashash menceritakan bahwa kakak perempuan adalah sebab pertemuan kembali sang bayi dengan si ibu yang kan menyusui.

Surat Yusuf fokus menggambarkan sang Ayah; sedihnya, tangisnya, aduannya kepada Allah, bahkan sejak sang bocah mengisahkan mimpi yang dia tahu akan menyebabkan masalah jika didengar anak-anaknya yang lain. Surat Al Qashash konsentrasi melukiskan Sang Ibu; dukanya, galaunya, doanya; sejak dia melahirkan di suasana adanya Raja yang membunuh bayi-bayi, juga karena mimpi.

Di Surat Yusuf kita bertanya, "Di mana ibunya?", dan di Surat Al Qashash kita bertanya, "Di mana ayahnya?" Seakan keduanya bergabung memberi pelajaran berpasangan pada para ayah dan para ibu.

Dalam Surat Yusuf, perpisahan dengan ayah akan berlangsung bertahun-tahun lamanya. Dalam Surat Al Qashash perpisahan dengan sang ibu hanya akan terjadi beberapa saat saja.

Dalam Surat Yusuf, yang menemukan si bocah di pasar budak adalah seorang Pria Bangsawan, Al 'Aziz. Dalam Surat Al Qashash yang menemukan si bayi adalah Sang Permaisuri, Imra'atu Fir'aun.

Kedua penemu, baik di Surat Yusuf maupun Surat Al Qashash sama-sama berkata, "'Asaa an yanfa'anaa aw nattakhidzahu walada... Boleh jadi dia akan bermanfaat bagi kita, atau kita ambil saja dia sebagai anak." Yusuf menjadi manfaat dengan dijadikan budak. Musa menjadi Pangeran dengan dijadikan anak.

Kedua anak itu akhirnya tumbuh dewasa, dan keduanya diuji oleh Allah. Yusuf diuji di dalam istana tuannya, dengan ujian nafsu syahwat. Musa diuji di luar istana ayah angkatnya, dengan nafsu amarah.

Yusuf tidak bersalah dalam peristiwa yang menimpanya, sedang Musa dalam Surat Al Qashash bersalah hingga membunuh dalam kejadian yang dialaminya. Keduanya punya saksi. Saksinya Yusuf meringankannya dengan menunjuk baju yang sobek di belakang. Saksinya Musa justru menariknya untuk khilaf nyaris kedua kalinya. Tapi akhirnya Yusuf yang tak bersalah justru masuk penjara, sementara Musa yang bersalah lolos melarikan diri ke Madyan.

Kisah Yusuf bermula di luar Mesir, dan berakhir di Mesir. Kisah Musa bermula di Mesir, dan berakhir di luar Mesir.

Masyaallah. Saya tulis tadabbur menakjubkan ini dalam bahasa bebas dengan penambahan dengan pengurangan, seiring dengan kekaguman Syaikh Fahd Al Kandary yang telah menghafal Al Quran sejak usia 15 tahun.

Tabaarakarrahman, aktsarallaahu amtsalak ya Ustadz Nouman Ali Khan.

Dari kaitan kisah Si Tampan Yusuf dan Si Gagah Musa, tiadakah kita tergerak untuk kian menyimak kisah dan perumpamaan dari Kitab yang menakjubkan?

============================
sebenarnya ada bagian yang paling sering menjadi catatan penting dalam hidup saya yang terdapat dalam dua surah menakjubkan ini. sebuah bab yang sangat penting bagi kaum hawa yaitu bab "malu".

Disurah Al Qashash ada perempuan mulia nan bersifat malu karena iman di dalam dada, di surah Yusuf ada perempuan bertahta emas dan permata yang menanggung malu karena telah menjadi tawanan oleh nafsunya. [yAn]

Perempuan dalam surah Al Qashash itu ialah anak Nabi Syua'ib yang dikemudian hari menjadi istri Nabi Musa 'alaihisallam. hal ini diterangkan dalam surah Al Qashash ayat 25

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu". (QS : Al-Qashash ayat : 25)

Sedangkan perempuan dalam surah Yusuf adalah istri sang Al 'Aziz yang mengasuh Nabi Yusuf setalah lepas dari perbudakan. Zulaikha mempunyai ketertarikan khusus kepada Nabi Yusuf 'Alaihissallam hingga ingin melakukan perbuatan tercela itu, hal ini diterangkan dalam surah Yusuf ayat 23.

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini”. Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.

(QS: Yusuf Ayat: 23)


Bunga Pukul 9

Kamis, 01 Desember 2016

| | | 0 komentar
"kakak, aku sekarang punya bunga pukul 9 loh" seorang anak tetangga berumur 11 tahun menghampiriku saat tengah asyik bermain bulu tangkis dengan keponakan di halaman rumah.

"oh ya. mana?" seruku antusias.

bergegas aku mengajak Yaya keponakanku untuk menengok bunga milik anak tetangga tersebut.

"waah banyak ya. ada warna apa aja ini?" tanyaku sambil terus memperhatikan bunga-bunga yang baru saja di tanam telah bejejer rapi.

"ada kuning, merah, pink, orange, magenta sama putih kak, kakak mau? ambil saja ini.. " kata anak tetangga itu sambil menyerahkan beberapa botol air minaeral yang telah berubah fungsi menjadi pot bunga.

"Mau mel, Terima kasih ya" oh iya. anak tetangga itu bernama melsa, kami sering bermain dan belajar bersama sejak keluargaku mengubah suatu ruangan menjadi taman baca untuk anak- anak di sekitar sini.

Tak lama setelahnya, aku dan Yaya langsung menanam bunga tersebut. Awalnya hanya di dua tempat, box sterofoam dan bekas panci yang sudah usang.


dan yang membuatku heran bunga ini walau dipindah tempat atau tercabut batangnya akan terus mekar bunganya tepat pukul 09.00 sampai pukul 11.00 

MasyaAllah, luar biasa, tak pernah menyalahi janji. 

Dan satu lagi untuk jenis yang warna magenta dan kuning ini cepat sekali tumbuhnya, tak sampai satu minggu sudah memiliki batang yang panjang dan bisa dilakukan stek batang untuk perbanyakannya.


Pada akhirnya dengan bantuan Ayah membuat pot bunga dari pipa air bekas. aku dan Yaya kembali menanam bunga ini.


 hingga akhirnya diatas pagar rumah kami bunga-bunga ini semarak sekali. 

"wah bagus ya bunganya siapa yang menanam?" begitulah kiranya komentar para tetangga yang ketika itu lewat sewaktu bunga pukul 9 mekar. 

Kemudian banyak orang yang meminta dan ikut menanamnya. senang sekali rasanya kalau kampungku penuh dengan bunga warna warni :D

Terima Kasih bunga pukul 09
kau sudah mengajarkanku tentang keistiqomahan
dan apapun yang terjadi, kau tak pernah menyalahi janji
terus pancarkan warna warnimu ya :)

Dari Ummahatul Mukminin Untuk Muslimah (Kajian Al- Ustadz Herfi G Faizi)

Kamis, 04 Agustus 2016

| | | 0 komentar
( Al- Ustadz Herfi G Faizi, gambar diambil dari kaset siroh dalam Al-Qur'an)

============

 Ummahatul Mukminin secara bahasa memiliki arti Ibunya orang-orang beriman. Mereka adalah para wanita terpilih yang menjadi istri-istri Nabi Muhammad saw. Pendamping perjalanan dakwah manusia terbaik  sepanjang zaman.

Ada beberapa ayat dalam Al Qur’an yang secara spesifik berbicara tentang Ummahatul Mukminin yang dapat kita ambil pelajaran daripadanya. Salah satunya adalah dalam surah Al-Ahzab ayat 28 dan 29.





Ayat ayat tersebut berbicara tentang perintah Allah kepada Rasul tentang penawaran atas dua pilihan kepada para istri-istrinya apakah mereka memilih kehidupan dunia beserta kemewahannya (ayat 28 ) atau memilih Allah dan Rasulnya (ayat 29).

Allah menawarkan dunia lebih dahulu (pada ayat 28) baru kemudian akhirat (29) 
Pada ayat 28 kata “kuberikan” berarti Rasul yang memberi dunia. Sedangkan pada ayat 29 “Allah menyediakan ...........”  yang berarti pemberian langsung dari Allah.

=================

Terdapat munasabah yaitu hubungan antara ayat diatas dengan ayat sebelumnya. Ayat Ayat sebelumnya terdapat pembahasan tentang perang Ahzab. Sebagaimana telah diketahui bahwa perang Ahzab yang begitu dahsyat ditutup dengan kemenangan Kaum Muslimin dengan pertolongan Allah. Dalam ayat 27 disebutkan :


Tanah-tanah yang dimaksud adalah tanah bani quraidhoh setelah mereka mengingkari janji tidak mau membukakan pintu bagi pasukan Ahzab. Kemudian di eksekusi oleh Sa’ad bin Muadz sahabat Nabi yang mulia, sayyidul Anshar pemimpin kaum Anshar. Yang ketika meninggal dunia menyebabkan Jibril turun ke bumi . Jibril mengatakan kematiannya mengguncang Arsy.

Adapun tanah yang belum diinjak adalah fa’i (tanah bani Nadhir dan Bani Quraidhoh yang didapatkan tanpa peperangan). Dan harta benda begitu berlimpah di perang Ahzab (Ghanimah : harta rampasan perang) sehingga Ummahatul mukminin meminta tambahan nafkah kepada Nabi Muhammad SAW.

 Sebagaimana diriwayatkan dari Urwah bin Zubair (keponakan Ummul mukminin Aisyah) Aisyah pernah selama 2- 3 bulan melewati malam-malam hanya dengan air putih dan kurma (kehidupan yang sangat sederhana) sehingga merupakan suatu kewajaran dan manusiawi jika mereka meminta tambahan nafkah ketika Rasulullah mendapatkan fa’i dan ghanimah yang begitu banyaknya.

Kemudian, Allah turunkan ayat 28 surah Ahzab. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Pada suatu hari Nabi Muhammad SAW duduk di dalam rumah dengan di kelilingi istri-istrinya. Nabi diam dikelilingi oleh Istri-istrinya yang diam, menanti pemecahan masalah keluarga dengan menunggu wahyu dari Allah SWT.

Setelah ayat 28 ini turun Rasulullah menemui satu per satu istrinya menyampaikan perintah Allah tersebut. Yang pertama kali di temui adalah Aisyah ra. Rasulullah menyampaikan pilihan tersebut dan berkata agar Aisyah tidak tergesa-gesa dalam memilih “Engkau pulang saja dulu ketempat bapakmu (Abu Bakar) engkau musyawarahkan dengan Bapakmu”. Kemudian Aisyah menjawab “apakah untuk pilihan ini aku harus berfikir lama, sudah jelas aku akan memilih Allah dan Rasul serta kampung akhirat, namun jangan engkau sampaikan kepada istri yang lain”.

Rasul pun mengataka “sesungguhnya aku ini di utus sebagai mu’limat (penyampai pesan) sehingga ketika ada istri lain yang menanyakan apa pilihan Aisyah maka aku pun akan menyampaikan apa yang engkau pilih tersebut”.

Hingga semua Istri Rasulullah pada akhirnya memilih Allah dan Rasulnya. Seperti itulah korelasi antara perintah memilih kepada para Istri Nabi dengan perang Ahzab. Dan sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat 28 surah Al-Ahzab.

============

Kembali pada awal surah Al-Ahzab ayat 28. Yang diawali dengan kata yaa ayuhannabi yang memiliki arti wahai nabi karena Allah memanggil Rasulullah dengan tugasnya bukan dengan namanya. Yang mana menurut Ibnu Ashur bahwasanya istri-istri beliau yang menjadi tema dalam pembahasan ayat ini adalah para istri beliau selayaknya memantaskan diri menjadi pendamping seorang Nabi bukan hanya menjadi pendamping seorang Muhammad.

Selanjutkan qulliajwaazik yang memiliki arti katakan kepada istri-istrimu. Para ulama mengatakan ada 11 istri Nabi yang telah disepakati. Yaitu :


1.       Khadijah binti khuwailid Al Qurasiyah: satu satunya istri Nabi yang tidak pernah dimarahi oleh Nabi. Hidupnya paling lama dengan Rasul dan Allah merahmatinya dengan keturunan.


  2.   Saudah bintu jam’ah al Quraisyah : saudah yang menjadi sebab turunnya ayat tentang nusyuz. Saudah sudah tidak memiliki ketertarikan kepada laki-laki tetapi tetap ingin menjadi istri Rasul di surga. Sehingga Saudah memberikan “jatah malamnya” dengan Rasulullah kepada Aisyah. 

3.     Aisyah bintu Abu Bakr as Siddiq Al Qurasiyah : sangat banyak keutamaan dari Aisyah. sebelum menikah dengan Aisyah Rasulullah bermimpi melihat jibril membawa wanita dengan ditutup kain sutra setelah dibuka ternyata wanita itu adalah Aisyah. Dan Rasul meninggal dalam dekapan Aisyah.

4       Hafsah bintu Umar Ibnu Khattab Al- Qurasiyah : hafsah pemegang mushaf.  Pernah dicerai Rasul kemudian jibril turun dan mengatakan “Ya Rasulullah Engkau mencerai Hafsah padah dia paling banyak puasanya dan paling banyak qiyamulailnya dan Hafsah akan menjadi istrimu di surga kelak” kemudian Rasul rujuk dengan Hafsah
5.       Zainab bintu khuzaimah : hidup dengan Rasul hanya 2-3 bulan kemudian beliau wafat. lebih dulu meninggal sebelum Rasullulah SAW

6.       Hindu ummu salamah : pernah melihat malaikat jibril yang menyerupai wajahnya Ihya

7.       Zainab bintu jash Al-Qurasiyah : dalam surah Al-Ahzab ayat 37 Allah menikahkan Zainab dengan Rasullah SAW

8.       Juwairuyah Al-Mustaliqiyah : wanita yang paling banyak memberikan keberkahan kepada kaumnya. Merupakan putri dari pemimpin Bani Mustaliq dan tahanan perang yang ingin memerdekan diri dan pada akhirnya beriman dan dinikahi Rasulullah serta membebaskan kerabatnya bani Mustaliq yang menjadi tahanan oerang

9.       Romlah : putri abi sufyan 

10.   Shofiyah bintu huyay Al-Quraidiyah : pada awalnya merupakan wanita yahudi dari bani Quraidhah yang nasabnya sampai pada nabi Harun as

11.   Maimunah Bintu Harits al-Mahzumiyah Al-Qurasiyah : berasal dari bani mahzum 

Pada saat ayat 28 turun istri Nabi yang masih hidup ada 9 orang. Yang telah tiada adalah khadijah dan Zainab bintu Khuzaimah.
Kemudian pada ayat 30.



Allah langsung memanggil Istri-Istri nabi (yaa nisaaannabi) sedangkan pada ayat 28 Allah menyuruh Rasul yang memanggil istri-istrinya. Hal tersebut dikarenakan pada ayat 29 istri-istri Nabi telah memilih Allah. Dan kedudukannya bukan hanya menjadi pendamping Muhammad namun, pendamping Nabi yang merupakan Utusan Allah dan selayaknya selalu menemani perjuangan Dakwah Rasul untuk menegakkan agama Allah. 

Kemudian Allah menutup ayat 30 dengan kata-kata yang demikian itu mudah bagi Allah jika istri-istri Nabi berbuat keji maka Ancamannya adalah siksaan mereka dua kali lipat. Yang demikian itu agar Ummahatul Mukminin benar-benar memahami posisi mereka sebagai pendamping manusia terbaik Rasulullah SAW. Dan pada ayat 31 jika kita perhatikan maka. Ayat tersebut adalah kebalikan dari ayat 30. 



Dan bagaimana jika kami melakukan seperti apa yang dilakukan para istri-istri nabi? Apakah kami juga akan mendapatkan pahala? Pertanyaan tersebut muncul dari para wanita di zaman Nabi setelah mendengar perintah Allah kepada istri-istri Nabi tersebut. Sehingga Allah menurutkan ayat 35 yang menjelaskan bahwa Allah telah menyediakan Ampunan dan pahala yang besar bagi mereka.

Wallahu’alam bishawab

*Tulisan ini merupakan resume dari salah satu  kajian dalam kaset cd Siroh dalam Al-Qur'an 


Sebuah Nasihat

Sabtu, 27 Februari 2016

| | | 1 komentar
“yan, tolong carikan charge hp ayah” seru ayahku siang itu. Segera saja kucari apa yang di minta ayah di mejanya, tak ada. Kulayangkan pandangan ke samping kanan tepat di rak buku pribadi ayah. Dan akhirnya kutemukan juga charge hp yang dicari. Namun, tiba-tiba aku penasaran dengan sebuah buku yang paling terlihat lusuh diantara deretan buku lainnya, kuambil buku tersebut dengan hati-hati dan akhirnya aku bertemu kembali dengan kitab fenomenal itu. Terjemah Kitab Al Hikam karangan Syaikh Ahmad Ibnu Athoilah.



Bismillahirrahmanirrahim kubuka kitab itu secara acak dan kubaca pula dengan acak. Itulah caraku “berjabat tangan” dengan buku yang baru saja kutemui. "Jabat tangan" agar meninggalkan kesan dan pesan yang mendalam seolah buku itu berkata dan berbicara untuk yang “pertama kali” kepadaku. 

Kubaca tepat di halaman 22 terdapat syair dalam bahasa Arab yang bermakna “Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, maka tidak sempurna buahnya”

Rasanya aku tidak asing dengan syair ini, ada buku yang kubaca juga. Setelah berpikir sejenak  barulah teringat kalau syair ini juga terdapat di buku Lapis- lapis keberkahannya Ustadz Salim. Kulanjutkan membaca makna dari syair tersebut di halaman 23.

"Amal yang baik adalah yang dipilih dari benih yang baik. Artinya, amalan itu didasarkan pada syariat yang benar sebagaimana yang telah diterangkan dalam hadis shahih maupun Al Quran. Lalu ditanam di dalam tanah, yang artinya sembunyikan amal kebaikan itu jangan sampai manusia cenderung memberi pujian kepadamu. Pastikan bahwa hanya Allah jua yang tahu kebaikan yng telah kau amalkan. Inilah sebuah pohon yang kelak akan berbuah kebahagiaan."

Ah “jabat tangan” kali ini rasanya sangat mengena sekali. Mungkin ini teguran langsung dari Allah kepadaku bahwa berbuat baik saja tidak cukup, haruslah dibarengi dengan ilmu serta sikap tawaddu' dan ikhlas agar amalnya sempurna. T_T ighfirly ya Robb. Alhamdulillah telah diingatkan.

Sungguh di jaman maraknya media sosial seperti sekarang ini menyembunyikan perbuatan baik bisa dikatakan sebagai ujian keikhlasan yang amatlah berat godaannya. Mungkin diawal sama sekali tidak bermaksud riya’ tetapi yang namanya hati itu sangatlah mudah dia berbolak balik. Hingga Rasulullah SAW mengajarkan agar kita selalu berdoa, meminta diberikan ketetapan hati

 (يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَ عَلَى طَاعَتِكَ)
Duhai yang Maha membolak balikkan hati Tetapkanlah hatiku pada agamaMu dan ketaatan kepadaMu

Dan di dalam Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 271 Allah SWT berfirman : “ Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahan mu. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan.

Jadi, kebaikan apapun yang telah kita lakukan, simpanlah untuk diri kita sendiri berharap agar dapat menjadi pemberat amal di akhirat kelak agar ia sempurna. Bukankah Keridhoan Allah adalah yang paling kita harapkan sebagai hambanya yang (belajar) bertaqwa J

Seperti yang di tulis Masgun di Tumblrnya : 

Tetaplah rendah hati.  Kita tidak perlu mempromosikan tentang siapa diri kita. Tetaplah rendah hati

Karena ujian keikhlasan itu akan hadir saat kita sedang melakukan hal-hal yang hebat sementara tidak ada orang yang tahu. Semangat!

"yaan!... udah ketemu belum charge hp nya?"

oh iya, hampir saja terlupa