I want paint again

Minggu, 21 Mei 2017

| | | 0 komentar



Hei, kemarilah kuas
Hanya kau lah yang dapat
Mengerti apa yang kurasakan saat ini
Mari kita menari bersama dengan warna
Ya, benar sekali
Warna warna kehidupan yang akan selalu menjadi misteri

*Main sama cat air lagi, walaupun sedikit failed setelah sekian lama gak dilatih :D


Tentang Firasat

Kamis, 11 Mei 2017

| | | 0 komentar
Surah Al-Qashash  kembali lagi "menyapa" saya. Kali ini melalui tayangan di televisi acara Khalifah Trans 7 yang dibawakan oleh ustadz Budi Ashari yang bertema tentang firasat dan lagi-lagi bahasannya adalah tentang Shofura, putri Nabi Syu'aib as perempuan malu nan mulia itu. 

Firasat adalah suara hati yang hadir dan ternyata benar terjadi dikemudian hari, hal tersebut dikarenakan seseorang yang memiliki firasat tersebut memandang sesuatu dengan cahaya Allah Subhanahu Wa Ta'ala (Ust. Budi Ashari)

 Dari Sahabat mulia Abdullah bin Mas'ud ra menyebutkan bahwa terdapat tiga orang dalam sejarah islam yang paling kuat dan benar firasatnya. Yang menarik adalah satu diantara ketiga orang yang disebutkan tersebut adalah perempuan. Disebutkan bahwa ia adalah perempuan Negeri Madyan yaitu putri Nabi Syu'aib yang bernama Shofura yang memiliki firasat terhadap Nabi Musa as.

Ketika Nabi Musa tidak sengaja membunuh seorang Qibty (suku asli Mesir). Nabi Musa as berlari tanpa tujuan yang pasti untuk menghindari hukuman Fir'aun. Hingga tibalah Nabi Musa as di sebuah Negeri yang bernama Madyan. Dalam keadaan lelah Nabi Musa as kemudian beristirahat di dekat sumber air yang menjadi tempat untuk memberikan minum kepada ternak penggembala. Pada saat itu Nabi Musa as melihat dua perempuan penggembala yang terlihat berada di belakang.

Dan tatkala ia sampai di sumber air Negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan ternaknya, dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata, "Apakah maksudmu dengan berbuat begitu?" kedua perempuan itu menjawab, "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang Ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. (QS. Al-Qashash : 23)

Nabi Musa as kemudian membantu perempuan tersebut untuk memberikan minum kepada ternaknya. setelah membantu kedua perempuan tersebut Nabi Musa as duduk dibawah pohon seraya berdo'a kepada Allah Ta'ala.

Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". (QS. Al-Qashash : 24)

Ayah kedua perempuan tadi merasa heran karena kedua putrinya pulang lebih cepat daripada biasanya. Namun Nabi Syu'aib as baru paham setelah keduanya menceritakan tentang Nabi Musa as dan kejadian yang telah mereka alami. Maka, orang tuanya memerintahkan putrinya untuk mengundang Nabi Musa as kerumahnya. dan inilah rupanya jawaban Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas do'a Nabi Musa as. 

Kemudian salah seorang dari kedua perempuan itu datang berjalan malu-malu kepada Musa, ia berkata, "Sesungguhnya Ayahku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)-mu memberi minum ternak kami"...(QS. Al-Qashash : 25) 

Dan tentang firasat perempuan Negeri Madyan tersebut terhadap Nabi Musa as diabadika Allah Ta'ala dalam Al-Qur'anul karim

"Wahai Ayahku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja(pada kita) ialah orang yang kuat lagi amanah (dapat dipercaya)". (QS. Al-Qashash : 26)

Kuat dan Amanah inilah yang menjadi tanda firasat dan dibaca oleh perempuan Negeri Madyan tersebut sebagai keadaan tentang Nabi Musa as dikemudian harinya. Kuat, karena Nabi Musa as menolong perempuan tersebut pada saat ingin memberikan minum pada ternaknya, sumber air ditutup oleh batu besar yang diperlukan beberapa lelaki untuk mengangkatnya. sedangkan Nabi Musa as cukup seorang diri saja sudah cukup kuat untuk mengangkat batu tersebut. sedangkan Amanah, ketika perempuan tadi sudah pulang kerumah, kemudian diutus kembali oleh sang ayah untuk mengundang Nabi Musa as kerumah mereka. pada saat di padang pasir Nabi Musa as dan Shofura hanya berjalan berdua, Nabi Musa as sangat menjaga pandangan dan dirinya dari perempuan tersebut inilah sifat Amanah yang terbaca. 

Para ahli tafsir sependapat bahwa dikemudian hari perempuan Negeri Madyan yang memiliki firasat inilah yang menikah dengan Nabi Musa as.

Berkatalah dia (Syu'aib), "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengans alah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik". (QS. Al-Qashash : 27)

Dan benarlah sesuai firasat perempuan Negeri Madyan tersebut Nabi Musa as bekerja dengan sangat baik bersifat kuat (qowiy) lagi terpercaya (amiin).

Dalam sejarah terdapat banyak hamba Allah yang Sholih dan Sholihah yang memiliki kebenaran dalam berfirasat, apabila ia berkata sesuatu maka dengan ijin Allah Subhanahu Wa Ta'ala hal tersebut benar terjadi. Diantaranya adalah seorang ahli ibadah Syaikh Abdu Syuja' Al Kirmani rahimallah.

Syaikh Syuja' Al Kirmani berkata :
"Barang siapa penampilan lahiriahnya mengikuti sunnah, batinnya selalu sadar akan Allah Ta'ala, Pandangannya selalu dijaga dari hal-hal yang haram, selalu mengekang nafsunya dari syahwat dan selalu memakan makanan yang halal, pasti firasatnya tidak akan meleset"..

 Syaikh Syuja' Al Kirmani disebutkan dalam riwayat adalah orang yang tidak pernah meleset dalam berfirasat. 


"Maka jika hari ini kita mendengar ada orang yang berfirasat, haruslah kita lihat dahulu apakah orang tersebut orang beriman? dan yang menjadi tolak ukurnya adalah apa yang dikatakan oleh Syaikh Al Kirmani tadi" (Ust. Budi Ashari)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-An'am ayat 122 ;

Dan apakah orang yang sudah mati lalu kami hidupkan dan kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan ditengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan , sehingga dia tidak dapat keluar dari sana?.........

 Orang yang hidup dalam cahaya Allah tentulah berbeda dengan orang yang hidup dalam kegelapan. Maka, orangyang hidup dengan cahaya itulah salah satu yang Allah berikan keistimewaan di muka bumi ini adalah ketika Allah Ta'ala memberika dia firasat, dia memandang sesuatu dengan cahaya Allah Subhanahu Wa Ta'ala , Wallahu'alam bi Shawab





Mamak

Rabu, 03 Mei 2017

| | | 0 komentar
Masih teringat jelas dalam memori otak saya akan sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga. Disampaikan dengan penuh keteladanan oleh seorang pahlawan dalam hidup saya yaitu Mamak.

Kala itu adalah hari pertama saya masuk sekolah dasar di bangku kelas tiga. Suasana baru bukan hanya terasa dari kelas baru ataupun guru baru, namun juga waktu belajar di sekolah yang lebih lama menjadi pengalaman baru bagi kami yang masih anak-anak. 

Jika pada saat kelas dua sekolah berakhir pada jam 10. Di kelas 3 ini kami baru pulang pada jam 01.00 siang. Dan jika pada saat kelas dua kami hanya istirahat 1 kali di kelas 3 ini istirahatnya menjadi 2 kali. Maka terbayanglah dibenak kami yang biasanya jam 10 sudah pulang ke rumah dengan segelas susu dan cemilan sudah terhidang di meja kemudian tak lama setelahnya telah tersaji makan siang, kali ini setelah kelas 3 hal-hal tersebut tidak akan pernah terjadi lagi.

Untuk mengantisipasi perut keroncongan di tengah jam pelajaran beberapa kawan memamerkan uang saku mereka yang telah dinaikkan dari sebelumnya. Ramai sekali celoteh mereka di depan kelas "aku sekarang sangunya 700 rupiah loh", "waah kalau aku sekarang jadi seribu rupiah".

Beberapa kawan lagi membawa bekal berupa nasi ataupun kue kue atau biskuit. Saya termasuk yang membawa bekal kue. Pagi tadi mamak sudah memasukkan beberapa potong lapis legit di kotak bekal. Saya sempat keheranan kenapa begitu banyak kuenya hingga hampir penuh isi kotak bekal saya. Mamak berkata kalau kuenya banyak, saya bisa membaginya dengan teman-teman ataupun bapak dan ibu guru di sekolah. "Kan senang kalau dimakannya ramai-ramai" kata mamak. Disaat dewasa saya baru menyadari kalau ternyata mamak mengajarkan kepada saya untuk senang berbagi.

Tak lama setelah itu, dipagi hari saya berangkat sekolah bersama mamak menggunakan sepeda motor dinas. Biasanya sih kami berbonceng bertiga dengan ayah, namun pada saat itu ayah sedang mendapatkan tugas diluar kota selama sepekan. Ditengah perjalanan kami bertemu dengan seorang ibu yang tengah berjalan kaki. Kami mengenali ibu tersebut karena beliau adalah tetangga kami, seorang guru disebuah SMP Negri, biasanya beliau berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Mamak pun menghentikan kendaraan dan bertanya kenapa ibu tersebut berjalan kaki. Rupanya sepeda motor beliau kala itu sedang rusak. Mamak dengan senang hati menawarkan tumpangan kepada Ibu tersebut dan gayung pun bersambut, ibu itu menerima tawaran dari mamak. Pada saat dewasa barulah saya menyadari dari peristiwa itu mamak telah mengajarkan saya untuk lebih peduli.

Terima Kasih mamak, dirimu telah mengajarkan keteladanan akan sikap-sikap baik. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala selalu melimpahkan keberkahannya kepadamu.

*Saat malam ini mamak minta dipijit tiba-tiba memori dimasa lalu itu berkelindan ramai dalam otak saya :) 


Perempuan Malu nan Mulia itu Bernama Shofura

Senin, 01 Mei 2017

| | | 0 komentar
Adalah Shofura yang menjauh dari antrian para penggembala lelaki saat hendak memberikan minum ternak-ternaknya. Shofura beserta Laya saudara perempuannya rela menepi menunggu antrian penggembala lelaki memuaskan dahaga ternak mereka. Hingga tiba saat Nabi Musa as mewakilkan antrian mereka.

Adalah Shofura yang berjalan dengan malu dan berkata-kata singkat sesuai pesan Bapaknya untuk mengundang Nabi Musa as kerumahnya sebagai balasan pertolongan yang telah dilakukan Nabi Musa as.

Adalah Shofura yang ketika mengantarkan Nabi Musa as, ia berjalan di belakang Nabi Musa as. Kerikil demi kerikil ia lemparkan sebagai penunjuk jalan tanpa menggunakan kata-kata demi menjaga lisannya dari fitnah.

Adalah Shofura perempuan mulia nan bersifat malu inilah yang telah menjadi perantara atas jawaban do'a Nabi Musa, juga dikemudian hari menjadi istri Sang Nabi.

Terima kasih Shofura, Engkau telah mengajarkan kami bagaimana selayaknya perempuan memiliki rasa malu dalam bersikap. [yAn] 
 ==========================
 Entah mengapa satu minggu ini sekelebat surah Al-Qashash ayat 25 begitu sering "menyapa" saya. Berawal dari postingan di akun facebook ustadz Salim A Fillah yang sempat saya tuliskan disini, ketika mendengar kajian rutin rekaman suara Ustadz Budi Ashari pun membahas tentang sifat malunya perempuan yang di bahas di surah Al-Qashash ayat 25, saat iseng buka-buka majalah lama Muslimah ketemunya juga tentang kisah Shofura dan Laya ini. kemudian waktu baca kitabnya Ibnu Katsir Rahimahullah ketemunya juga kisah Al-Qashash ayat 23-25. Ada apa ini ya? Apakah Allah Subhanallahu Wa Ta'ala sedang memperingatkan saya untuk bersifat malu? kalau saya pikir-pikir sepertinya saya sudah cukup pemalu kok, walaupun lebih sering malu-maluin hehehe.

Antara surah Al Qashsah dan surah Yusuf

Rabu, 26 April 2017

| | | 0 komentar
Pagi ini saya menemukan tulisan bagus dari akun facebooknya Ustadz Salim A. Fillah judulnya 

Si TAMPAN dan Si GAGAH

@salimafillah

"Surat Yusuf dibuka Allah dengan kalimat, 'Nahnu Naqushshu 'Alaika Ahsanal Qashash', Kami ceritakan padamu sebaik-baik kisah", tutur Brother Nouman Ali Khan di hadapan Syaikh Fahd Salim Al Kandary. "Dan bukankah di dalam Al Quran ada Surat Al Qashash? Maka apakah hubungan di antara keduanya?"

Ya.

Surat Yusuf mengisahkan seorang anak yang dibuang ke dalam sumur. Surat Al Qashash menceritakan seorang bayi yang dilarung ke dalam Sungai Nil.

Surat Yusuf menyebutkan sebab dibuangnya adalah bisik-bisik syaithan kepada sekelompok saudara sang bocah yang diamuk dengki. Surat Al Qashash mempersaksikan bahwa si mungil itu dibuang atas bimbingan wahyu Allah.

Surat Yusuf mengisahkan bahwa para kakak lelaki adalah sebab perpisahan dengan orangtua. Surat Al Qashash menceritakan bahwa kakak perempuan adalah sebab pertemuan kembali sang bayi dengan si ibu yang kan menyusui.

Surat Yusuf fokus menggambarkan sang Ayah; sedihnya, tangisnya, aduannya kepada Allah, bahkan sejak sang bocah mengisahkan mimpi yang dia tahu akan menyebabkan masalah jika didengar anak-anaknya yang lain. Surat Al Qashash konsentrasi melukiskan Sang Ibu; dukanya, galaunya, doanya; sejak dia melahirkan di suasana adanya Raja yang membunuh bayi-bayi, juga karena mimpi.

Di Surat Yusuf kita bertanya, "Di mana ibunya?", dan di Surat Al Qashash kita bertanya, "Di mana ayahnya?" Seakan keduanya bergabung memberi pelajaran berpasangan pada para ayah dan para ibu.

Dalam Surat Yusuf, perpisahan dengan ayah akan berlangsung bertahun-tahun lamanya. Dalam Surat Al Qashash perpisahan dengan sang ibu hanya akan terjadi beberapa saat saja.

Dalam Surat Yusuf, yang menemukan si bocah di pasar budak adalah seorang Pria Bangsawan, Al 'Aziz. Dalam Surat Al Qashash yang menemukan si bayi adalah Sang Permaisuri, Imra'atu Fir'aun.

Kedua penemu, baik di Surat Yusuf maupun Surat Al Qashash sama-sama berkata, "'Asaa an yanfa'anaa aw nattakhidzahu walada... Boleh jadi dia akan bermanfaat bagi kita, atau kita ambil saja dia sebagai anak." Yusuf menjadi manfaat dengan dijadikan budak. Musa menjadi Pangeran dengan dijadikan anak.

Kedua anak itu akhirnya tumbuh dewasa, dan keduanya diuji oleh Allah. Yusuf diuji di dalam istana tuannya, dengan ujian nafsu syahwat. Musa diuji di luar istana ayah angkatnya, dengan nafsu amarah.

Yusuf tidak bersalah dalam peristiwa yang menimpanya, sedang Musa dalam Surat Al Qashash bersalah hingga membunuh dalam kejadian yang dialaminya. Keduanya punya saksi. Saksinya Yusuf meringankannya dengan menunjuk baju yang sobek di belakang. Saksinya Musa justru menariknya untuk khilaf nyaris kedua kalinya. Tapi akhirnya Yusuf yang tak bersalah justru masuk penjara, sementara Musa yang bersalah lolos melarikan diri ke Madyan.

Kisah Yusuf bermula di luar Mesir, dan berakhir di Mesir. Kisah Musa bermula di Mesir, dan berakhir di luar Mesir.

Masyaallah. Saya tulis tadabbur menakjubkan ini dalam bahasa bebas dengan penambahan dengan pengurangan, seiring dengan kekaguman Syaikh Fahd Al Kandary yang telah menghafal Al Quran sejak usia 15 tahun.

Tabaarakarrahman, aktsarallaahu amtsalak ya Ustadz Nouman Ali Khan.

Dari kaitan kisah Si Tampan Yusuf dan Si Gagah Musa, tiadakah kita tergerak untuk kian menyimak kisah dan perumpamaan dari Kitab yang menakjubkan?

============================
sebenarnya ada bagian yang paling sering menjadi catatan penting dalam hidup saya yang terdapat dalam dua surah menakjubkan ini. sebuah bab yang sangat penting bagi kaum hawa yaitu bab "malu".

Disurah Al Qashash ada perempuan mulia nan bersifat malu karena iman di dalam dada, di surah Yusuf ada perempuan bertahta emas dan permata yang menanggung malu karena telah menjadi tawanan oleh nafsunya. [yAn]

Perempuan dalam surah Al Qashash itu ialah anak Nabi Syua'ib yang dikemudian hari menjadi istri Nabi Musa 'alaihisallam. hal ini diterangkan dalam surah Al Qashash ayat 25

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu". (QS : Al-Qashash ayat : 25)

Sedangkan perempuan dalam surah Yusuf adalah istri sang Al 'Aziz yang mengasuh Nabi Yusuf setalah lepas dari perbudakan. Zulaikha mempunyai ketertarikan khusus kepada Nabi Yusuf 'Alaihissallam hingga ingin melakukan perbuatan tercela itu, hal ini diterangkan dalam surah Yusuf ayat 23.

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini”. Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.

(QS: Yusuf Ayat: 23)