Antara Harapan dan Garis Takdir

Sabtu, 05 April 2014

| | | 0 komentar
*ini adalah karangan singkat dan spontan terilhami dari kisahnya mereka, mereka, mereka dan mereka, atau kisahmu, atau mungkin kisahku #Entahlah... nyahahaha~~sebenarnya kalau urasan beginian ane pribadi sih woles saja gan, :) #Usah kau ragu dengan janji Rabb mu...

Antara harapan dan garis takdir, Aku takut membangun harapan terlalu tinggi untuk menjadi teman menggapai RidhoNya bersamamu. Takut harapan yang telah menjulang tinggi itu nantinya akan roboh seketika oleh garis takdir. Dan akupun takut harapan demi harapan ini akan mengurangi keberkahanNya dalam kehidupanku selanjutnya. Biarlah hati ini mengikhlaskan apa yang sudah menjadi suratan takdir. Karena RidhoNya lah yang lebih aku harapkan dan aku cintai.


#njiiir.. mbk, mau dong ane telpon2an gitu sampe nangis, sambil cuci mata nih, mata ane dah kotor banget

==" nt beda operator sih, males dh jadinya

#mbk, ada nasyid yang pas banget nih TASHIRU - Maaf Tuk Berpisah

nyahaha~~~~

Renungan Saat Dini Hari

| | | 0 komentar
Setiap orang punya jalan cerita masing-masing, setiap orang memilih warna sendiri untuk di lukiskan di kanvas kehidupan ini. orang lain? hanya menjadi pengamat dan komentator, tak lebih dari itu. Kitalah yang berhak menentukan pilihan atas kehidupan kita sendiri. antara pilihan dan pilihan. pilihan yang terbaik adalah memasrahkan segala sesuatu kepadaNya, sungguh kita hanya insan lemah tanpa daya upaya kawan. 

Beberapa pekan lalu pukul 01.30 wita seorang teman lama tiba-tiba mengirimkan pesan wa, dan ini ceritanya cuap-cuap dini hari yang menggigil, intinya kita bisa menarik kesimpulan seperti ini.

Ada segelintir orang yang dengan hanya melihat ekspresi seseorang yang tidak biasanya kemudian akan bertanya "Kamu kenapa?" Meski terkadang tak mendapatkan jawaban yg diinginkan namun dia tak pernah lelah untuk peduli atau sekedar basa basi..
Ada juga orang yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri hingga sadar atau tidak dia menjadi terlalu tidak peka terhadap keadaan sekelilingnya..
Mana yang lebih baik? Tergantung dari sudut mana kau memandangnya.. Karena kesempurnaan memang bukan untuk manusia. Seorang teman pernah berkata "Kamu harus lebih mendahulukan menjaga perasaanmu sendiri daripada orang lain.." egois memang.. Tapi ada benarnya.. Seorang yg lain juga pernah berkata "Terkadang menjadi apatis itu perlu.." Sadar atau tidak tak ada seorangpun yang bisa benar-benar memahami apa yang kita rasakan, dan ketika kita jatuh hanya kita yang bisa memotivasi diri untuk bangkit kembali.. Jangan pernah bergantung pada orang lain karena kau sedang menjalani hidupmu sendiri, bukan orang lain.. Dan aku sudah banyak belajar dari pengalaman orang-orang yang menarik diri, siapakah orang-orang yang menarik diri itu? ialah mereka yang berusaha menjaga perasaan agar tidak TERSAKITI ataupun MENYAKITI.. Toh itu sama sekali tidak merugikan orang lain.. Hingga akhirnya mereka bisa bertahan hingga sekarang.. ini yang biasa kita kenal dengan panggilan generasi ghuroba yaitu orang-orang yang terasing, 

بَدَأَ الإِسلامُ غريبًا، وسَيَعُودُ غريبًا كما بدَأَ ، فطُوبَى للغرباءِ
“Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat  kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing”. (HR. Muslim)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  « إِنَّ الإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ ». قَالَ قِيلَ وَمَنِ الْغُرَبَاءُ قَالَ النُّزَّاعُ مِنَ الْقَبَائِلِ. قال الشيخ الألباني : صحيح دون قال قيل
“Sesungguhnya Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat  kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing”. Seseorang bertanya : “Siapakah orang-orang yang asing itu ya Rasulullah ? “Mereka yang “menyempal” (berseberangan) dari kaumnya”, jawab Rasulullah   (HR. Ibnu Majah, Ahmad & Ad Darimi dinyatakan Shahih oleh Syaikh Al Albani )

Pada akhirnya kita akan sadar bahwa satu-satunya tempat bergantung terbaik untuk orang yang terasing hanya pada Allah.. Karena hanya Dia yang tak akan pernah meninggalkanmu sendiri, karna hanya Dia yang Kasih Sayang-Nya tiada batas dan Pengampunan-Nya Maha Luas.. 

Lagi-lagi keberadaan orang lain hanyalah sebagai pengamat dan komentator seperti halnya pertandingan bola. siapa yang bermain? siapa yang menentukan kemana jalan bola bergulir? yang menentukan adalah pemain. dan saat ini kita sudah hampir seperempat abad perjalanan, memainkan peranan kita. Masihkah teguh dengan  prinsip hidup mulia atau mati syahid?

sebagai penutup cuap-cuap kita pada dini hari itu :

||| HIKMAH PAGI |||

Semua masalah dan kesulitan sudah
ada jawabannya di Al Quran :
Ketika kita mengeluh : “Ah mana mungkin…..” Allah menjawab : “Jika AKU
menghendaki, cukup Ku berkata “Jadi”, maka jadilah (QS. Yasin ; 82)

Ketika kita mengeluh : “Capek banget gw….” Allah menjawab : “…dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS.An-Naba :9)

Ketika kita mengeluh : “Berat banget yah, gak sanggup rasanya…” Allah menjawab : “AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupan.” (QS. Al Baqarah : 286)

Ketika kita mengeluh : “Stressss nih… Panik…” Allah menjawab : “Hanya dengan mengingatku hati akan menjadi tenang”. (QS. Ar Ra’d :28)

Ketika kita mengeluh : “Yaaaahh… ini mah semua bakal sia-sia..” Allah menjawab :”Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun niscaya ia akan melihat balasannya”. (QS. Al-Zalzalah :7)

Ketika kita mengeluh : “Gile aje..gw sendirian..gak ada seorangpun yang mau bantuin…” Allah menjawab : “Berdoalah (mintalah) kepadaKU, niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60)

Ketika kita mengeluh : “ Duh..sedih banget deh gw…” Allah menjawab : “La Tahzan,
Innallaha Ma’ana. Janganlah kamu berduka cita sesungguhnya Allah beserta kita:. (QS. At-Taubah :40)

Ketika kita mengeluh : “ampuuun kenapa sih susah amat nih kerjaan…” Allah menjawab : “sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada
kemudahan” (QS. Alam Nasyrah;6-7).


#karena sahabat yang terbaik adalah yang saling memberikan nasihat untuk selalu mengingatNya :D

 #Saat tak ada bahu untuk bersandar, masih ada lantai untuk bersujud,

AKP Turki Menang Telak

Senin, 31 Maret 2014

| | | 0 komentar

TURKI - Meski banyak digoncang oleh lawan-lawan politiknya dan di tengah protes akibat pemblokiran situs jejaring sosial, ternyata AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) tetap menang dalam pemilu lokal yang dilakukan kemarin (30/03/2014).

Hasil awal dari pemilihan lokal menunjukkan kenaikan suara signifikan bagi AKP, dengan mengantungi 47,6 % suara dari perhitungan 18,9 persen kotak suara di seluruh negeri .

Aljazeera melaporkan bahwa sisi mengejutkan dari hasil pemilu kali ini adalah bahwa beberapa lokasi yang diklaim sebagai basis kekuatan oposisi, justru memenangkan AKP, termasuk Antalya, Hataa dan Samson.

Hasil awal dari proses pemungutan suara di Istanbul, yang merupakan salah satu kota paling penting dari Turki, setelah penghitungan 21,7 % menunjukkan AKP unggul dengan 49,8 %, sedangkan partai oposisi Partai Rakyat Republik 38 % .

Di tingkat nasional, setelah menghitung 18,9 persen kotak suara, menunjukkan AKP unggul 47,6 %, dibandingkan 25,5 % Partai Rakyat Republik, dan 13,7 % untuk Partai Gerakan Nasional.

Sejak hari Minggu (30/03/2014) Turki rakyat mulai memberikan suara dalam pemilihan kota yang penting bagi masa depan politik PM Recep Tayyip Erdogan, yang tengah menghadapi serangan lawan politiknya tuduhan dua skandal korupsi dan komunikasi telepon yang bocor.

Pemilu lokal ini adalah ujian pertama bagi perdana menteri menjelang pemilihan presiden yang diperkirakan akan diselenggarakan pada bulan Agustus mendatang.

Pidato Kemenangan Erdogan

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan kemarin malam menyatakan kemenangan partainya dalam pemilu lokal. Dia juga mengambil kesempatan untuk memperingatkan pesaingnya bahwa mereka akan 'menanggung akibatnya'.

Partai pimpinan Erdogan unggul dalam penghitungan suara awal. Ini cukup bagi Erdogan untuk menyatakan kemenangan dalam pemungutan suara, yang dilihat oleh banyak kalangan sebagai referendum sebelas tahun pemerintahannya, seperti dilansir situs Arutz Sheva, Senin (31/3).

"Mereka yang menyerang Turki telah kecewa," kata Erdogan saat berpidato di depan ribuan pendukungnya dari balkon markas Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP), partai pimpinannya, di Ibu Kota Ankara.

"Kita akan memasuki gua-gua mereka dan mereka akan menanggung akibatnya. Bagaimana Anda bisa mengancam keamanan nasional kita di Suriah? Suriah saat ini dalam keadaan perang melawan kita," ucap Erdogan mengacu kepada para pendukung Gulen.

Kepada para pendukung Erdogan mengucapkan terimakasih atas segala perjuangannya.

"Kalian telah mendukung perdana menteri kalian, saya sangat berterima kasih," ucap Erdogan.

"Kalian telah melindungi perjuangan bagi kemerdekaan baru di Turki," lanjutnya yang disambut gembira para pendukungnya.

3 Bendera

Kemenangan telak AKP untuk keempat kali berturut-turut disambut gembira pada pendukungnya. Mereka berpawai keliling kota. Diantara mereka ada yang berpawai dengan membawa tiga bendera, Turki, Palestina dan Mesir. Ini sebagai simbol dukungan Turki yang tak pernah berubah untuk Palestina dan Mesir.


Dari 97,63 % total lembar suara yang telah dihitung, AK Parti terlihat jauh di depan meraup hampir separuh suara. Hasil yang telah disiarkan kantor berita Turki Anadolu Ajansi menunjukkan:

AK Parti 45.56 %
CHP 27.91 %
MHP 15.16 %
BDP 4.01 %
Lain-lain 7.36 %


  *sumber: muslimina, tajuk.co, merdeka.com, twitter, dll

Alhamdulillah.. horeeeeeeeee akp erdogan menang lagi..mantapks. semoga pks bisa menyusul kemenangan

Cerita dari Rumah Pemenangan, Kalah atau Menang Kami Tetap Bekerja

| | | 0 komentar


Rumah Pemenangan, kami menyebutnya rumah pemenangan sebuah rumah berbentuk panggung rendah khas rumah adat suku banjar pada umumnya, berjarak tak jauh dari rumahku, tepat di dekat Gang masuk menuju rumahku sendiri. Ada banyak cerita dari rumah ini, rumah ini menjadi saksi perjuangan. Ketika dulu aku suka memutar nasyid Shoatul Harokah dan Izzatul Islam yang menggemakan nafas perjuangan untuk membasmi kantuk saat tengah malam mengerjakan tugas-tugas kuliah yang menghabiskan kertas ber-rim-rim banyaknya. Di sini, dari rumah ini aku baru menyadari jikalau syair-syair dari nasyid tersebut benar-benar meniupkan nafas semangat perjuangan untuk meraih kemenangan ISLAM.

“Luruskan lah niatmu hai sahabat, Membina umat,Menggapai hidayat
Tetapkanlah Langkahmu hai sahabat, Tapaki jalan perjuangan
Dan debu-debu jadi saksi, peluh dan darah menghias diri
Kan tetap setia pada janji. Hingga kemenangan atau Kesyahidan kan diraih nanti”
(Hai Sahabat, Izzatul Islam)
Sama dengan hadist pertama Arabain nawawi yang disebutkan adalah tentang niat
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.
Jadi ceritanya sudah 3 minggu ini aku ikut-ikutan sibuk dirumah perjuangan itu, hampir tiap hari main kesana. Sibuk menjadi tenaga relawan meng-entri data, memasukkan data ke desain KTA, mem-print, lalu dipotong, dilaminating lalu dipotong lagi. Jumlahnya? Sekitar 5000an. Ribuan KTA yang merampungkan semuanya hanya aku, kak Fuad dan budhe kadang kalau lagi rame ngumpul bpk-bpk caleg yang merupakan orang struktur DPD juga ikut memotong sambil terus berdiskusi untuk pemenangan dakwah, ini yang namanya kerja keras. Kalau dulu ketika status masih mahasiswa mudah saja pekerjaan seperti ini di babat habis dengan banyak tenaga relawan ada adek2 ada mbak2 yang siap sedia membuat bunga atau potongin stiker ketika kampanye presbem, namun sekarang kondisinya telah berbeda.

Oke. Kembali ke cerita tentang niat. Di sela kegiatan potong memotong banyak cerita yang mengalir, salah satunya yang membuat ku tertegun adalah ketika menjelang pilkada kemaren ada bencana banjir di suatu desa, dengan semangat melayani dan mensejahterakan masyarakat pihak DPD PKS membuka posko pengobatan, check up gratis serta pembagian obat gratis. Sambutan masyarakat sangat antusias saat itu, tak dapat dipungkiri selain niat ikhlas membantu ada terbesit harapan agar masyarakat disana dapat mengenal PKS, mendukung dan bisa memberikan suara untuk PKS. Namun yang terjadi ketika hari pencoblosan dalam tabulasi suara di desa itu hanya satu suara untuk kita dan itupun hanya dari saksi yang bertugas disana. Kita mendapat “serangan fajar” cerita Kak Fuad. Serangan fajar yang dimaksud ialah serangan dari kubu lain yang membagi-bagikan uang di pagi hari kepada masyarakat pada hari-H pencoblosan. “Kalau sudah seperti itu, lupa sudah kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan, semuanya terbuai dunia terbuai oleh uang. Yah ini menjadi evaluasi bersama entah niat kita yang kurang lurus atau apa, tapi menurut ana ketika kita tau sifat masyarkat yang cenderung seperti ini, satu-satunya jalan perubahan adalah melakukan pembinaan, yang jelas kalah atau menang kita tetap bekerja” kata kak Fuad yang sudah 5 tahun bekerja menjadi administrasi DPD. 

Akupun menimpali kalau kemaren baru mendengar kabar kalau caleg XxXx berjanji akan memberikan 10 Jt perdesa jika terpilih nanti dan itu uang semua gak ada daunnya. "Kalau terpilih? Kalau antum paham RUU Desa Bab VIII tentang keuangan desa, salah satu sumbernya adalah dana APBD. Jadi, mudah saja ketika sudah terpilih caleg tersebut mencairkan dana APBD untuk desa" sahut Kak Fuad lagi. Jadi artinya memang ada dana khusus untuk desa dari APBD sedangkan pada kenyataannya banyak masyarakat yang belum paham dan berfikir si caleg tadi akan pakai uangnya sendiri. "Iya, itulah mirisnya, anomali social masyarakat di desa-desa kita ini masih terbuai dengan uang, pilkada kemaren ngeri loo. Uang itu sudah berhamburan di sana sini.. Nah Kita bikin yang beda saja. Bukan janji tapi target satu desa satu halaqoh, untuk pembinaan masyarakat. antum berani?" kata Kak Fuad sambil tertawa entah bercanda atau benar-benar akan dilakukan yang jelas kita semua disini, di rumah pemenangan ini memiliki satu harapan yang sama. Harapan untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan untuk masyarakat dengan penuh keberkahan Allah menjadikan negeri ini menjadi negeri Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur (negeri yang subur dan makmur, adil dan aman)

“CINTA kita pada dakwah inilah yang akhirnya membuat energi kita selalu besar, selalu ada, dan terus ada untuk memperjuangkan dakwah kita ( Ustadz. Cahyadi Takariawan )

Pelaihari, Rumah Pemenangan DPD PKS Kab. Tanah Laut Kalimantan Selatan

#Intermezzo

* Kak, bisa nyetir mobil?
% wah afwan, ana gak bisa nyetir mobil, memang ada apa?
* owh nggk, kalau bisa. minta tolong bantuin bersih2 atribut pakai mobil pick up, lagi gk ada orang nih heee
%$()(&$#@!

Akankah Ia Merangkul Bualanku?

Sabtu, 08 Maret 2014

| | | 0 komentar
Bersepeda sejenak menengok hutan belakang rumah. sepeda polygon berwarna hijau kuberi nama "safar" dan kubeli sewaktu kelas 5 SD hasil menukarkan sepeda kakak yang telah usang dan dengan sedikit tambahan dari uang tabunganku selama 3 tahun. Ah pulau ini begitu mempesona walaupun panas terik yang sangatlah menyengat kulit. tapi disinilah aku melihat langit terindah. gumpalan awan-awan kumulus terbesa. bintang bertabur dan bulan menyabit disinilah yang paling indah. segarnya sapaan embun di pagi hari, membasahi dedaunan hijau yang masih asri, dan hei.. perahu tertambat di sungai sana terlihat kabur oleh bayang-bayang embun yang menjelma kabut.

Kembali teringat beberapa keping memori pada masa perantauan di Tanah Jawa. 2 orang adik semasa dikampus berkata “mbak aku ingin ke Kalimantan” apa yang terjadi satu bulan kemudian mereka mendapatkan kesempatan Kerja Praktek di pulau ini. Ada lagi, seorang kawan setelah kita sama-sama wisuda ia berkata “pengen merantau di tempat nt yan, borneo” dan 5 bulan setelahnya dia mendapatkan pekerjaan di pulau ini. Pulau Kalimantan.

Sementara aku disini, di tanah kelahiranku. Pulau yang membesarkanku. Masih dengan impian INGIN berguna untuk pulau ini. Impian tanpa usaha = OMONG KOSONG belaka itu adalah KEBOHONGAN yang nyata. Bukan, aah bukan impian namanya ini hanya bualan. Bualan… yah lebih tepatnya aku hanya senang membual.

Tapi nyatanya bualanku tak pernah luput dari PendengaranNya..
Semoga saja Ia kan merangkulnya


Pelaihari, Kalimatan Selatan