Hamka : Dari Lembah Cita-Cita

Kamis, 15 Oktober 2015

| | | 0 komentar
Judul Buku          : Dari Lembah Cita-Cita
Penulis                 : HAMKA
Penerbit               : Bulan Bintang
Tahun Terbut      : 1946
Tebal                   : 64 halaman                   













Pemuda.....! Tepat sekali perkataan Rasulullah SAW.: "Pemuda itu adalah satu bahagian dari gila" Dengan kegilaannya itu dia mengadakan yang belum ada, dipahatnya batu, dibelahnya gunung ; dan Rasulullah sendiri di dalam seruannya yang suci dan luhur senantiasa dikatakan oleh orang-orang tua pada masa itu bahwa ia gila
------------------
Hanya harus diingat, ada jauh perbedaan antara cita-cita dan angan-angan. Cita adalah buah pandangan yang timbul sesudah melihat barang yang nyata, walaupun bagaimna sukarnya untuk manfaat bagi diri dan masyarakat, sedang angan-angan yang di dalam bahasa Arab di sebut khayal, ialah mimpi di waktu bangun, laksana pungguk merindukan bulan.

Kurniawan Gunadi : Lautan Langit

| | | 0 komentar
Judul Buku          : Lautan Langit
Penulis                 : Kurniawan Gunadi
Penerbit               : CV IDS
Tahun Terbut      : September 2015
Tebal                   : 203 halaman                   
Kategori              : Kumpulan Cerita dan Prosa





















Merupakan buku ke dua dari Kurniawan Gunadi setelah Hujan Matahari, covernya begitu syahdu begitu pertama kali melihat sudah terbayang akan dalamnya lautan dan langit yang tak dapat diukur. dan tak dapat bersatu, namun garis batas antara keduanya sungguh indah bukti akan betapa sempurna maha karyaNya.


Berbeda dengan Hujan Matahari yang memiliki 4 bab, Lautan Langit hanya memiliki 3 bab. Masih berupa kumpulan cerita dan prosa khas seperti Hujan Matahari dan dilengkapi dengan ilustrasi yang unik. Biar nggak penasaran langsung saja kita tengok beberapa cerita dan quote favorit saya di setiap babnya. :D


BAB I 

Pagi





















Ditengah Hujan Ibukota



Barangkali, aku adalah laki-laki yang paling bersyukur sebab hujan beberapa hari ini di ibukota. Hujan yang kata pemerintah setempat membuat genangan di jalan, hanya genangan. Padahal genangannya lebih dari setengah meter. Itu sudah seperti kolam lele.

Syukur ini mungkin bertentangan dengan banyak orang yang mengeluh karena banjir. Hari ini aku melihat hikmah lain dibalik hujan yang banyak dikutuk orang ini. Istriku tadi pagi iseng sekali, dia mengirimkan pesan melalui SMS padahal kami serumah.

“Aku senang kamu tidak harus pergi bekerja beberapa hari ini, biasanya kita berkumpul hanya di akhir pekan. Itu pun kamu sudah sibuk mengistirahatkan badan. Biasanya kamu pergi pagi pulang larut malam, hari ini aku bahagia karena kamu di rumah seharian. Seperti kemarin, bisa bercengkerama dengan anak tanpa beban kerjaan. Terima kasih. Juga terima kasih karena hujan ini menahanmu di rumah”

Aku tersenyum sekaligus menyadari bertapa berharganya waktu bersama keluarga. Aku bekerja, siang malam di ibukota ini untuk memenuhi kebutuhan materi keluarga ini. Ditengah biaya hidup yang semakin meningkat, harga kebutuhan pokok yang naik padahal harga BBM turun. Aku harus bekerja ekstra untuk menjaga kestabilan perekonomian keluarga ini. Untuk istriku yang cantik dan anak perempuanku yang masih kecil.
Aku membalas pesan itu dengan emote saja:
“:)”

Hari ini, di tengah genangan air yang mulai masuk ke lantai pertama rumah kami. Kami duduk di balkon lantai dua. Menikmati dunia yang sunyi, dunia yang langka di tengah riuhnya ibu kota. Tanpa listrik dan menjauhkan handphone, kami berdua berbicara lebih banyak dari hari-hari biasanya. 

Tentang banyak hal yang lupa kami bicarakan diakhir pekan, tentang rencana menjadi wirausaha yang tertelan rutinitas dan ketakutan pada ketidakmapanan.

Hujan ini memberiku kesempatan untuk menjadi ayah yang baik, membersamai puteriku siang malam, melihat bagaimana dia jam 8 pagi hingga 5 sore setiap senin sampai jumat yang tak pernah kusaksikan. Betapa lucunya ia. 

Aku berpikir untuk membesarkannya tidak di sini, tidak di ibukota.
“Bagaimana kalau kita pindah kota?”
“Kamu serius, bagaimana dengan pekerjaanmu?”
“Kalian lebih berharga daripada pekerjaan ini, kalian harus tinggal ditempat yang aman dan tenteram. Kita hijrah”
“Kemana pun, asal aku ikut”
Aku tidak pernah memiliki pembicaraan hangat seperti ini beberapa tahun terakhir setelah berkeluarga dan sibuk bekerja. Hari ini aku bersyukur karena hujan benar-benar menurunkan rahmat untuk orang-orang yang bersyukur.

BAB II
Siang















Ujian Kesempatan

Tidak semua kesempatan datang untuk diambil, ada kalanya dan mungkin sering jika kesempatan itu datang sebagai ujian. Ujian untuk keteguhan hati kita pada sesuatu yang lebih pertama kita putuskan, lebih pertama kita pilih.

Kesempatan itu ujian yang mungkin paling tidak kita sadari, kesempatan-kesempatan ‘emas’ yang datang, yang membuat kita menjadi ragu pada pilihan kita sebelumnya. Kesempatan yang membuat kita berpikir ulang tentang pilihan-pilihan kita sendiri. Menggoyang prioritas kita, menyelisih hati kita.

Seandainya semua kesempatan itu kita ambil, mungkin kita akan menjadi orang yang terus terombang ambing. Kita akan belajar tentang keteguhan hati dari setiap kesempatan yang datang. 


Tidak semua kesempatan yang datang itu harus diambil. Hati-hatilah mengenali kesempatan, karena bisa jadi itu adalah ujian.

BAB III
Sore
















Hidupmu adalah sebuah alasan

Dia merencanakan sesuatu pada kita saat kita diciptakan. Ada alasan mengapa kita diciptakan, ada alasan mengapa kita harus ada. Ada sesuatu yang ingin Dia lakukan melalui tangan kecil kita ini, melalui akal ini, melalui hati kita ini.

:')

Senin, 12 Oktober 2015

| | | 0 komentar
Selalu suka dengan kata-kata ini :

Cinta itu indah. Kerena ia bekerja dalam ruang kehidupan yang luas. Dan inti pekerjaannya adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang kita cintai untuk tumbuh menjadi lebih dan berbahagia karenanya.

Para pencinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka: memberi. Terus menerus memberi. Dan selamanya begitu. Menerima? Mungkin atau bisa jadi pasti! Tapi itu efek. Hanya efek. Efek dari apa yang mereka berikan. Seperti cermin kebajikan yang memantulkan kebajikan yang sama. Sebab, adalah hakikat di alam selalu mengajak saudara-saudara kebajikan yang lain untuk dilakukan juga.

Itu juga yang membedakan para pencinta sejati dengan para pencinta palsu. Kalau kamu mencintai seseorang dengan tulus, ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu adalah apa yang kamu beikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Maka kamu adalah air. Maka kamu adalah matahari. Ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Ia besar dan berbuah dari sinar cahayamu.

Para pencinta sejati tidak suka berjanji. Tapi begitu mereka memutuskan mencintai seseorang, mereka segera membuat rencana memberi. Setelah itu mereka bekerja dalam diam dan sunyi untuk mewujudkan rencana-rencana mereka. Setiap satu rencana memberi terealisasi, setiap itu satu bibit cinta muncul bersemi dalam hati orang yang dicintai. Janji menerbitkan harapan. Tapi pemberian melahirkan kepercayaan.


(Al Ustadz Anis Matta)

Terima kasih kepada teman-teman yang telah berbagi cinta untuk adik -adik disini. Mengajarkan makna memberi dan kebaikan. Semoga Allah membalas kebaikan kalian.

Satu kardus buku dari cepu. Beberapa paket buku dari surabaya, balikpapan dan mojokerto. Alat-alat mewarnai dari bekasi. Sungguh saya tidak bisa membalas kebaikan semua. Semoga Allah menjadikan apa yang telah kalian perbuat menjadi pemberat amal di akhirat kelak :')

Cerita Sobat Cakrawala

Minggu, 20 September 2015

| | | 0 komentar
“kak, hari ahad ini kita bikin prakarya apalagi?” Seorang gadis kecil bertanya padaku sembari mengerjakan pr matematika. Aku berpikir sejenak, mau meneruskan celengan ayam yang kemarin sepertinya tidak memungkinkan karena sudah sekitar 4 hari ini 4 anggota sobat cakrawala sakit. Sayang kalau tidak diteruskan bersama-sama prakaryanya feel nya kurang dapet.

“hmm.. gini aja kita nanti sepeda santai sambil menjenguk teman-teman yang sakit” seruku setelah berpikir cepat mengambil keputusan. Segera saja disusul teriakan “horeee!! Ahad sepeda santai” oleh para sobat cakrawala.

Oh iya. Aku menamai mereka sobat cakrawala, sekumpulan anak yang duduk dibangku kelas 5 SD yang merupakan pengunjung setia Rumah Baca Cakrawala. Biasanya mereka minta diajari matematika, mengaji Iqro ataupun surah-surah pendek, kadang juga meminjam buku, membaca ataupun mewarnai.

“kak, aku gak punya sepeda” celetuk salah seorang anak.

“ya. Nanti bisa kakak pinjamkan sepeda keponakan kakak. Jangan lupa bawa air minum masing-masing ya”

“siap kak!”
……………………………………………………….

Hari yang ditunggupun tiba, pukul 09.00 tidak kurang dari 10 sobat cakrawala telah berkumpul di rumah baca. Padahal aku menjadwalkan pukul 09.30 untuk berkumpul haha bersemangat sekali mereka. Segera kukeluarkan sepedaku yang telah berumur 11 tahun. Setelah persiapan pompa memompa ban sepeda kemudian disusul dengan membaca do’a Bismillahittawakaltu ‘alallah laa haula wala quwata illabillah kami pun melaju diantara bebatuan menuju rumah Nurul yang kabarnya terserang sakit demam sudah 5 hari lamanya. Selanjutnya disusul menuju rumah Mahlida, Mahmudah dan Halimatus.

Hai sobat cakrawala, kakak hanya ingin agar kalian mengerti dan mengamalkan bahwa mengunjungi orang sakit adalah salah satu kewajiban seorang muslim atas saudaranya.
…………………………………………………

Setelah mengunjungi serta mendo’akan teman-teman yang sakit kamipun duduk di bawah pohon besar untuk sekedar melepas penat dan menuntaskan dahaga. “kak, kita ke taman Minta Tirta yuuuk” sahut Mujid. “iya, boleh” sahutku riang. Segera saja tanpa dikomando mereka langsung menaiki sepeda menuju Taman Mina Tirta, yaitu sebuah tempat rekreasi berupa waduk buatan di pulau kami.
…………………………………………….

“Mampir Hutan Kota dulu ya!” seruku mengomando arah perjalanan. Menuju kawasan mina tirta sebelumnya haruslah melewati daerah hutan kota. Sayang kalau dilewatkan kebetulan akupun sudah lama tak kesana. Sesampai di Hutan Kota ternyata tak seperti yang kubayangkan tempat itu seperti tidak terurus. Sangkar burung raksasa penghuninya hanya ada sepasang burung dara saja. Dan pohon-pohon yang dulu lebat hanya tinggal sedikit dan bisa dihitung jari. Ternyata sudah banyak yang berubah dari Kota ini setelah kutinggalkan sekian lama.
…………………………………………………….

Selanjutnya ke tempat rekreasi Mina Tirta dan keadaannya sebelah dua belas dengan kawasan hutan kota. Tidak terurus. Sepeda air mangkrak di ujung dermaga, sepertinya tidak dapat digunakan lagi. Dan waduk buatan banyak sampah yang terserak. Akhirnya bersama sobat cakrawala kami punguti sampah tersebut. Sedikit berbuat dari pada tidak sama sekali untuk lingkungan yang lestari.

...................................................................

Berikut foto-foto seadanya dari sobat cakrawala, seadaya karena kakak tukang fotonya ngos-ngosan udah lama gak sepedaan hhhee

capek kakak... di tuntun saja ya sepeda nya. 

 ayo kumpulkan sampah..

masukkan sampah ke dalam karung

lalu, buang sampah pada tempatnya. beres deh. pekerjaan yang mudah sebenarnya :D

Inilah kami sobat cakrawala. ayo semua teriak cakrawalaaaaa! XD





Aksi Rumah Baca

Jumat, 04 September 2015

| | | 0 komentar
belum genap dua minggu keluarga kami menyulap perpustakaan keluarga ini menjadi semacam taman baca masyarakat.

bertempat di Jl. Ambawang RT 015 RW 001 Kelurahan Sarang Halang, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan ruangan berukuran 8 x 5 m itu kini telah berjejer rapi koleksi buku-buku yang memang rutin dikirim keluarga di Jawa sejak saya kecil, hal tersebut didasari karena di kota saya tidak ada toko buku yang lengkap. jangankan semacam togamas ataupun gramedia, kios yang menjual buku bisa hitung dengan jari, mungkin hanya sekitar 2-3 toko saja itupun hanya terbatas buku pelajaran.

dilatarbelakangi dengan semangat berbagi dan dukungan dari keluarga besar tak kurang dari 12 kardus buku kembali dipaketkan dari Depok pada bulan juli yang lalu untuk menambah koleksi perpustakaan kami.

tetangga samping rumah yang berprofesi sebagai tukang kayu juga turut ambil bagian bersama ayah membuat rak-rak buku. dan beberapa hari kemudian tetangga tersebut kembali membuatkan kaki / sandaran papan tulis. Alhamdulillah, Semoga Allah membalas kebaikanmu pak :)

"biar anak-anak yang belajar enak liatnya" kata beliau

dan hari ini keharuan semakin bertambah, 2 gadis kecil kelas 5 SD tergopoh-gopoh membawa meja kecil.

"kak ini mejanya kami berikan untuk rumah baca, biar enak belajarnya" seru mereka riang dengan nafas memburu karena ngos-ngosan. selama ini meja-meja kecil memang baru tersedia 5 buah saja.

"Masya Allah, kalian bawa ini dari mana?" sahutku yang sempat terkejut dengan kedatangan mereka

"dari gang 45 kak!"

MasyaAllah gang 45 itu jaraknya sekitar 500 m dari rumah baca. begitu semangatnya mereka. kebaikan mengalir dari tangan-tangan mungil itu.

fabiayyi ala irobbikuma tukadziban...

.........................................................
tetaplah berbuat baik
karena kebaikan itu mengalir..
tetap tebarkan ketulusan
karena ketulusan itu menular
(yAn)
.......................................................

Belajar B. Arab bisa sambil bermain sembari menghapal kosa kata dan susunan bahasanya :)

Membuat pajangan nan elok dari bunga kering di sekitar, tak perlu mahal untuk berkarya :)


serunya membaca untuk menambah pengetahuan :)

pencil warna, crayon yak semua sudah siap untuk memadukan warna :)

saatnya belajar mengerjakan PR dan latihan tugas-tugas di sekolah

ssstttt jangan berebutan buku yak :)