Sudut Lain Bumi Pertiwi

Rabu, 12 Agustus 2015

| | | 0 komentar
Tengoklah sejenak kawan
Ini adalah kisah tentang sebuah perjuangan dan juga harapan.
Agar bumi pertiwi terbebas dari kerusakan
Oleh mereka yang mengaku Memajukan peradaban
Namun tujuan utamanya adalah uang
Tidak adakah keinginan untuk selaras dengan alam?

Atau mungkin mereka sudah tak takut lagi dengan azab Tuhan.

Tengoklah sejenak saja kawan
Ini tentang sebuah kenyataan
Makna akan sejengkal tanah kelahiran
Yang tengah diperebutkan..[yAn]

-----------------------------------------
Terimakasih kepada Tim Ekspedisi Indonesia Biru
Yang telah membuka cakrawala
Tentang sudut lain Bumi Pertiwi ini









Pesona Pelaihari : Pantai Takisung

Selasa, 04 Agustus 2015

| | | 0 komentar
Hari ketiga dibulan Syawal yang lalu saya kedatangan tamu dari Banjarmasin seorang kawan ketika menempuh pendidikan sarjana di ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya dulu, tepatnya dia adalah adik junior saya di kampus walaupun berbeda jurusan tetapi kami sering bertemu dalam beberapa event kampus. Sebenarnya sayalah yang mengundangnya untuk berkunjung kerumah saya mengingat kawan tersebut tak bisa pulang ke Kampung halamannya di Kota Kediri Jawa Timur akibat dari Bandara yang di tutup sebab Erupsi Gunung Raung beberapa saat yang lalu.

“Nenek bagaimana jalan ke rumahmu? Aku di km 4,5 jl. A. Yani Banjarmasin” tanyanya melalui chatting whatsapp. Abaikan tentang panggilan “nenek” entah saya lupa telah punya julukan apa saja sewaktu kuliah dulu.  Kembali dengan jalan A. Yani sangat familiar di provinsi Kalimantan Selatan. Bagaimana tidak jalan ini adalah jalan terpanjang di Kalimantan Selatan merupakan jalan lurus melintang sepanjang lebih dari 400 km dengan nama yang sama yaitu A.Yani mulai dari ujung selatan Kalimantan Selatan yaitu Kota Pelaihari hingga melewati Banjarbaru, Banjarmasin, hingga Tanjung dan perbatasan Kalimantan Timur. Jadi kalau mencari alamat di Kalimantan Selatan jika keterangannya hanya Jl. A.Yani saja tanpa ada petunjuk km (kilo meternya) bisa-bisa kesasar dengan menyusuri jalan yang memiliki panjang lebih dari 400 km ini. Walau pun jalannya lurus saja bukan berarti datar karena Kalimantan Selatan merupakan Kawasan yang di lintasi pegunungan yang dinamai Pegunungan Meratus, karena ada ratusan Gunung jalannya sudah pasti naik turun.

“Oke dari km 4,5 Jl. Ayani lurus ada pertigaan belok kiri nanti ada pertigaan Liang anggang belok kiri lagi udah lurus aja sampai ada bank kalsel itu sudah Pelaihari nanti saya jemput” Yah, jalanan di Kalimantan memang lurus-lurus saja tak banyak cabang tak banyak belokan. Sama seperti saya yang berhati lurus ini (XD). Dari km 4,5 Jl. A. Yani Banjarmasin menuju Kota Pelaihari harus ditempuh dengan perjalanan maksimal 2 jam, jarak tempuh sekitar 60 km.

Benar saja pukul 10.00 kawan tadi telah sampai di depan Bank Kalsel. Dari rumah saya lumayan dekat sekitar 3 km. “nenek, aku menikmati perjalanannya pemandangan hijau di sisi kiri dan kanan dengan jalan lurus naik turun kayak di Malang kalau lewat jalur Ngantang tapi ini gak berkelok curam, lurruuss aja” ceritanya rizka histeris (oh. Iya kawan saya bernama Rizka). Okeh, masih semangat lanjut berpetualang! Kebetulan sekali karena hari ini ayah telah berjanji untuk mengajak jalan-jalan kepada adik, kakak, keponakan serta anak tetangga di tambah saya dan juga Rizka (dan kesemuanya adalah perempuan kecuali ayah saya hoho).

Pertama kami ke pantai Takisung, Pantai terdekat dari kota Pelaihari yang hanya berjarak 22 km, ini adalah Pantai yang terdapat di pucuk paling Selatan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalau liat di Peta dari kecil yang saya bayangkan ketika melihat Peta Provinsi Kalimantan Selatan itu seperti pantat ayam yang telah matang di goreng, ah mungkin imajinasi saya saja yang berlebihan). Pantai Takisung adalah pantai berpasir merah dan memiliki tebing tinggi dengan tangga berundak untuk bisa melihat pantai dari atas dengan angin laut jawa yang kencang luar biasa. Di pantai bisa menyewa payung besar yang telah tertancap di pasir untuk duduk-duduk sambil memakan bekal. Payung disewa dengan harga 15.000 rupiah. 

awan di Kalimantan itu berasa dekat dan sering beriringan

Ada banyak wisata Pantai lainnya dengan petunjuk arah yang sangat jelas dari Kota Pelaihari, antara lain Pantai Batu Lima, Pantai Batu Dewa, Pantai Batakan, Pantai Swarangan, Pantai Pegatan dsb. satu hari tak cukup rasanya berkeliling semua pantai di Pelaihari.

Selanjutnya kami pergi ke Taman Labirin. Nantikan tulisan berikutnya tentang Taman Labirin, Masih di Pesona Pelaihari =D

untuk dapat memfoto dengan view seperti ini saya  memanjat menara pantau setinggi 4 meter dengan tangga kayu yang tegak lurus 90 derajat fufufu




Pesona Pelaihari Kabupaten Tanah Laut : MT. Bajuin & Goa Marmer

Senin, 03 Agustus 2015

| | | 0 komentar
Tanah Laut adalah salah satu Kabupat3n di Kalimantan Selatan yang memiliki kontur unik, dimulai dari pegunungan, perbukitan hingga pantai terdapat di Kabupaten ini. Itulah sebabnya kenapa Kabupaten ini disebut dengan Kabupaten Tanah Laut, karena terdapat Tanah dan juga Laut. Tanah terhampar dengan view pegunungan, perbukitan, kota desa, lahan pertanian, perkebunan karet dsb. Terdapat laut yang berada di bagian Selatan Kalimantan Selatan berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Pada umumnya penamaan Kabupaten di Kalimantan Selatan kalau saya cermati menunjukkan ciri khas topografi di daerah tersebut seperti Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kab. Hulu Sungai Selatan, Kab. Hulu Sungai Tengah adalah daerah-daerah yang di lewati oleh sungai besar.

Kabupaten Tanah Laut merupakan salah satu dari 8 Kabupaten yang termasuk kawasan Pegunungan Meratus. Kawasan pegunungan meratus tersebut melintang panjang mulai dari selatan hingga utara Kalimanyan Selatan. Salah satu wisata gunung yang merupakan bagian dari kawasan pegunungan meratus di Kabupaten Tanah Laut adalah Gunung Bajuin dimana terdapat Air Terjun Bajuin dan Goa Marmer. Sebenarnya ada beberapa perbukitan yang juga menjadi tempat wisata namun hanya Gunung Bajuin inilah yang menurut saya "pantas" mendapat julukan gunung karena selain lebih tinggi dari pada yang lainnya, juga kondisi alamnya yang lebat dengan pepohonan dan bebatuan besar. Selainnya menurut saya lebih cocok jika disebut perbukitan karena tingginya yang masih berbilang ratusan meter saja diatas permukaan laut, jiga kondisi alamnya yang berupa hamparan padang ilalang, atau sabana walaupun penduduk lokal juga menamainya dengan gunung (Gunung keramaian, gunung raja, gunung khayangan , gunung tembak, gunung rimpi). Terakhir kali saya kesana sewaktu kelas 3 Madrasah Tsanawiyah bersama ayah. Berjarak sekitar 10 km dari Kota Pelaihari kurang lebih 2,5 jam perjalanan melalui jalan beraspal hingga Desa Sungai Bakar terdapat persimpangan dan jalan berganti dengan tanah. Menuju tempat parkir dan membayar karcis (pada masa itu karcisnya 2000 rupiah). Saya dan ayah mulai melakukan trekking menuju air terjun Bajuin. Telah ada jalan berundak dari bebatuan yang memudahkan pengunjung di mulai dari tempat parkir hingga setengah perjalanan menuju air terjun.  Selanjutnya jalan telah berganti dengan jalan setapak. Pemandangan samping kiri dan kanan adalah pepohonan akasia yang lebat, pisang pohon lebat lain yang tidak saya kenali serta bebatuan yang besar-besar banyak pula monyet-monyet yang bergelantungan, kicauan burung parkit dan sesekali terlihat burung elang yang terbang menukik.

Setengah jam perjalanan telah terdengar gemuruh suara air terjun. Langkahpun semakin di percepat jalan menanjak di tapaki dengan penuh semangat. Ternyata tidak sulit untuk mencintai tanah kelahiran, bukan hanya karena saya lahir dan besar di tanah Borneo ini. Namun, karena setiap saya keluar rumah sungguh banyak kecantikan alam yang tersembunyi, kini terbentang di depan mata Air Terjun Bajuin. Ternyata disana juga telah banyak orang-orang yang menikmati keindahan dan kesegaran air terjun. Saya dan ayah berjalan perlahan menuju sisi kanan tebing, kami ingin melihat  the fall water from the top. Tiba-tiba saja ayah yang berjalan di depan terperanjat kaget karena dari arah pepohonan di samping kanan mendesis ular hijau dengan bentuk kepala seperti sendok yang sedang menganga lebar. Dalam bahasa lokal ular jenis ini biasa disebut dengan ular sendok atau ular pucuk. Saya dan ayah sudah tidak asing dengan ular di rumah kami sering kedatangan ular di dapur, pohon jambu, di rumpun serai bahkan di bawah meja belajar kakak ular satu bulan berganti kulit tidak ketahuan hanya ada kulitnya saja yang tertinggal ketika kakak membersihkan kamarnya. Seketika ayah segera mengambil ranting kayu dan menghalau-halau ular tersebut hingga pergi.
Dikawasan ini terdapat 4 buah air terjun dengan ketinggian yang berbeda. Air terjun yang terdekat yang baru saja saya kunjungi tadi memiliki ketinggian sekitar 25 meter, yang kedua sekitar 17 meter, yang ke 3 (37 meter) dan yang keempat (18 meter).

Salah satu dari 4 Air Terjun Bajuin


Tidak jauh dari lokasi air terjun terdapat wisata Goa Marmer. Dengan perjalanan sekitar 30 menit. Goa ini memiliki batu yang berukuran besar dan mengkilap berwarna pucat seperti marmer yaitu putih, kuning dan krem. Gelap menuju ke dalam Goa dan terlihat mata-mata menyilaukan dari kelelawar yang bergentungan di atas Goa. Yang di sayangkan adalah telah banyak terdapat lubang bekas galian di sana sini, sepertinya warga sekitar mengambil batu-batu tersebut untuk di jual.

Batu ini seakan melayang 

Matahari mulai meninggi karena kami berangkat di pagi hari. Akhirnya kami pun menyudahi wisata ke Gunung Bajuin, padahal ingin sekali ke puncaknya melihat Kota Pelaihari dari puncak Gunung Bajuin Tentu menyenangkan yah walaupun Gunung ini hanya memiliki ketinggian mungkin di bawah 2000 mdpl (tidak ada keterangan yang pasti tingginya berapa) mungkin lain kali akan ke Gunung Bajuin lagi untuk melihat puncaknya. karena dari setiap penjuru Kota Pelaihari dari arah manapun dapat melihat Puncak Gunung Bajuin. Setiba di parkiran ayah menanyakan kepada warga berapa waktu yang dibutuhkan jika ingin melakukan pendakian ke puncak gunung, bukannya menjawab pertanyaan ayah orang yang di tanya malah bergidik ngeri sambil berkata “wah saya aja gak berani pak ke puncaknya kemarin wagra sini di serang beruang di daerah dekat puncak sampai robek-robek badannya”.

Itu adalah pengalaman pertama kali mendaki gunung bersama ayah 9 tahun yang lalu. Ah mendaki sejak saat itu menjadi candu selalu menyenangkan terucap nikmat dan syukur saat memandang tak jemu akan tanda-tanda kebesaranNya 

ayah kesayangan

Jumat, 31 Juli 2015

| | | 0 komentar
Sayangnya ayahku itu...
Ditunjukkannya dengan tiba-tiba ke kamarku dengan membawa palu paku serta balok kayu mungil untuk ganggang laci meja..
"Lihat yan. Sekarang jadi mudahkan untuk membuka lacinya"

Sayangnya ayahku itu...
Ditunjukkannya dengan memperbaiki lemari tua yang telah doyong menjadi kokoh kembali serta semakin cantik dengan di vernis. "Kau bisa menaruh buku-bukumu di lemari ini yan. Ayah sudah memberi roda juga sekarang jadi lebih mudah kalau ingin memindahnya"

Sayangnya ayahku itu...
Adalah ketika rumah paranet di kebun yang setengah jadi kemarin tiba-tiba sudah sudah selesai dan rapi jali di pagi hari ketika aku baru saja menyelesaikan semua pekerjaan rumah.

Sayangnya ayahku itu...
Adalah ketika memberikanku lampu bertenaga accu mungil ketika listrik padam di saat aku sedang tilawah.

Sayangnya ayahku itu...
Adalah ketika memberikanku segulungan kawat saat aku kehabisan kawat untuk membuat pot gantung.

Dan masih banyak bentuk sayangnya yang lain. Itulah ayahku. Tak banyak bertanya. Tak banyak berjanji. Namun aku telah belajar menjadi pengamat, pemerhati jeli dan cekatan dalam bertindak dari beliau sejak 20 tahun yang lalu.

Para pencinta sejati tidak suka berjanji. Tapi begitu mereka memutuskan mencintai seseorang, mereka segera membuat rencana memberi. Setelah itu mereka bekerja dalam diam dan sunyi untuk mewujudkan rencana-rencana mereka. Setiap satu rencana memberi terealisasi, setiap itu satu bibit cinta muncul bersemi dalam hati orang yang dicintai. Janji menerbitkan harapan. Tapi pemberian melahirkan kepercayaan.

Itu juga yang membedakan para pencinta sejati dengan para pencinta palsu. Kalau kamu mencintai seseorang dengan tulus, ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu adalah apa yang kamu berikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Maka kamu adalah air. Maka kamu adalah matahari. Ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Ia besar dan berbuah dari sinar cahayamu.
(Anis Matta)

 Semoga cepat sembuh ayah :,) ayo kita berkebun lagi...

makna mastatho'tum

Senin, 13 Juli 2015

| | | 0 komentar
BATAS "TIDAK MAMPU" KITA TERLALU RENDAH

Kita sering sekali mendengar orang mengatakan MASTATHO'TUM (Semampumu) 🐛🐛🐛

Maka banyak di antara kita yang mengatan 'INI YANG BISA SAYA LAKUKAN' entah itu di dalam hati atau terlahir dari lisan kita


Dalam Al Qur'an, kata Masthatho'tum
terdapat dalam surat At-Taghabun ayat 16 di korelasikan dengan kata taqwa.

Maksudnya ialah "Maka Bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu (semampunya)"


Mastatho'tum berarti sesuai kesanggupan atau semampunya, atau bisa di artikan  bahwa kita diperintahkan oleh Allah Ta'ala untuk
berTaqwa berdasarkan kesanggupan kita atau
semampunya.

🐌🐌🐌🐌🐌🐌
Namun sering sekali kita membuat standar 'target' 🎯 kita begitu lemah

❎ Saya biasanya cuma bisa baca Quran 2hlm sehari
❎ Saya mampunya cuma ngajar aja
❎ Saya mampunya cuma.....

Kita membuat standar yang menjadi batas diri yang ternyata sudah banyak orang yang melampauinya

🌵🍄🌵🍄🌵🍄🌵🍄🌵🍄

“Jika kau telah berada di jalan Allah, melesatlah dengan kencang. Jika sulit, maka tetaplah berlari meski kecil langkahmu. Bila engkau lelah, berjalanlah menghela lapang. Dan bila semua itu tak mampu kau lakukan, tetaplah maju meski terus merangkak, dan jangan pernah sekalipun berbalik ke belakang.” (Asy Syafi’i)

🌵🍄🌵🍄🌵🍄🌵🍄🌵🍄

🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢
Abdullah Al Azzam, seorang syekh teladan. Dihormati lg disegani, oleh para muridnya.

Pd suatu saat beliau ditanya oleh muridnya,
“Ya syekh, apa yg dimaksud dengan mastatho’tum”?
Sang Syekh-pun membawa muridnya ke sebuah lapangan. Meminta semuanya muridnya berlari sekuat tenaga, mengelilingi lapangan.
Setelah semua muridnya menyerah, dan menepi ke pinggir lapangan.

Sang Syekh-pun tak mau kalah. Beliau berlari mengelilingi lapangan hingga membuat semua muridnya keheranan...hg akhirnya beliau jatuh pingsan, tak sadarkan diri.

Setelah beliau siuman dan terbangun, muridnya bertanya,
“Syekh, apa yang hendak engkau ajarkan kepada kami?”.
“Muridku, Inilah yang dinamakan titik mastatho’tum! Titik di mana saat kita berusaha semaksimal tenaga sampai Allah sendiri yang menghentikan perjuangan kita (bukan, bukan kita yang berhenti)”, Jawab Sang Syekh dengan mantab !

Mari berlindung kepada ALLOH dari malas dan lemah azzam,

Mari menjemput limpahan karunia rahmatNYA dengan MASTATHO'TUM !!!

🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛
#copas dari grup wa keluarga spi itj..