ketsuekigata kun~ manga/anime lucu tentang golongan darah
ketsuekigata kun pada awalnya adalah manga jepang tentang karakteristik manusia berdasarkan golongan darah. katanya niih di jepang kalau mau menempatkan posisi jabatan di perusahaan selain keterampilan personal juga dilirik-lirik golongan darahnya tipe apaan, kali aja ternyata itu alien yang kagak punya golongan darah kayak manusia normal misalnya? nah looo bisa berabe dah XD ... haha bukan karena takut perusahaannya diselundupin ma alien kog. tapi berdasarkan survey golongan darah di Jepang. Ada golongan darah yang menonjol dan bisa di percaya ketika melakukan sesuatu. misalnya golongan darah tipe A yang paling bisa diajak kerja sama, tipe O yang paling pandai melakukan analisa dan tipe B yang memiliki kreatifitas tinggi.
Beberapa waktu yang lalu ketsuekigata kun sudah dibuat versi anime sampai 12 episode... bahkan sampai episode 4 sudah didubbing pakai bahasa Indonesia. di akhir anime selalu di katakan bahwa "Jangan menjudge orang dari golongan darahnya, selalu berusaha menjadi orang yang lebih baik itu kuncinya" (kurang lebih terjemahan Indonesianya seperti itu)
Semua yang dipaparkan dalam manga anime ketsuekigata kun ini adalah berdasarkan hasil survey, yang jelas manga anime ini sangat menghibur dan kita jadi punya pengetahuan tentang karakteristik kebanyakan berdasarkan goldarnya.
Beberapa waktu yang lalu ketsuekigata kun sudah dibuat versi anime sampai 12 episode... bahkan sampai episode 4 sudah didubbing pakai bahasa Indonesia. di akhir anime selalu di katakan bahwa "Jangan menjudge orang dari golongan darahnya, selalu berusaha menjadi orang yang lebih baik itu kuncinya" (kurang lebih terjemahan Indonesianya seperti itu)
Semua yang dipaparkan dalam manga anime ketsuekigata kun ini adalah berdasarkan hasil survey, yang jelas manga anime ini sangat menghibur dan kita jadi punya pengetahuan tentang karakteristik kebanyakan berdasarkan goldarnya.
Buat aku yang punya golongan darah A. gambar diatas adalah jawaban sakit pencernaan akut yang selama ini sering menyerang dengan tiba-tiba padahal pola makannya biasa saja gak aneh-aneh. ternyataaa itu adalah efek amarah yang ditahan.......XD
=============
Tentang isi hati... sekali lagi ini berdasarkan hasil survey
================================
Cerita lagi mandi, naah ini juga pernah kualami dulu waktu awal-awal tinggal di ma'had yang berasrama jauh dari orang tua sukanya nangis waktu mandi, maluuuuu laah kalau nangis di depan temen-temen XD beberapa kali nangis di kamar mandi hingga akhirnya menemukan tempat nangis paling sip sampai sekarang, yaitu di masjid yang sepi.
==============================
Sekali lagi tulisan ini juga bukan bermaksud menjudge orang lain berdasarkan golongan darahnya hanya ingin berbagi pengetahuan dan juga hiburan, karena bagi penggemar anime, anime ini bisa sangat menghibur looh XD. jadi jangan bersedih hati dan berkecil hati jikalau fakta yang disebutkan manga anime ketsuekigata kun ada yang tidak sesuai, yang penting adalah kita harus selalu memperbaiki diri okaaay tidak peduli golongan darahnya apa.
Apalagi untuk umat islam, memperbaiki diri itu hukumnya wajib ain. Bukankah setiap Muslim dituntut untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Hadis Rasulullah yang sangat populer menyatakan, ‘‘Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung”. Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka.”
Bubur Asyura Tradisi Suku Banjar Memperingati 10 Muharram
Sore
menjelang maghrib 10 Muharram 1435 H/16 November 2013 M
“Bubur
Asyuranya ding” (bubur asyuranya dek) seketika aku menoleh pada pemilik suara
tadi, berbalik arah setelah selesai mengunci pintu toko usaha keluarga ini.
Sejenakku amati pemilik suara itu berpeci, baju koko lengkap dengan sarungnya
sambil mengulurkan satu mangkuk kecil berisi bubur asyura dalam plastik.
“Gasan ulun
kah?” (buat saya?) balasku yang keheranan.
“iya gasan
ading” (iya, buat adek)
“Dari mana
ini? Ooo pesantren tahfidz dihiga ulun yang bubuhan hadramaut itu kah?” (Dari
mana ini? Dari pesantren tahfidz disebelah (yang dipangku orang-orang lulusan
Hadramat, Yaman, Timur tengah ) ya?) tanyaku lagi yang baru mengerti sosok ini datang
dari mana.
“Inggih”
(iya)
“Makasih
lah” (Terima kasih)
Pulang
kerumah sudah ada 2 mangkuk bubur asyura juga di atas meja makan¸wah wah bukan
aku saja yang dapat bubur asyura nih. Ibu yang membuat bubur dengan ibu-ibu
pengajian membawa bubur yang telah dibuat bersama-sama dan kakak yang dapet
bubur dari surau sebelah.
Apaan sih
bubur asyura? Kok 10 muharram malah bagi-bagi bubur? Kan anjurannya puasa kok
malah pada makan bubur?
Eeeiiitss jangan
salah paham dulu nih. Itu bubur juga dimakannya setelah adzan maghrib lah. Ini adalah
tradisi masyarakat banjar melayu yang memang dari jaman beauhula sudah
dilakukan. Sejarahnya gimana sih? Dan kenapa harus bubur coba? Kenapa bukan
soto banjar atau ketupat kandangan sekalian? Kan katanya ini adalah budaya yang
turun temurun, makanan khas kalsel kan yang paling trend soto banjar sama
ketupat kandangan. Wah kenapa ya? Kita tilik langsung aja deh asal usul bubur
asyura ini.
Di kalangan suku Banjar yang merupakan muslim Sunni di Kalimantan, Hari
Asyura diperingati dengan membuat bubur Asyura yang terbuat dari beras dan campuran
41 macam bahan yang berasal dari sayuran, umbi-umbian dan kacang-kacangan.
Bubur Asyura tersebut akan disajikan sebagai hidangan berbuka puasa sunah Hari Asyura.
Asyura merupakan peringatan hal-hal di bawah ini
dimana Muslim, khususnya Sunni percaya terjadi pada tanggal 10 Muharram.
·
Bebasnya Nabi Nuh dan
ummatnya dari banjir besar.
·
Nabi Ibrahim selamat dari
apinya Namrudz.
·
Kesembuhan Nabi Yakub dari
kebutaan dan ia dibawa bertemua dengan Nabi Yusuf pada
hari Asyura.
·
Nabi Musa selamat dari pasukan
Fir'aun saat menyeberangi Laut Merah.
·
Nabi Isa diangkat ke surga setelah
usaha Roma untuk menangkap dan menyalibnya gagal.
Pembuatan bubur asyura ini diperingati untuk mengenang sekaligus
mengambil hikmah dari berbagai peristiwa bersejarah bagi kaum Muslim sejak Nabi Adam alaihi salam (AS), manusia
pertama yang diciptakan Allah SWT hingga kenabian Muhammad SAW, rasul terakhir
sampai akhir zaman.
Disebutkan dalam kitab:
1. Nihayatuz Zain (Syeikh Nawawi)
2. Nuzhatul Majalis (Syeikh Abdul Rahman Al-Usfuri)
3. Jam’ul Fawaid ( Syeikh Daud al-Fatani)
Bahwa ketika bahtera Nabi Nuh berlabuh di Bukit Judi, baginda menyuruh kaumnya mengumpullkan barang makanan yang ada. Antara bahan yang dapat dikumpulkan ialah kacang baqila’/ kacang ful, kacang adas, ba’ruz , tepung , kacang hinthoh dan lain-lain. Semuanya ada tujuh jenis bijian lalu dimasak.
Dalam syair Imam Ibnu Hajar al-Asqalani pula dinyatakan:
“Pada Hari ‘Asyura ada 7 yang dimakan yaitu gandum (tepung),
beras, kemudian kacang mash (kacang kuda), dan kacang adas (kacang dal). Dan
kacang himmash (kacang putih), dan kacang lubia (sejenis kacang panjang) dan
kacang ful.”
Tentunya karena bukan hadis nabi yang shahih tradisi ini
bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat Sunnah Rasul namun tidaklah jadi
kesalahan kepada siapa saja yang ingin memasak, menjamu atau memakan bubur yang
dinamakan bubur ‘Asyura itu. Sementara
itu, sejumlah ulama atau pemuka agama Islam suku Banjar selalu mengingatkan,
pembuatan bubur asyura bukan perintah Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW,
tapi hanya sebuah tradisi. Oleh karena itu kaum Muslim berhati-hati dalam menyikapi
hari asyura ataupun niat dalam pembuatan bubur asyura agar jangan sampai
menimbulkan kesyirikan atau kemusyrikan. Pergunakan tradisi ini untuk
memperolah pahala
bersilaturrahim, pahala bergotong-royong, pahala memberi orang makan, dan
menunjukkan indahnya persaudaraan umat Islam.
Wallahu’alam bi shawab
Pahlawan Lahir Dari Kegagalan Masa Lalu (untuk melanjutkan mimpi yang belum selesai)
Nasihat kepahlawanan oleh Ustadz Anis Matta :
Membebaskan konstantinopel bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang pemuda berusia 23 tahun setangguh Muhammad Al-Fatih Murad. Pembebasan pusat kekuasaan Imperium Romawi itu, kata orientalis Hamilton gibb, adalah mimpi delapan abad dari kaum muslimin. Semua serangan gagal meruntuhkan perlawanan kota itu sepanjang abad-abad itu. Dan serangan-serangan awal Muhammad Al-Fatih Murad juga mengalami kegagalan. Kegagalan itu sama dengan kegagalannya sebagai pemimpin negara, ketika pada usia 16 tahun ayahnya menyerahkan kekuasaan kepadanya.
Akan tetapi, bila Muhammad Al-Fatih kemudian berhasil merebut kota itu, kita memang perlu mencatat pelajaran ini: “Bagaimana seorang pahlawan dapat melampaui kegagalan-kegagalannya dan merebut takdirnya sebagai pahlawan?”
Rahasia pertama adalah mimpi yang tidak selesai. Kegagalan adalah perkara teknis bagi sang pahlawan. Kegagalan tidak boleh menyentuh sedikit pun wilayah mimpinya. Mimpi tidak boleh selesai karena kegagalan. “Dan tekad seperti ini akan merubah rintangan dan kesulitan menjadi sarana mencapai tujuan,” kata Said bin Al-Musayyib.
Begitulah, tekad mereka melampaui kegagalan, sampai rintangan yang menghadang jalannya tak sanggup menatap tekadnya, maka ia tunduk, lalu memberinya jalan menuju penghentian terakhir dari mimpinya. “Kalau tekad seseorang benar adanya, maka jalan menuju tujuannya pastilah jelas,” kata pepatah Arab.
Rahasia kedua adalah semangat pembelajaran yang konstan. Seorang pahlawan tidak pernah memandang dirinya sebagai Superman atau Malaikat. Ia tetaplah manusia biasa. Dan kegagalan merupakan bagian dari tabiat kehidupan manusia, maka ia “memaafkan” dirinya untuk kegagalan itu. Namun, ia tidak berhenti sampai disitu. Kegagalan adalah objek pengalaman yang harus dipelajari, untuk kemudian dirubah menjadi pintu kemenangan. Demikianlah seharusnya kita mendefenisikan pengalaman: bahwa ia adalah investasi pembelajaran yang membantu proses penyempurnaan seluruh faktor keberhasilan dalam hidup.
Rahasia ketiga adalah kepercayaan pada waktu. Setiap peristiwa ada waktunya, maka setiap kemenangan ada jadwalnya. Ada banyak rahasia yang tersimpan dalam rahim sang waktu, dan biasanya tidak tercatat dalam kesadaran kita. Akan tetapi, para pahlawan biasanya mempunyai cara lain untuk mengenalinya, atau setidaknya meraba-rabanya, yaitu firasat. Mereka “memfirasati zaman” walaupun ia mungkin benar mungkin salah, tetapi ia berguna untuk membentuk kecendrungannya. Firasat bagi mereka adalah faktor rasional. Perhitungan-perhitungan rasional harus tetap ada, tetapi keputusan untuk melangkah pada akhirnya bersifat intuitif. Begitulah akhirnya takdir kepahlawanan terjembatani dengan firasat untuk sampai ke kenyataan.
Namun, masalahnya sesungguhnya bukan disitu. Inti persoalannya ada pada goncangan jiwa yang mungkin ditimbulkan oleh musibah tersebut. Goncangan jiwa itulah yang biasanya mengubah arah kehidupan seseorang. Sebab, musibah itu mungkin menghilangkan kepercayaan dirinya, membabat image dirinya ditengah lingkungannya, membabat habis harapah-harapan dan ambisi-ambisinya serta menyemaikan keputusasaan dalam dirinya. Jalan yang dihadapannya seperti menjadi buntu dan langit kehidupan menjadi gelap, maka mimpi kepahlawanannya seperti gugur satu demi satu.
Akan tetapi, para pahlawan selalu menemukan celah dibalik kebuntuan, dan memiliki secercah cahaya harapan dibalik gelapnya kehidupan. Yang pertama mereka lakukan saat musibah itu datang adalah mempertahankan ketenangan. Sebab, inilah akar keseimbangan jiwa yang membantu seseorang melihat panorama hidup secara proposional. Keseimbangan jiwa inilah yang membuat seseorang tegar didepan goncangan-goncangan hidup.
Yang kedua adalah mempertahankan harapan. Sebab, harapan, kata Rasulullah saw, adalah rahmat Allah bagi umatku. Jika bukan karena harapan, takkan ada orang yang mau menanam pohon dan takkan ada ibu yang mau menyusui anaknya. Harapan adalah buah dari kepercayaan kepada rahmat Allah SWT dan juga kepada kemampuan Allah SWT melakukan semua yang ia kehendaki.
Yang ketiga adalah mempertahankan keberanian. Dan keberanian adalah buah dari kepercaan diri yang kuat dan juga anak yang lahir dari tekad baja. Keberanian dibutuhkan untuk menembus keterbatasan-keterbatasan pada ruang gerak dan hambatan yang tercipta akibat perubahan pada image.
Yang keempat adalah mempertahankan semangat kerja di tengah keterbatasan-keterbatasan itu. Dalam banyak kasus, keterbatasan-keterbatasan justru membantu memberikan fokus pada arah dan target serta konsentrasi yang kuat. Yang kita lakukan disini adalah memenuhi ruang yang tersedia dengan amal dan karya.
Begitulah para pahlwan mensiasati musibah. Maka, kebutaan tidak dapat menghambat Syeikh Abdul Aziz bin Baz merebut takdirnya sebagai ulama besar abad ini. Ketulian juga gagal mencegat perjalanan Mustafa Shadiq Al-Rafi'i menuju puncak, sebagai salah satu sastrawan muslim terbesar abad ini. Dan kelumpuhan menyerah didepan tekad baja Syeikh Ahmad Yasin yang menjadi mujahid besar abad ini, bukan saja dalam melawan kebiadaban israel, tetapi bahkan menentang dunia.
Anis Matta
Jangan pernah menyangka bahwa seseorang pahlawan selalu meraih prestasi-prestasinya dengan mulus, atau bahkan tidak pernah mengenal kegagalan. Kesulitan-kesulitan adalah rintangan yang diciptakan oleh sejarah dalam perjalanan menuju kepahlawanan. Karena itu, peluang kegagalan sama besarnya dengan peluang keberhasilan. “Kalau bukan karena kesulitan, maka semua orang akan menjadi pahlawan,” kata seorang penyair Arab, Al-Mutanabbi.
Membebaskan konstantinopel bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang pemuda berusia 23 tahun setangguh Muhammad Al-Fatih Murad. Pembebasan pusat kekuasaan Imperium Romawi itu, kata orientalis Hamilton gibb, adalah mimpi delapan abad dari kaum muslimin. Semua serangan gagal meruntuhkan perlawanan kota itu sepanjang abad-abad itu. Dan serangan-serangan awal Muhammad Al-Fatih Murad juga mengalami kegagalan. Kegagalan itu sama dengan kegagalannya sebagai pemimpin negara, ketika pada usia 16 tahun ayahnya menyerahkan kekuasaan kepadanya.
Akan tetapi, bila Muhammad Al-Fatih kemudian berhasil merebut kota itu, kita memang perlu mencatat pelajaran ini: “Bagaimana seorang pahlawan dapat melampaui kegagalan-kegagalannya dan merebut takdirnya sebagai pahlawan?”
Rahasia pertama adalah mimpi yang tidak selesai. Kegagalan adalah perkara teknis bagi sang pahlawan. Kegagalan tidak boleh menyentuh sedikit pun wilayah mimpinya. Mimpi tidak boleh selesai karena kegagalan. “Dan tekad seperti ini akan merubah rintangan dan kesulitan menjadi sarana mencapai tujuan,” kata Said bin Al-Musayyib.
Begitulah, tekad mereka melampaui kegagalan, sampai rintangan yang menghadang jalannya tak sanggup menatap tekadnya, maka ia tunduk, lalu memberinya jalan menuju penghentian terakhir dari mimpinya. “Kalau tekad seseorang benar adanya, maka jalan menuju tujuannya pastilah jelas,” kata pepatah Arab.
Rahasia kedua adalah semangat pembelajaran yang konstan. Seorang pahlawan tidak pernah memandang dirinya sebagai Superman atau Malaikat. Ia tetaplah manusia biasa. Dan kegagalan merupakan bagian dari tabiat kehidupan manusia, maka ia “memaafkan” dirinya untuk kegagalan itu. Namun, ia tidak berhenti sampai disitu. Kegagalan adalah objek pengalaman yang harus dipelajari, untuk kemudian dirubah menjadi pintu kemenangan. Demikianlah seharusnya kita mendefenisikan pengalaman: bahwa ia adalah investasi pembelajaran yang membantu proses penyempurnaan seluruh faktor keberhasilan dalam hidup.
Rahasia ketiga adalah kepercayaan pada waktu. Setiap peristiwa ada waktunya, maka setiap kemenangan ada jadwalnya. Ada banyak rahasia yang tersimpan dalam rahim sang waktu, dan biasanya tidak tercatat dalam kesadaran kita. Akan tetapi, para pahlawan biasanya mempunyai cara lain untuk mengenalinya, atau setidaknya meraba-rabanya, yaitu firasat. Mereka “memfirasati zaman” walaupun ia mungkin benar mungkin salah, tetapi ia berguna untuk membentuk kecendrungannya. Firasat bagi mereka adalah faktor rasional. Perhitungan-perhitungan rasional harus tetap ada, tetapi keputusan untuk melangkah pada akhirnya bersifat intuitif. Begitulah akhirnya takdir kepahlawanan terjembatani dengan firasat untuk sampai ke kenyataan.
Seperti juga kegagalan, ada bentuk lain dari rintangan yang menghadang seorang pahlawan. Musibah. Yang dimaksud musibah disini adalah semua bencana yang menimpa sesorang yang mempengaruhi seluruh kepribadiannya dan juga jalan hidupnya. Misalnya, kematian orang terdekat seperti yang dialami Rasulullah saw saat meninggalnya Khadijah ra dan Abu Thalib. Yang sangat berat dari musibah-musibah itu adalah menimpa fisik dan mempengaruhi ruang gerak seorang pahlawan. Misalnya, kebutaan, ketulian, atau kelumpuhan. Kenyataan seperti ini tentu saja membatasi ruang gerak dan menciptakan keterbatasan-keterbatasan lainnya.
Namun, masalahnya sesungguhnya bukan disitu. Inti persoalannya ada pada goncangan jiwa yang mungkin ditimbulkan oleh musibah tersebut. Goncangan jiwa itulah yang biasanya mengubah arah kehidupan seseorang. Sebab, musibah itu mungkin menghilangkan kepercayaan dirinya, membabat image dirinya ditengah lingkungannya, membabat habis harapah-harapan dan ambisi-ambisinya serta menyemaikan keputusasaan dalam dirinya. Jalan yang dihadapannya seperti menjadi buntu dan langit kehidupan menjadi gelap, maka mimpi kepahlawanannya seperti gugur satu demi satu.
Akan tetapi, para pahlawan selalu menemukan celah dibalik kebuntuan, dan memiliki secercah cahaya harapan dibalik gelapnya kehidupan. Yang pertama mereka lakukan saat musibah itu datang adalah mempertahankan ketenangan. Sebab, inilah akar keseimbangan jiwa yang membantu seseorang melihat panorama hidup secara proposional. Keseimbangan jiwa inilah yang membuat seseorang tegar didepan goncangan-goncangan hidup.
Yang kedua adalah mempertahankan harapan. Sebab, harapan, kata Rasulullah saw, adalah rahmat Allah bagi umatku. Jika bukan karena harapan, takkan ada orang yang mau menanam pohon dan takkan ada ibu yang mau menyusui anaknya. Harapan adalah buah dari kepercayaan kepada rahmat Allah SWT dan juga kepada kemampuan Allah SWT melakukan semua yang ia kehendaki.
Yang ketiga adalah mempertahankan keberanian. Dan keberanian adalah buah dari kepercaan diri yang kuat dan juga anak yang lahir dari tekad baja. Keberanian dibutuhkan untuk menembus keterbatasan-keterbatasan pada ruang gerak dan hambatan yang tercipta akibat perubahan pada image.
Yang keempat adalah mempertahankan semangat kerja di tengah keterbatasan-keterbatasan itu. Dalam banyak kasus, keterbatasan-keterbatasan justru membantu memberikan fokus pada arah dan target serta konsentrasi yang kuat. Yang kita lakukan disini adalah memenuhi ruang yang tersedia dengan amal dan karya.
Begitulah para pahlwan mensiasati musibah. Maka, kebutaan tidak dapat menghambat Syeikh Abdul Aziz bin Baz merebut takdirnya sebagai ulama besar abad ini. Ketulian juga gagal mencegat perjalanan Mustafa Shadiq Al-Rafi'i menuju puncak, sebagai salah satu sastrawan muslim terbesar abad ini. Dan kelumpuhan menyerah didepan tekad baja Syeikh Ahmad Yasin yang menjadi mujahid besar abad ini, bukan saja dalam melawan kebiadaban israel, tetapi bahkan menentang dunia.
Anis Matta
Diamlah sebentar
Ssssstt…. Diamlah
sebentar
Pejamkan mata sejenak
Rasakan desau angin
berhembus
Biarkan menyapa
lembut
Sssst … duduklah
sejenak kalau kau lelah
Nikmatilah masa
sepimu,
Disini telah jauh
dari hiruk pikuk
Tak akan ada yang tau
Ssssttt… Pandanglah
sejenak disekitarmu
Hijau padang rumput
Embun menjelma kabut
Perahu tertambat
disungai sana
Ssssstttt… Perhatikan
lagi dengan seksama
Sungguh indah langit
di atas sana
Betapa sempurna
ciptaan-Nya
Stttttt Borneo…. Aku datang lagi
Untuk menyapamu
kembali
Tak akan pernah pergi
lagi
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)









