Agama, Bukan Sekedar Persoalan Fanatisme dan Doktrin Belaka

Kamis, 02 April 2015

| | |
Oleh : Rosmayani Nor Latifah

            Dalam kehidupan yang telah berlangsung selama ribuan tahun lamanya satu topic yang bernama “Agama” tampaknya tak pernah habis untuk diperbincangkan, diperdebatkan dan dicari kebenarannya. Terdapat 2 (Dua) kelompok besar segolongan manusia yang dapat dibedakan menjadi mereka yang biasa disebut sebagai kelompok beragama, percaya bahwa seluruh tata kehidupan di dunia ini diatur sedemikian rupanya oleh Yang Maha Kuasa yaitu Tuhan. Percaya pada Tuhan yang satu disebut monoteisme dan yang perccaya pada banyak Tuhan disebut politeisme. Sedangkam kelompok yang mengusung nilai-nilai relativitas dan materi, percaya segala yang terjadi di dunia ini mengalir dengan sendirinya tanpa campur tangan siapapun dan tidak percaya dengan Kuasa Tuhan adalah mereka yang biasa disebut sebagai kaum atheis.

            Di Barat Agama adalah fanatisme, kata para sosiolog. Bahkan ketika seorang selebritinya mengatakan “My religion is song, sex, sand and champagne” juga masih dianggap waras. Mungkin ini yang disinyalir Al-Qur’an ara’ayta man ittakhadha ilaahahu hawaahu (QS 25:43) yang berarti “Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai Tuhannya”. Pada dataran diskursus akademika, makna religion di Barat memang problematic. Bertahun-tahun mereka mencoba mendefinisikan religion  tapi gagal.[1]

            Begitu banyak definisi yang mencoba menyingkap makna agama yang sebenarnya menjadi buktinya nyata bahwa terdapat kebingungan yang kompleks ketika mereka mendefinisikan agama hanya berdasarkan akal, emosi, pengalaman dan intuisi saja.

            F. Schleiemer kemudian mendefinisikan agama dengan tidak terlalu doktriner, agama adalah “Rasa ketergantungan yang absolute” (Feliing of absolute dependence). Demikian pula Whithehead, agama adalah “Apa yang kita lakukan dalam kesendirian”. Tapi bagi pakar psikolog, agama justru harus diartikan dari faktor kekuatan kejiwaan manusia ketimbang faktor sosial dan intelektual. Para sosiolog Barat nampaknya trauma dengan makna agama yang doktriner, sehingga tidak peduli dengan aspek ekstrasosial, ekstrasosiologis ataupun ekstrapsikologis. Aspek imanisme lebih dipentingkan daripada aspek transedensi.[2]

Seiring dengan berjalannya waktu beberapa keyakinan akan mulai terjadi perubahan paradigm berdasar pada banyaknya spekulasi tentang Tuhan di kalangan kaum Yahudi dan Kristen. Berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh Kristen dan Yahudi membuat mereka berlepas dari Wahyu yang merupakan satu-satunya petunjuk dari Tuhan. Inilah yang membuat konsep beragama mereka menjadi salah kaprah.

            Sejatinya, akar kebingungan Barat mendefinisikan religion karena konsep Tuhan yang bermasalah. Agama Barat – Kristen – kata Amstrong dalam History of God justru banyak berbicara Yesus Kristus ketimbang Tuhan. Padahal, Yesus sendiri tidak pernah mengklaim dirinya suci, apalagi Tuhan.[3]
            Padahal menurut Penjelasan Endang Saifuddin Anshari menegaskan bahwa disebut agama jika setidaknya memiliki 3 (tiga) hal, yakni 1) tata keyakinan (sistema credo; 2) tata peribadatan (sistema ritus); 3) tata kaidah (sistema norma).[4] Maka, tidak dapat disebut agama jika tidak memenuhi ketiga syarat tersebut. Ketiga syarat tersebut haruslah berjalan beriringan tanpa terkecuali salah satunya. Apalagi jika hanya beranggapan bahwa agama hanyanya serangkaian fanatisme dan doktrin belaka.
            Islam adalah agama metahistoris, bukan historis. Konsep-konsep mendasarnya (Tuhan, Nabi, wahyu, Kiamat, Peribadatan) tidak berubah sepanjang masa. Ketika Kristen mengalami pergeseran konsep Tuhan, keselamatan, ibadah, seperti pada saat Konsili Toledo III di Spanyol 586 M dan Konsili Vatikan II (1962-65), maka yang tersisalah Islam yang masih genuine dengan konsep-konsep dasarnya yang tidak pernah berubah di mmeja Konsili, laksana agama Barat yang terjatuh kepada agama kebudayaan ,buatan dalam pengemalaman sejarah, terkandung dalam sejarah.[5]

Islam menjadi satu-satunya agama yang masih terjaga kemurnian Wahyunya. Dalam Al-Qur’an Surat Al Imran ayat 19 Innadinna ‘Indallahil Islam bahwa Allah telah menegaskan bahwa Sesungguhnya agama yang diridhai Allah hanyalah Islam. Arti kata Agama atau bahkan Religion terlalu sempit untuk sebuah arti kata Addin. Addin dapat bermakna berserah diri, Taat, keberhutangan ataupun kecenderungan. Sehingga dalam ayat tersebut mengandung maksud sesungguhnya jalan yang diridhai Allah hanyalah berserah diri kepada Allah. Ini membuktikan bahwa Islam adalah murni Agama wahyu atau yang biasa disebut metahistoris.




[1] Hamid Fahmy Zarkasyi, Misykat, Refleksi tentang Islam, Westernisasi dan Liberalisasi, Jakarta: INSISTS, Cet. I, 2012, hlm. 20

[2] Hamid Fahmy Zarkasyi, Misykat, Refleksi tentang Islam, Westernisasi dan Liberalisasi, Jakarta: INSISTS, Cet. I, 2012, hlm. 20-21
[3] Hamid Fahmy Zarkasyi, Misykat, Refleksi tentang Islam, Westernisasi dan Liberalisasi, Jakarta: INSISTS, Cet. I, 2012, hlm. 21
[4] Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama: Pendahuluan, Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi, Surabaya :: PT. Bina Ilmu, 1979, hlm. 126-127
[5] Norman P. Tanner, Konsili-Konsili Gereja, Yogyakarta: Kanisius, 2003, hlm. 35-41.

0 komentar: